//Sequel Ripple//
[Rumah Untukmu Pulang]
Mencintaimu sepadan dengan semua rasa sakit ini jadi biarkan aku tetap memeluknya erat sampai hari dimana aku tidak bisa lagi menggenggam harapan.
"Mari kembali jatuh cinta dan melakukannya dengan benar di la...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Maaf sempat pergi dan bikin semuanya jadi berantakan. Tapi jangan sungkan bertumpu lagi sama gue anak-anak. -Mahendra Vega-
~••~
Langit Cafe benar-benar berubah dan sangat berbeda dari sebelumnya. Tapi meskipun begitu ternyata masih ada sebuah ruangan di lantai dua yang tidak berubah sama sekali. Basecamp mereka. Mulai dari warna cat sampai isinya masih seperti sebelumnya, namun melihat ruangan ini begitu rapi sepertinya mereka jarang sekali berkunjung.
Mahendra akhirnya pulang setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Meskipun berakhir sebagai kenangan tapi masa putih abu-abu bersama dengan mereka semua terasa begitu nyata disini. Ternyata selain rumah besar Adinata tempat ini juga semakin sepi, seolah tempat ini tidak berarti apa-apa bagi mereka semua.
Mahendra menatap lamat-lamat satu per satu potret mereka bertujuh dengan senyuman yang begitu lebar. Pada akhirnya semua akan berlalu dan menjadi memori di kepala. Tidak ada apapun yang bertahan selamanya di dunia tapi Mahendra ingin sekali lagi merasakan kehangatan itu hadir diantara mereka.
Enam tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk semua kekacauan yang ada. Mulai dari keberangkatan Nathan ke New York hingga terakhir kepergiannya ke Chicago. Banyak yang berubah tapi bagaimanapun Mahendra tidak ingin mereka berakhir menjadi orang asing.
Sekali lagi Mahendra ingin memperjuangkan mereka bertujuh, dia akan berusaha lebih keras lagi kali ini. Ada ikatan yang begitu kuat dirinya perjuangan selain cinta, persahabatan. Jadi dia akan memulainya dari awal dan menata kembali banyak hal yang berantakan.
Tidak lama pintu terbuka dan menampilkan wajah Alvarendra. Dia masih sama, masih dengan wajah penuh senyuman yang menenangkan.
"Akhirnya setelah sekian lama gue bisa nemuin wajah lo lagi dibalik pintu ini."
Mahendra hanya membalas ucapan Alva dengan senyum tak kalah lebar, dia juga sangat rindu situasi seperti ini. Lantas Alvarendra masuk disusul dengan Erlang juga Samudra yang langsung berhamburan ke pelukan Mahendra.
Sementara Bintang, Nathan dan Gabriel masih terpaku di luar pintu, ini seperti mimpi bagi mereka melihat kehadiran Mahendra di ruangan ini kembali seolah sebuah kemustahilan setelah apa yang mereka lalui. Sudah berlalu sangat lama sampai seolah mereka lupa bagaimana caranya bereaksi.
Nathan yang lebih dulu masuk dan memeluk Mahendra erat, dia sangat rindu pelukan ini. Meskipun mereka sempat bertemu saat acara pertunangan Gabriel tapi tempat itu tidak membuat mereka leluasa menyampaikan rindu pada diri masing-masing jadi akan mereka sampaikan sekarang.
"Kalian berdua mau sampai kapan berdiri disana?"
Seruan Alva membangunkan Bintang dan Gabriel dari lamunan mereka, keduanya saling pandang cukup lama dan terkekeh bersama setelahnya. Akhirnya mereka juga bergabung dengan yang lain meramaikan ruangan yang hampir mati ini. Ruangan yang pada akhirnya mereka biarkan tetap ada meskipun rasanya tidak semenyenangkan sebelumnya.
Malam ini, setelah sekian banyak malam mereka lalui dengan saling menjauh satu sama lain akhirnya bisa mereka rasakan kembali gelak tawa yang sempat pudar. Akhirnya bisa mereka berikan lagi hangatnya pelukan masing-masing dan Mahendra berjanji untuk berusaha sekuat tenaga menjaga genggaman tangan ini agar tidak terlepas kembali.
"Jadi ada cerita apa aja selama gue tinggal?"
Semuanya terdiam saling pandang ragu untuk membuka suara karena bingung memulainya dari mana.
"El udah jadi presiden direktur, Bintang juga sama, Nathan jadi direktur marketing, Sam berhasil jadi lawyer, Erlang juga hebat lo berani jadi guru seni dan percaya sama kemampuan lo dan Alva lo bikin gue kaget dengan club itu. Tapi gue ngerasa itu semua bukan hal yang perlu kalian ceritain ke gue terlepas gue emang bangga banget sama pencapaian kalian, so ada hal yang mau kalian bagi?"
"Ada, Bang."
Samudra membuka suara dengan wajah sedikit menjengkelkan, ini adalah kebiasaan buruknya yakni membocorkan banyak hal yang seharusnya tidak sampai ke telinga siapapun. Dan yang paling was-was diantara semuanya adalah Bintang dan Gabriel.
"Bang El sama Bang Bintang habis berantem dua bulan lalu."
Gabriel memejamkan matanya erat sedangkan yang lain justru terkekeh geli mendengarnya, mereka menahan diri untuk tidak tertawa sekarang.
"Dan masalahnya cuma perkara ceweknya Bang El dibawa ke Jepang buat kerja."
Mahendra menatap aneh ke arah Gabriel, yang benar saja?
"Lo milih diem atau gaji lo gue potong, Sam?!" suara rendah dari Gabriel justru membuat Samudra semakin gencar meledeknya.
"Yang gaji gue Bang Bintang."
"Dia bahkan nonjok pipi gue, Bang," Bintang ikut mengadu sontak yang lain meledakkan tawanya.
"Yang paling gue inget pas dia nanya ke stafnya Bintang tapi cuma dibales yang tau jadwal Pak Bintang sekertarisnya langsung kalang kabut dia."
"Ya gimana gak makin bingung justru sekertarisnya Bintang yang lagi di cariin."
Nathan dan Alva membuat keadaan Gabriel semakin terpojok. Sementara yang menyulut api hanya tertawa geli disamping Nathan.
"Lihat aja lo, Sam! Gue sumpahin jadi bucin tolol habis ini."
"Selama gak nice try gue akan terima sumpah serapah lo dengan lapang dada."
Nathan yang seolah tersindir menimpuk Samudra dengan sebungkus snack dihadapannya dan yang lain semakin meledakkan tawa melihatnya.
"Tapi gue jadi pengen tahu soal Amora itu deh, Nat. Dia adek tingkat kita waktu di Imanuel, kan?" ucapan Alvarendra membuat tawa mereka berangsur mereda.
"Waduh udah sampai kuping lo, Al?"
"Lo jangan menyulut emosi, El! Gue nyariin dia berapa tahun anjir?"
"Dan gue yang berhasil bantu lo!"
"Makasih."
Nathan menjawab ucapan Samudra dengan ketus, masih kesal rupanya. Tapi Samudra seolah tidak begitu peduli dan justru tertawa gemas. Mendengar nama itu Mahendra kemudian menatap Nathan dan Bintang bergantian.
"Maksudnya Amora Vienna?"
Yang lain mengangguk sementara Bintang justru memandang kakaknya dengan seulas senyum tipis.
"Bukannya dia kerja di Adinata, Ta?"
"Enggak dia kerja di WGT."
"Tunggu, jadi kalian tahu soal ini?"
"Gue tau," Bintang mengatakannya dengan mantap sambil menatap Nathan.
"Dan lo gak kasih respon apapun soal dia padahal gue udah sering banget ngomongin dia?"
"Emang dia mau ketemu sama lo? Nyatanya tadi dia kabur dan gak mau ketemu sama lo padahal lo sendiri udah nungguin dia pemotretan, kan?"
Tepat sasaran. Bintang mengatakannya dengan tenang tapi Nathan seolah di hantam dengan sebilah pisau yang tajam.
"Ceritain detail, Ta!"
Permintaan Gabriel hanya dibalas gelengan dari Bintang. Dia memang tahu tapi harus ada orang lain yang ikut menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Kita butuh Ren, dia yang lebih paham."
"Jadi lo bisa nemuin informasinya karena dibantu Bintang?"
Samudra menggelengkan kepalanya kuat, "Gue bahkan baru tahu kalau Bang Bintang ikut terlibat atas hilangnya pujaan hati lo."
"Hiperbola anjing!"
Kita urus semuanya bareng-bareng mulai sekarang, kita saling bantu lagi mulai hari ini.