29# Can We Try Again?

52 7 0
                                        

Aku masih berdiri pada harapan yang sama kalau kita bisa mencobanya sekali lagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku masih berdiri pada harapan yang sama kalau kita bisa mencobanya sekali lagi.
-Mahendra Vega-

~••~

Sejak dua jam yang lalu Mahendra sudah berada di lobby perusahaan Renika. Dirinya sempat bertanya pada resepsionis tentang keberadaan gadis itu tapi karena belum memiliki janji temu mereka tidak mengizinkan Mahendra untuk bertemu Renika. Wajar saja, dengan posisinya sekarang Renika pasti punya banyak pekerjaan dan tidak bisa di ganggu.

Lobby perusahaan Renika memang cukup nyaman, Mahendra bisa melihat banyak sekali model yang keluar masuk beserta dengan staf perusahaan. Pemandangan seperti ini tidak pernah Mahendra amati dengan seksama sebelumnya, selain karena perusahaannya lebih banyak bergerak di bidang jasa dirinya juga tidak punya banyak waktu untuk sekedar duduk diam memandang kesibukan ini.

Pintu lift terbuka menampilkan dua perempuan yang berbeda usia. Mereka nampak sangat serius membahas sesuatu sampai saat pandangan salah satunya bertemu dengan manik Mahendra gadis itu membeku sesaat.

Mahendra nampak mengembangkan senyumnya saat Renika menghampirinya perlahan. Kernyitan nampak di dahinya, Renika pasti kebingungan dengan keberadaan Mahendra di lobby perusahaannya.

"Kak Mahen?"

Sapaan itu masuk ke gendang telinga Mahendra, meski hanya sederhana tapi rasanya begitu rindu Renika memanggilnya seperti itu. Memang tidak ada yang istimewa tapi jika Renika yang melakukannya semua hal terasa begitu istimewa.

"Hai, mau pulang sekarang?

"Iya mau pulang. Kakak, ngapain disini?"

"Mau jemput kamu, yuk!"

"Kan semalam aku udah bilang gak perlu, aku bisa pesan driver online, Kak."

"Kamu baru sembuh, mana aku tega biarin kamu pulang sendiri?"

"Tap-"

"Sekalian kita ke tempat Abang."

Mahendra memotong ucapan Renika sebelum gadis itu menolaknya, dirinya tidak mau mendengarkan penolakan kali ini, dia akan menjadi egois sekarang.

"Mau, kan?"

Renika mengangguk, jika sudah membahas tentang Jonathan dirinya akan melemah. Lagi pula dirinya memang punya keinginan untuk berkunjung kesana besok pagi.

Renika berjalan berdampingan dengan Mahendra, pria itu nampak berpakaian lebih santai dari pada semalam. Dengan kaos dan jaket denim juga celana jeans yang memang sejak masa sekolah menjadi pakaian kegemarannya.

Sementara Renika nampak canggung Mahendra justru sedang berusaha menahan senyumannya agar tidak terbit semakin lebar karena interaksi mereka. Tidak masalah jika dia harus menunggu Renika bahkan lebih dari dua jam, tidak seburuk itu jika pada akhirnya dirinya bisa berbincang dengan gadis ini.

Scars || Mark LeeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang