27# Coming Home

35 6 0
                                        

Tanpa sadar pada akhirnya gue akan tetap balik ke lo dengan begitu banyak alasan yang gue sendiri gak paham

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tanpa sadar pada akhirnya gue akan tetap balik ke lo dengan begitu banyak alasan yang gue sendiri gak paham.
-Nathaniel Oretha-

~••~

"Harusnya lo gak kasih Bang Mahen kesempatan, Bang."

"Percuma, Sam. Perasaan itu gak bisa dipaksa dan gak bisa diajak kompromi."

"Terus sekarang mau gimana?"

"Nothing. Lo kira gue bisa apa kalau Rere emang maunya sama Bang Mahen?"

Samudra tidak menjawab dan memilih menenggak tequila miliknya. Suara dentuman dari luar ruangan tidak akan pernah sampai ke telinga mereka berdua, ruangan ini kedap suara dan hanya pemilik akses khusus yang bisa masuk. Hari ini adalah hari bahagia untuk Gabriel tapi Nathan tidak bisa benar-benar ikut berbahagia bersama saudara kembarnya.

"Gue dapet informasi soal mantan lo itu, Bang. Namanya Amora Vienna, kan?"

Nathan mengangguk sebagai jawaban lantas menghisap nikotin yang sedari tadi terselip di tangannya.

"Amora Vienna itu salah satu model besutan WGT Models, dia ambil job di California beberapa tahun terakhir tapi masa kontraknya udah habis dan sekarang dia baru tanda tangan kontrak kerja baru sama salah satu desainer di Paris. Gue gak kaget kalau lo gak pernah ketemu dia selama ini tapi yang gue kaget adalah lo itu temen dari pemilik WGT kok bisa lo kecolongan?"

Nathan membeku, bukankah itu artinya selama ini Renika tahu keberadaan Amora? Bukankah seharusnya Renika memberi tahunya padahal Nathan tidak pernah absen menyebutkan nama itu?

"Kak Ren sendiri yang tanggung jawab buat semua proyek kerja sama jadi mustahil lo gak tahu, Bang."

Ini menjengkelkan, sungguh!

"Rere tahu dan dia sembunyiin ini dari gue?"

"Gue rasa ada alasan khusus dia nutupin ini, entah itu karena konflik lo sama Amora atau emang cewek itu punya masalah pribadi lain."

"Terus kapan Amo berangkat ke Paris?"

"Secepatnya, paling lama dia di Indonesia sekitar dua bulan dan dia udah stay disini dari sebulan yang lalu."

Nathan benar-benar ingin mengumpat sekarang, hanya dua bulan? Yang benar saja gadis itu bukan orang asing kenapa justru sangat sebentar berada di tanah air?

"Lo dapet informasi dia tinggal dimana?"

"Gedung apartemen Kak Ren."

"Anjing!"

Sudah di pastikan Renika ada sangkut pautnya dengan ini. Menyebalkan, apa ini artinya Renika mengkhianati persahabatan mereka? Tidak bisa dibiarkan!

Nathan dengan tergesa mencari kontak milik Renika di ponselnya, tapi gerakan tangannya di hentikan oleh ucapan Samudra.

"Kak Ren harus istirahat besok pagi ada rapat besar. Dari pada lo habisin tenaga buat ngomel ke dia mending lo susun rencana buat ketemu sama Amora, lo butuh banget ketemu sama dia, kan?"

"Lo punya informasi apa aja soal dia?"

"Detail, kecuali alasan dia ganti indentitas."

Akhirnya! Setelah sekian lama menunggu hari ini datang juga.

"Kirim ke email gue sekarang, Sam!"

Samudra melakukan apa yang diminta Nathaniel, ini bukan hasil kerja kerasnya saja tapi kerja sama dengan seorang rekan dari kantor Oretha. Mereka cukup muak melihat Nathaniel yang terus merengek menginginkan hal yang sama dan bersyukur akhirnya informasi itu berhasil mereka kumpulkan.

"Makasih banyak, Sam. Bilang sama yang lain juga habis ini gue kasih bonus, gue pamit."

Nathan bangkit meninggalkan Samudra dengan langkah cepat, membiarkan Samudra menikmati tequela miliknya sendirian.

"Setelah ini lo harus sadar siapa yang sebenarnya jadi pusat dunia lo, Bang. Lo harus sadar siapa orang yang lo butuhin, meskipun gue dan yang lain gak ngerti detail hubungan kalian tapi gue yakin dia cukup istimewa buat lo."

Setelah membelah lautan manusia dengan kesadaran hampir nol dan bau alkohol bercampur asap rokok yang begitu kuat Nathan berhasil sampai di mobilnya dengan hembusan napas kasar.

Untuk sesaat dia benar-benar kecewa pada Renika tapi setelah dirinya membaca sekilas email dari Samudra mengenai informasi tentang Amora rasa kecewanya sedikit reda. Gadis itu tidak ingin dikenali, namanya bukan lagi Amora Vienna tapi Ave. Pantas saja sangat sulit menemukan informasi mengenai dirinya.

Dengan kesadaran penuh Nathan mulai menjalankan mobilnya keluar dari area club malam milik Alvarendra. Dia bergegas kembali ke rumah untuk membaca semua informasi dari samudra dengan teliti. Dirinya sudah curiga kalau Amora adalah salah satu penghuni di apartemen itu karena insiden payung tempo hari.

"Semoga kali ini gue gak kecolongan lagi."

Entah mau sampai kapan Renika menyembunyikan keberadaan Amora dan apa sebenarnya tujuan mereka berdua? Nathan ingin tau tapi Samudra benar, hal itu bisa dirinya lakukan lain waktu. Sekarang dirinya harus memikirkan cara untuk meminta maaf pada Amora secara langsung mengenai kesalahannya di masa lalu, dia berharap hubungannya dengan Amora lekas membaik. Amora memang bukan satu-satunya gadis yang dia buat patah hati tapi ternyata menyakiti gadis itu memberikan beban yang begitu kuat untuk batinnya.

"Gue udah nyari lo kemana-mana tapi ternyata lo gak kemana-mana, Amo. Gue cuma perlu balik badan dan lo masih berdiri di tempat yang sama," mobilnya melesat lebih cepat membelah jalanan kota Jakarta yang padat.

Sementara itu di apartemen miliknya Amora sedang memandang keramaian di bawah sana, suasana kota Jakarta memang selalu sama. Mungkin beberapa hal berubah tapi riuhnya masih seperti sebelumnya.

Sekarang Amora sudah kembali, dia pulang. Meski tidak ada gedung pasti yang bisa dirinya sebut rumah tapi Jakarta akan selalu menjadi tempat dirinya pulang. Kota yang menjadi saksi masa kecil hingga remajanya. Meskipun tidak bisa di sebut baik-baik saja, tapi di kota ini Amora belajar banyak hal, banyak sekali sampai tidak bisa dirinya jabarkan satu persatu.

"Satu bulan lagi lo berangkat ke Paris, lo yakin gak akan nyesel sama keputusan itu?"

"Sama kayak keputusan gue ke California sebelumnya, kali ini juga sama."

"Gue tau lo berangkat ke California karena masalah ekonomi tapi bukannya sekarang udah cukup?"

"Kali ini bukan lagi cuma karena ekonomi keluarga tapi perasaan, An."

"Jadi masih soal dia?"

Amora mengangguk membenarkan pertanyaan teman baiknya, ini masih soal dia, Nathaniel Oretha.

"Lo belum bisa move on padahal udah jelas-jelas dia jahat banget sama lo waktu itu? Sekarang kasih tau gue hal apa yang bikin dia begitu istimewa?"

Amora meneguk teh hangat miliknya setelah memberikan seulas senyum pada teman baiknya.

"Dia itu sama kayak Jakarta, An. Meskipun kelihatannya indah tapi dalamnya bising dan berantakan, mungkin gue gak akan nemuin definisi rumah di dalam dirinya tapi kalau gue ketemu sama dia gak tau kenapa rasanya gue kayak pulang, gue ngerasa setelah perjalanan panjang yang bikin capek gue akhirnya bisa istirahat."

"Tapi dia bahkan gak nganggep lo penting."

"Sama kayak Jakarta, kan? Kota ini gak pernah anggep gue penting tapi bagi gue seburuk dan semenyakitkan apapun keadaannya Jakarta tetap tempat gue pulang."

To be continue...

Scars || Mark LeeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang