24# Amora Vienna

50 6 0
                                        

Kasih gue sedikit petunjuk, Amo

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kasih gue sedikit petunjuk, Amo. Kita perlu ketemu.
-Nathaniel Oretha-

~••~

Gemericik air turun perlahan bersamaan dengan melesatnya mobil Mahendra meninggalkan area gedung apartemen Renika. Malam ini sekali lagi hujan kembali mengguyur kota Jakarta yang muram. Dan dia ada di sana, berdiri sambil memandang kaca jendela kamar Renika yang terlihat terang diantara banyaknya kamar yang sudah padam. Dirinya berusaha tersenyum tipis sambil menikmati badannya yang perlahan basah bersamaan dengan perasaan yang kembali remuk redam.

"Akan selalu ada yang berkorban di setiap cerita tapi meskipun sakit gue senang bisa ada dibagian cerita ini, Re."

Sekali lagi dirinya kalah telak, Nathan sanggup bersaing dengan ratusan bahkan ribuan orang yang menyukai Renika tapi jika dirinya dihadapan dengan Mahendra lebih baik Nathan bergegas menjauh karena sedari awal Mahendra adalah pemenangnya, pria itu tidak perlu bersaing dengan siapapun karena Renika sendiri yang memilihnya.

"Sekarang yang perlu Bang Mahen lakukan cuma runtuhin tembok tinggi yang lo buat dan gue yakin itu gak akan sulit karena dia Mahendra Vega, dia orangnya."

Setelah puas menikam diri sendiri dengan buas Nathan mulai beranjak menuju basemen tempat mobilnya terparkir, langkahnya pelan penuh dengan luka sayatan di ulu hatinya. Taman apartemen ini terlalu mengundang banyak perhatian jika dia terus-terusan berdiri dengan baju yang basah kuyup. Langkahnya terhenti saat dirasa kepalanya tidak lagi kebasahan akibat hujan yang semakin deras.

"Lo bisa kasih payung sama siapapun tapi jangan lupa siapin payung buat diri lo sendiri."

Nathan menoleh dengan cepat mendengar suara itu, seorang gadis dengan masker dan hoodie oversize berdiri di sampingnya. Sorot mata itu, persis seperti milik seseorang yang sampai hari ini masih selalu keluar masuk pikiran Nathaniel Oretha.

"Payungnya buat lo, gue masih ada payung lain."

Dengan gerakan pelan Nathan menerima payung itu sambil terus menatap sang pemilik yang mengeluarkan sebuah payung kecil lain dari ranselnya. Gadis itu lekas pergi setelahnya, meninggalkan Nathan yang masih membeku karena interaksi kecil mereka. Segala hal pada gadis itu mengingatkannya pada Amora Vienna, mulai dari rambutnya yang sedikit basah, langkah kakinya, postur badannya, bahkan sorot matanya. Meskipun kepalanya mengatakan untuk berlari dan menghentikan gadis itu tapi bibirnya bungkam, kakinya seperti tertahan dan Nathan seolah tidak bisa melakukan apapun selain menatap punggung yang kian menjauh. Nathan membeku.

Tapi firasat Nathan benar, dia Amora. Mantan terakhir pria itu sebelum dirinya berangkat ke New York. Gadis yang menyumpahinya dengan kalimat menjengkelkan di pertemuan terakhir mereka yang justru membuat Nathan kepikiran bahkan kelabakan sendiri. Sorot mata yang tegas namun lembut di waktu yang bersamaan itu masih memabukkan seperti sebelumnya.

"Kenapa jalan ke arah lo selalu seterjal ini sih, Kak? Gue kesakitan."

Amora menundukkan kepalanya, menikmati dinginnya dinding-dinding lift yang menyergap badan. Gadis itu sadar jika selama ini Nathan berusaha menemukan keberadaannya entah karena rasa bersalah atau memang merasa perlu meminta maaf, tapi Amora masih belum siap bertemu dengan pria itu.

Kenyataan bahwa Nathaniel begitu mencintai sahabat kecilnya membuat Amora sempat begitu terpuruk dahulu. Betapa pria itu memperlakukan Renika dengan sangat lembut dan penuh perhatian kadang membuatnya terhantam begitu kuat. Amora memang sangat dekat dengan Nathan pada awalnya, begitu dekat sampai Amora melewati batas dan jatuh cinta padanya.

Hari dimana Nathan menjadikannya kekasih sempat membuat angannya terbang begitu jauh tapi beberapa hari kemudian kenyataan menghantamnya begitu kuat. Harusnya Amora sadar jika dirinya tidak akan pernah jadi orang yang penting bagi pria itu.

"Gue gak sanggup, Kak Nathan, lo terlalu jauh buat gue jangkau. Sekarang ataupun sebelumnya lo tetap terlalu tinggi buat gue yang gak ada apa-apanya."

Jalan menuju arah Nathan berada begitu jauh dan berliku dengan pecahan kaca di mana-mana. Nathaniel bagaikan sebuah rumah yang tinggal puing-puing saja tapi Amora masih berusaha menemukan secuil harapan yang tertinggal. Air matanya luruh saat kembali mengingat bahwa pada akhirnya dia tetap tidak akan menemukan apapun dalam tumpukan bangunan rusak itu.

Masih dapat Amora ingat dengan jelas bagaimana dulu Nathan selalu menjadi seseorang yang muncul paling sering saat dirinya sedang tidak baik-baik saja. Genggaman lembut, pelukan hangat, tepukan pelan, juga kalimat sederhana yang menguatkannya. Sosoknya begitu lekat dengan kehancuran, Nathan seolah berdiri diantara rasa sakit dan kenyamanan yang bertumpuk menjadi satu.

Sementara itu Nathan sudah berada di mobilnya sambil memerhatikan nama di pegangan payung yang dirinya bawa. Dirinya sangat yakin gadis itu adalah Amora Vienna, gadis yang akan selalu muncul saat Nathan dalam keadaan berantakan hebat. Gadis itu seperti potongan halaman yang hilang dan selalu Nathan cari kemana-mana dan pada akhirnya potongan itu ditemukanan terselip diantara halaman sebelumnya tanpa sadar.

"Lo selalu muncul di saat gue lagi kacau, Amo, dan gue yakin ini bukan cuma sekedar kebetulan. Bahkan kita selalu ketemu dalam keadaan yang sama-sama berantakan. Seberapa jauh kita sekarang? Gue harap masih ada kesempatan buat ketemu dan minta maaf sama lo dengan layak."

Nathan mulai melajukan mobilnya membelah jalanan kota jakarta yang berhujan, pikirannya melanglang buana kembali pada hari dimana dirinya pertama kali bertemu dengan Amora. Gadis yang menangis tergugu sendirian di halte yang lengang dalam keadaan basah kuyup dan mata sembab dengan sebuah kertas tergenggam erat di jemarinya. Hari saat dirinya pertama kali bertemu dengan Amora adalah hari dimana Nathan mulai mengerti bahwa akan selalu ada rasa sakit yang mungkin lebih parah dari rasa sakitnya. Akan selalu ada rasa kecewa yang lebih besar dari miliknya.

Lampu traffic light berubah merah, keadaan bahkan membuatnya lupa alasan sekujur tubuhnya basah malam ini. Amora mengambil alih pikirannya dengan telak, kehadirannya selalu membuat Nathan teralihkan. Kenapa gadis itu sekarang begitu sukar ditemukan? Kenapa seolah Nathan kehilangan kompas ke arahnya? Masih larut dalam lamunan deringan telpon membuatnya menoleh, Gabriel.

"Hmm?"

"Lo jadi nginep di apart gue nggak? Hujannya deres banget soalnya."

"Nggak, El, mager banget buset ke sana."

"Bocah semprul! Gue udah pesenin lo makanan padahal."

"Udah kenyang gue, langsung tidur abis ini capek banget dah."

"Oke."

Telpon di matikan sepihak, sepertinya mereka sedang bersenang-senang disana, terbukti dengan suara tawa yang terdengar cukup jelas dari kejauhan.

"Kalau lo gak tinggal disana terus kenapa lo pergi ke gedung itu, Amo?"

Pada akhirnya Nathan kembali memukul setir mobilnya kesal, lagi-lagi dirinya tidak bisa menemukan informasi apapun mengenai Amora Vienna. Nathan selalu gagal saat mencari gadis itu tapi saat sosoknya berdiri dihadapan Nathan dengan nyata jangankan meminta maaf, Nathan bahkan selalu membeku tanpa suara.

"Amo, mau sampai kapan kayak gini?"

To be continue...

Scars || Mark LeeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang