//Sequel Ripple//
[Rumah Untukmu Pulang]
Mencintaimu sepadan dengan semua rasa sakit ini jadi biarkan aku tetap memeluknya erat sampai hari dimana aku tidak bisa lagi menggenggam harapan.
"Mari kembali jatuh cinta dan melakukannya dengan benar di la...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jika manusia bisa di sebut rumah maka aku ingin menjadi definisi rumah untukmu. -Mahendra Vega-
~••~
Rumah dua tingkat ini nampak sangat kosong, seperti malam-malam sebelumnya orang tuanya lagi-lagi memilih pulang ke Bandung alih-alih menempati rumah yang penuh riuh kenangan sang Mama. Bunda baik dan Renika tidak menampik fakta itu tapi mau bagaimanapun Bunda tetap tidak bisa menggantikan Mama, mau bagaimanapun Mama selalu punya tempat paling istimewa untuknya.
Bunda tidak pernah bersikeras untuk menghilangkan kenangan Mama di dalam rumah ini, wanita itu bahkan selalu memeluknya erat saat melihat Renika menangis karena merindukan ibu kandungnya, tapi tetap saja Bunda dan Mama adalah dua orang yang berbeda. Di beberapa sudut rumah ini masih dapat Renika temui potret sang Mama dengan senyum yang menenangkan berdampingan dengan potret Bunda yang terlihat anggun.
Langkahnya terhenti di sudut meja dekat kamar orang tuanya, ada potret kecil keluarga dengan senyum lebar berdampingan dengan potret yang lain. Foto itu menjelaskan bagaimana dulu keluarga kecil ini begitu hangat, berbeda dengan sekarang yang seolah mereka dikejar sebuah pencapaian yang tanpa sadar menghilangkan tawa penghuninya.
Sementara dibelakang gadis itu Mahendra setia memperhatikan setiap perubahan ekspresi Renika, mulai dari senyum tipis sampai tatapan sendu. Mahendra tahu benar bagaimana rasanya saat pulang dan kamu tidak lagi menemukan kehangatan yang sama, Mahendra paham rasanya seolah dunia berjalan begitu cepat dan dirinya masih bertahan dengan kenangan lama yang mungkin sudah usang dan hampir pudar.
"You okay?"
Pertanyaan itu membuat Renika menghapus setitik air matanya dan mengangguk mendahului Mahendra untuk naik ke kamarnya, tempat dimana dulu dirinya menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk belajar, tempat dimana dirinya menangis diam-diam saat semua yang dirinya harapkan tidak terjadi. Ruangan yang mendengar lebih banyak cerita dari pada telinga seseorang.
Semuanya masih sama seperti saat terakhir kali Renika memutuskan meninggalkan rumah ini, Renika yakin sesekali Bunda pasti memasuki kamarnya dan berusaha tidak mengubah apapun agar saat tiba-tiba Renika pulang dirinya tidak kebingungan.
Sebuah kotak berukuran sedang diatas lemari menjadi objek yang Renika incar. Isinya tidak banyak tapi begitu bermakna untuknya.
"Ayo, Kak."
"Cuma ambil itu?"
"Nggak, ada beberapa berkas Papa yang harus dibawa juga."
Mahendra mengangguk dan setia mengekori Renika, kalau boleh jujur sisi rapuh Renika adalah hal yang tidak pernah Mahendra lihat dan hari ini dirinya bisa melihat dengan jelas bagaimana punggung kecil itu berusaha tetap tegak meski di hantam kenyataan menyakitkan berkali-kali.
Setelah mengambil beberapa berkas seperti yang gadis itu katakan mereka kembali memasuki mobil dan bersiap membelah jalanan padat kota Jakarta menuju apartemen Renika, masih dengan sisa sendu yang gadis itu bawa.