14# Sunset Beautiful Isn't It?

48 6 1
                                        

Peluk aku lebih dari sekedar teman untuk malam ini saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Peluk aku lebih dari sekedar teman untuk malam ini saja.
-Nathaniel Oretha-

~••~

Pukul dua dini hari, Nathan baru saja menutup matanya setelah menyelesaikan tumpukan berkas di meja kerjanya dan suara panggilan telpon membuatnya ingin memberikan berbagai macam bogeman untuk orang itu. Yang benar saja ini masih terlalu pagi untuk membahas apapun, tidak bisakah orang itu berempati padanya sedikit saja?

Nathan mengangkat panggilan itu dengan perasaan dongkol setelah sambungan ketiga terdengar, matanya masih sangat berat untuk di buka tapi suara berisik itu mengganggu tidurnya.

"Halo?"

Sapaan ketus itu disambut kekehan seseorang, suaranya tidak asing tapi Nathan masih tidak bisa berpikir jernih selain berusaha tetap waras diambang kesadarannya.

"Nat, ini gue."

Matanya terbelalak kaget, suara itu, jika Nathan tidak salah ingat ini suara Mahendra. Sudah dua tahun pria itu menghilang hampir saja Nathan melupakan suaranya.

"Bang Mahen?"

Nathan melihat nomor si penelepon untuk memastikan tapi yang dia temukan bukan nomor asing atau nomor lama Mahendra, ini milik Selena. Apakah gadis itu melakukan perjalanan ke Chicago lagi?

"Iya ini gue, apa kabar?"

"Bang! Ah elah anjing banget sih lo! Ini jam dua pagi asal lo tau!"

"Disini masih sore makanya gue telpon."

"Minimal otak lo di pakek! Kesel banget gue, bingungkan jadinya mau seneng apa marah lo telpon kayak gini."

Suara tawa diujung telpon membuat perasaan Nathan semakin dongkol tapi juga senang di satu waktu. Kabar baik di waktu yang salah.

"Gue dapat undangan dari El, nikahannya dua minggu lagi kan?"

"Nikahan apa?" dahinya mengernyit bingung melupakan sesuatu, otaknya berusaha bekerja keras tapi Nathan masih belum ingat apapun.

"Beneran masih ngantuk ternyata, gue mau balik Jakarta jadi tolong bilang sama El gue bakal dateng ya. Lo tidur lagi deh, besok gue kasih kabar."

Panggilan dimatikan sepihak dan Nathan baru mengingat sesuatu, demi Tuhan dia benar-benar lupa akan skenario yang dirinya buat sendiri. Untung saja Mahendra beranggapan Nathan masih setengah sadar.

Lantas setelah mengumpulkan kepingan-kepingan kesadaran yang masih berceceran Nathan menyadari sesuatu dari pembicaraan singkat dengan Mahendra.

"Kalau dia dateng itu berarti Rere akan ketemu, rencana gue berarti berhasil tapi kenapa rasanya malah sakit?"

Nathan menghembuskan napasnya kasar, dia tidak bisa kembali tidur setelah mendengar kabar ini. Meskipun berusaha sekuat tenaga untuk kembali masuk ke alam mimpi pada akhirnya kakinya melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

"Lo tuh harusnya seneng ege! Kenapa malah jadi sedih gini sih ah? Mana sakit banget lagi hati gue."

Nathan berlalu menuju balkon kamarnya setelah memaki-maki dirinya di depan cermin, menikmati dinginnya angin yang menerpa badan menembus kaos tipis yang dirinya kenakan, pukul dua dini hari yang sepi dan pikiran Nathan justru sangat riuh. Dirinya mulai ragu apakah keputusannya untuk sekali lagi membiarkan Mahendra masuk sudah benar? Atau ini akan menjadi keputusan yang salah untuk kedua kalinya?

Setelah menimang-nimang tentang keputusannya Nathan kembali masuk ke kamar dan mengambil jaket juga kunci motor miliknya, tujuannya sekarang adalah apartemen Renika, pukul dua dini hari seperti ini pasti gadis itu belum tidur. Dengan pikiran yang penuh riuh Nathan mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, bersyukur pria itu sampai dengan selamat di basement apartemen meskipun sempat beberapa kali hampir kehilangan keseimbangan.

Pria itu terus melangkahkan kakinya sambil sesekali menelan sesak di dada, dirinya bisa berbohong pada semua orang tapi dia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Sekuat apapun dia mencoba hasilnya masih tetap sama, Nathan bukanlah pemenangnya. Dan kenyataan itu seakan terus menghantamnya sampai ke perut bumi, melebur dan menjadi abu.

"Di cerita ini gue cuma jadi second lead, gak akan pernah bisa bersaing sama main lead karena mau berusaha sampai patah tulang sekalipun pemeran utama akan terus jadi pemenangnya."

Pintu apartemen Renika sudah di depan mata tapi Nathan masih belum sanggup untuk melangkah lebih jauh. Dirinya masih terpaku didepan pintu dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam, bingung akan dirinya kemanakan pembicaraan dengan Renika malam ini.

Setelah waktu yang cukup lama akhirnya Nathan mulai menekan kombinasi sandi apartemen Renika dan bunyi kunci yang terbuka membuatnya seolah kehabisan napas kembali, setelah mengatur gejolak di dadanya Nathan mulai membuka pintu dan hal pertama yang dirinya lihat adalah Renika berdiri dengan bersidekap dada juga kernyitan di kening mungilnya.

"Ada apa lagi sekarang?"

Memang bukan pertama kali Nathan datang tiba-tiba di tengah malam seperti ini, dulu saat di New York dirinya bisa keluar masuk apartemen Renika sampai sepuluh kali dengan banyak sekali alasan klasik. Dan mungkin gadis ini menyadari kehadirannya dengan suara kombinasi angka yang cukup jelas di tengah malam seperti ini.

Nathan tidak menjawab pertanyaan itu, dirinya langsung memeluk gadis di hadapannya erat. Menghirup kuat-kuat aroma jeruk yang menyeruak dari tubuh gadis ini.

Sementara Renika yang masih tidak mengerti ada apa dengan Nathan hanya bisa menepuk pelan punggung pria ini, mencoba memberikan ketenangan meskipun entah apa yang sedang mendera Nathan sekarang.

"Gue mau peluk lo sampai pagi."

"Ada apa?"

"Gue berantakan."

"Mau duduk aja?"

"Nanti dulu, kayak gini bentar lagi ya?"

Renika mengangguk dirinya tidak bisa melakukan apapun selain membalas pelukan Nathan tak kalah erat. Menit demi menit berlalu tapi Nathan masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak.

"Duduk yuk, Na. Lo mau tidur disini aja? Gue ambilin selimut bentar."

Nathan mulai merenggangkan pelukannya tanpa suara namun saat Renika akan beranjak menuju kamarnya Nathan menahan pinggang Renika.

"Buat malam ini aja jangan anggap gue sebagai sahabat lo, tolong anggap gue sebagai cowok lo, gue mohon!"

Nathan menatap dalam pada kedua manik mata Renika yang membuat gadis dihadapannya mengernyit bingung.

"Lo kenapa?"

"Please, gue minta tolong. Masih ada dua jam sebelum matahari terbit, gue janji gak akan lebih dari itu," Renika mengangguk begitu saja, bukan hal sulit baginya.

"Sekarang lo duduk disana gue ambilin selimut, lo mau peluk gue sampai pagi, kan? Sekalian tidur aja disini gue juga ngantuk."

Nathan menurut, melepas cengkraman tangannya dan membiarkan Renika masuk untuk mengambil selimut. Nathan mengusap wajahnya kasar, bingung apakah tindakannya salah atau benar tapi yang pasti dia butuh gadis itu setidaknya sampai matahari terbit hari ini.

Setengah jam berlalu dengan Nathan yang memeluk Renika erat, gadis itu hanya mengusap kepala Nathaniel pelan berusaha menidurkan pria yang dirinya tau sedang tidak baik-baik saja.

"Lo pasti lagi pusing banget ya, Na? Ini udah hampir jam empat dan lo baru tidur, semalem lo kerjain berapa puluh berkas sih? Pasti lembur lagi."

Renika menghembuskan napasnya kasar, "Gue berharap kedepannya lo akan ketemu sama orang yang tepat, sama orang yang cinta sama lo juga. Gue harap kita bisa sembuh bareng-bareng dengan jalan masing-masing."

To be continue...

Scars || Mark LeeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang