//Sequel Ripple//
[Rumah Untukmu Pulang]
Mencintaimu sepadan dengan semua rasa sakit ini jadi biarkan aku tetap memeluknya erat sampai hari dimana aku tidak bisa lagi menggenggam harapan.
"Mari kembali jatuh cinta dan melakukannya dengan benar di la...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Benar kata Kak Hara, garis takdir itu lucu, tidak terduga, dan luar biasa. -Mahendra Vega-
~••~
Satu-satunya tempat yang tidak banyak berubah meskipun sudah beranjak enam tahun dari hari dimana Renika memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Mahendra adalah rooftop di sebuah apartemen yang Renika tahu salah satu unitnya adalah milik pria itu. Mereka datang berkali-kali ke tempat ini hanya untuk melihat bagaimana padatnya kendaraan saat jam pulang kerja berlangsung. Tempat dimana Renika bisa melihat keramaian secara leluasa tanpa harus berdesakan di dalamnya. Tempat yang sampai sekarang masih sering Renika kunjungi saat rindunya mulai kembali muncul ke permukaan.
Setiap sudutnya masih bisa gadis itu temukan renyahnya tawa mereka, bagaimana dulu tempat ini begitu berwarna meskipun masih belum seindah sekarang. Masa-masa dimana meskipun banyak hal yang tidak terurai dengan jelas tapi begitu menyenangkan dirasakan.
Tempat ini begitu istimewa bukan hanya karena sering mereka kunjungi berdua tapi di tempat ini juga untuk pertama kalinya Renika bisa melihat bagaimana pandangan Mahendra terhadapnya menghangat. Tempat pertama kali getaran yang dirinya rasakan seolah bersautan dengan milik Mahendra terikat melalui sebuah dekapan ditengah dinginnya angin malam kota Jakarta. Tempat dimana dirinya yakin bahwa cintanya di sambut dengan suka cita oleh sang pemilik.
Senyuman manis Renika mengembang menemukan semburat bulan yang tertutupi awan diatas sana. Bagaimana cahayanya malu-malu mengintip memberikan rasa bahagia meskipun hanya sederhana. Dirinya teringat sebuah kalimat yang ramai di sosial media akhir-akhir ini the moon is beautiful isn't? kira-kira seperti itu bunyinya. Penggambaran perasaan miliknya yang masih tertuju pada orang yang sama.
Jam tangannya menunjukkan pukul delapan malam menandakan dirinya harus segera pulang dan mulai menyelesaikan pekerjaannya yang menggunung. Menjadi putri tunggal dalam keluarga tidak semudah dan semenyenangkan yang orang lain pikir, bagaimana dirinya harus menjadi satu-satunya dan dipaksa menjadi sempurna tidaklah sesepele itu, ayahnya tidak akan mentolerir kesalahan bahkan sekecil biji kuaci.
Setelah menuruni tangga darurat dan masuk dalam lift Renika langsung menekan tombol menuju ke basement, sudah cukup dirinya mengobati sedikit rindu untuk hari ini siapa tau setelahnya dirinya bisa bekerja dengan tenang.
Tepat pada lantai delapan pintu lift kembali terbuka, untuk beberapa saat Renika membeku di tempatnya melihat siapa yang berdiri dihadapannya. Pria jangkung dengan wajah yang masih nampak seperti sebelumnya hanya warna rambutnya saja yang berubah, pria itu sepertinya tidak menyadari kehadiran Renika karena fokus pada ponsel genggam miliknya. Dengan menekan perasaannya yang tiba-tiba bergemuruh Renika memberikan ruang di dekat tombol lantai agar pria itu bisa dengan mudah mengaksesnya.
Demi Tuhan jika ini tidak nyata tolong segera sadarkan Renika, bukankah acara pertunangan Gabriel masih beberapa hari lagi? Kenapa pria ini sudah berkeliaran di gedung apartemen ini? Tidak, lebih tepatnya kapan dirinya sampai di Jakarta?