31# Mari Bertemu

21 6 0
                                        

Aku pikir aku bisa meninggalkan setiap bagianmu disini tapi ternyata aku justru membawanya kemana-mana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku pikir aku bisa meninggalkan setiap bagianmu disini tapi ternyata aku justru membawanya kemana-mana.
~Amora Vienna~

~••~

Langit muram dengan hawa dingin yang menusuk tidak membuat Renika maupun Amora yang duduk bersandingan merasa harus segera bangkit dan beranjak dari balkon kamar Amora. Mereka berdua masih terus menikmati langit malam dengan pikiran rancu yang penuh sesak.

"Kak Nathan akhirnya tau keberadaan aku setelah sekian lama, Kak."

"Aku udah pernah bilang kalau kita emang gak bisa selamanya sembunyiin ini dari Nathan, dia punya banyak relasi dan cepat atau lambat dia juga akan tau keberadaan kamu."

"Tapi ini terlalu cepat, Kak."

Renika memandang Amora lamat-lamat, gadis ini sudah sangat lama bersembunyi dari banyak orang dan mau sampai kapan dirinya ingin terus melarikan diri?

"Masalah itu ada untuk dihadapi bukan malah ditinggal pergi."

Amora masih terdiam tanpa jawaban apapun, "Mau sampai kapan kamu terus lari-larian dari Nathan?"

"Aku cuma takut kalau Kak Nathan berhasil nemuin aku Papa juga akan dengan mudah selidikin keberadaan Mama."

Renika menghembuskan napasnya kasar, sudah bertahun-tahun berlalu dan gadis ini masih terjebak dalam ketakutan yang sama.

"Justru Nathan bisa bantuin kamu jagain Mama kamu, Amora."

Amora memandang Renika cukup lama, dia teliti setiap jengkal garis yang sudah Tuhan berikan pada gadis di sampingnya. Renika terlihat begitu sempurna dengan segala yang dia punya, pantas saja Nathaniel begitu mencintainya.

"Kak, tahun-tahun belakangan hidupku jauh lebih berat dari sebelumnya. Mungkin di awal perceraian Mama sama Papa aku dengan tidak sengaja ketemu sama Kak Nathan dan dia berhasil buat aku ngerasa kalau aku gak sendirian di dunia ini. Tapi pada akhirnya apa? Dia juga pergi, Kak. Jadi gak ada jaminan pasti kalau dia akan berbuat baik setelah ini."

Sekarang Renika yang bungkam. Mungkin Amora benar, tidak ada jaminan pasti Nathan akan selalu bersikap baik, tidak ada jaminan pasti jika tatapan cinta yang sempat pria itu berikan tidak hilang. Kenyataannya cinta bisa terkikis dan habis, bisa hilang dan berganti dengan mudah.

Setelah cukup lama dalam kebungkaman Renika memilih untuk mengakhiri obrolan mereka yang tidak ada solusi di dalamnya. Amora perlu istirahat dan dirinya juga masih belum sepenuhnya sembuh.

"Aku pergi dulu, kamu bisa pikir lagi apa yang sebaiknya kamu lakukan. Pergi ke Paris dengan resiko Nathan juga akan nyusul kamu kesana atau dengerin dulu apa yang mau dia omongin dan mungkin aja kalian bisa sama-sama lega. Jangan lupa istirahat, Amora."

Renika berlalu meninggalkan kamar Amora sedangkan gadis itu masih duduk termangu di balkon kamarnya tanpa respon apapun. Dia sudah sejauh ini pergi apa bertemu dengan Nathan adalah pilihan yang baik?

Amora ingat ketika saat pertama kali dirinya terbang menuju California, dengan segala rasa putus asa dan ketakuan Amora memberanikan diri pergi dari tanah air. Berganti identitas agar tidak dikenali oleh mantan rekan kerja ayahnya juga menjauhkan diri dari bayangan Nathaniel.

Sebenarnya meskipun menatap di Indonesia sekalipun tidak akan merubah banyak hal karena saat itu Nathan juga sedang berada di New York. Tapi Amora perlu menyelamatkan diri dari cengkraman ayahnya.

Amora pikir dengan pergi ke California dirinya juga akan menemukan ketenangan lain dan melupakan Nathaniel tapi ternyata masih sama saja, dirinya masih selalu mencintai pria itu. Amora masih terjebak dengan jatuh cintanya sendiri, bahkan hal yang paling menyebalkan adalah Amora tidak bisa berhenti mencintai Nathan.

"Hal yang paling gak bisa di tolerir adalah gue masih selalu jatuh cinta sama lo, itu terus terjadi berulang kali bahkan meskipun lo gak pernah anggep gue ada, Kak."

Amora menghembuskan napasnya kasar lantas beranjak pergi menuju ke ruang tengah, dirinya butuh pelampiasan sekarang. Kepalanya sangat pusing dan jalan keluar dari pilihan yang diberikan Renika belum menemukan jawaban apapun.

Paris adalah kota impiannya jadi mana mungkin Amora melepaskan kesempatan emas saat dia punya pilihan untuk pergi kesana meskipun pada akhirnya harus berjauhan kembali dengan Mamanya.

Bicara soal wanita paruh baya itu membuat Amora tersenyum tipis, dia sudah tidak tinggal di Jakarta. Mamanya memilih menetap di kawasan perumahan di daerah Bandung, dekat dengan kediaman orang tua Renika. Jadi setidaknya wanita itu aman dari ancaman mantan suaminya.

"Kapan Papa bisa lepasin Mama dan aku? Harusnya dia udah gak perlu datang lagi setelah hari itu, kan?"

Jika bagi sebagian besar orang Ayah adalah sosok pahlawan yang begitu gagah tapi bagi Amora Ayah adalah mimpi buruk untuknya. Pria itu benar-benar tidak punya empati sebagai manusia atau setidaknya rasa malu karena tabiat buruknya dimasa lalu. Pada akhirnya karakter manusia memang tidak bisa ditebak dengan mudah.

Waktu terus beranjak maju meninggalkan puing-puing kenangan tetap tertinggal di masa lalu. Dia tidak akan melambat atau menunggu sesuatu. Jadi manusia yang memang harus berusaha tetap merangkak meski seolah langkahnya berat terseret begitu banyak rasa sakit dan ketakutan.

Setengah botol red wine sudah tandas menjadi pelampiasan Amora malam ini, dengan gerakan kecil gadis itu mulai membuka laci ruang tengah dan mengambil sebungkus cerutu dengan kualitas tinggi kegemarannya. Dua benda keramat yang akan menjadi temannya melepaskan penat.

Baru akan dirinya bakar ujung cerutu yang sudah terselip cantik di antara jemarinya suara bel pintu apartemen menghentikan gerakan Amora. Siapa gerangan yang berkunjung tengah malam begini?

Dengan kernyitan di dahinya yang cukup kentara Amora beranjak menuju pintu utama. Hal pertama yang dirinya temukan saat membuka pintu apartemennya adalah ada sebuah kotak tergeletak tepat dibawah kakinya. Kotak ukuran sedang dengan pita di penutupnya. Lorong apartemen nampak kosong, tidak ada siapapun yang bisa Amora curigai.

Selamat datang di rumah. Jadi mau berkelana kemana lagi setelah ini?

Itu adalah tulisan dalam selembar sticky note yang nampak saat pertama kali membuka kotak tersebut. Amora masih berusaha mencari pelaku yang meninggalkan kotak itu tapi hasilnya nihil. Akhirnya gadis itu memilih masuk dan membongkar isi kotak itu di dalam.

Setelah membuka bungkus pertama yang direkatkan dengan sticky note ada sebuah amplop berwarna coklat disana dan juga sepasang heels yang cukup cantik.

Dear, Amo.

Cukup terlambat tapi aku akan tetap bilang, maaf.
Maaf karena aku jadi orang kesekian yang akhirnya nyakitin kamu.
Sekali lagi aku minta maaf, Amo.
Dan juga terima kasih karena sudah jadi gadis yang hebat dan kuat sampai hari ini.
Makasih sudah bertahan di dunia yang kayaknya memang gak selalu memihak ke kamu.
Amo, kalau berkenan bisa kita ketemu?
Maaf kalau tadi sempat buat kamu ketakutan dan milih lari.
Aku tahu kamu pasti benci banget sama aku, tapi aku juga berhak setidaknya dapat satu tamparan dari kamu.
Jadi kalau kamu mau ketemu aku akan siap kapanpun itu.
Dan tolong sepatunya di terima, aku pernah dengar pepatah kalau sepatu yang bagus akan bawa kamu ke tempat yang bagus.
Aku harap dengan sepatu yang cantik itu kamu bisa berjalan ke tempat-tempat cantik yang selalu kamu inginkan.

Best Regards
Nana

Amora menghembuskan napas kasar setelah membaca larik demi larik kalimat yang Nathaniel tuliskan. Mungkin benar menemui Nathan bisa membuatnya sedikit lega.

"Ada satu lagi tentang filosofi sepatu, Kak. Jika dia bukan ukuranmu maka dia akan menyakitimu."

To be continue...

Scars || Mark LeeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang