32# Back To Us

41 6 5
                                        

Aku selalu senang kembali pada Desember enam tahun lalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku selalu senang kembali pada Desember enam tahun lalu.
-Mahendra Vega-

~••~

Sudah sangat lama sejak mereka bisa duduk berdua dengan nyaman seperti ini, dua gelas kopi susu yang masih panas menjadi teman di hadapan mereka. Rainbow cake yang masih menjadi andalan di Langit Cafe juga sudah tersaji dengan rapi diatas meja. Mahendra senang bisa punya sedikit waktu bersama Renika sembari menunggu yang lain tiba.

Alih-alih masuk ke basecamp mereka lebih memilih duduk berdua di salah satu meja yang berada di ujung ruangan dekat jendela. Tempat yang dulu menjadi spot favorit mereka.

Sesekali Renika nampak menyeruput kopi susu miliknya sambil memandang kosong pemandangan di luar kafe. Gadis ini nampak berbeda, kepang duanya sudah tidak nampak sejak mereka putus dan dalam beberapa tahun terakhir berganti dengan gulungan rambut sederhana yang membuatnya nampak jauh lebih dewasa.

"How's your life?"

Mahendra membuka pembicaraan setelah mereka cukup lama dilingkupi perasaan canggung.

"Good, kayak kelihatannya," senyuman itu terbit dengan sederhana namun mampu memporak-porandakan pertahanan Mahendra.

"Kakak, kelihatan jauh lebih baik dari beberapa tahun lalu. Chicago pasti sangat menyenangkan ya?"

Mahendra tersenyum tipis, "Chicago gak lebih baik dari Jakarta, tapi setidaknya disana aku ngerasa bisa ketemu Bang Jona."

Renika mengangguk paham dengan jawaban itu. Dirinya tahu meskipun terlihat nekat dan keras kepala Mahendra sebenarnya memberikan tembok tipis diantara mereka berdua. Tidak, Renika tidak berharap lebih tentang hubungannya dengan Mahendra tapi Renika tahu benar alasan kenapa Mahendra sedikit memberikan jarak diantara mereka.

"Papa sama Bunda jadinya menetap di Bandung?"

Gadis dihadapannya mengangguk pelan sembari memasukkan sepotong cake ke dalam mulutnya.

"Papa bilang mau cari suasana baru di Bandung."

"Jadi rumah dibiarin kosong gitu aja?"

"Iya demi kebaikan Bunda, lagian Bunda juga berhak dicintai secara utuh dan mungkin dengan mereka pindah ke Bandung Papa bisa memperlakukan Bunda dengan lebih layak."

"Kamu baik-baik aja soal itu?"

"Karena Papa berusaha mencintai wanita selain Mama?" Mahendra mengangguk samar.

"Bohong kalau aku bilang baik-baik aja, aku jelas sakit hati karena bagiku Mama gak boleh tergantikan. Tapi lebih dari itu aku lebih percaya kalau setiap orang punya waktunya masing-masing, mungkin emang udah waktunya cerita tentang Mama selesai dan Papa perlu buka lembaran baru dengan cerita Bunda di dalamnya."

"Apa menurut kamu kita juga udah benar-benar selesai?"

"Iya, kita emang udah lama selesai, kan?"

"Apa perasaan diantara kita juga udah selesai secepat itu?"

"Kak, enam tahun bukan waktu yang sebentar."

"Enam tahun waktu yang singkat, Ca. Aku pernah bilang sama kamu kalau aku masih terus berharap kita akan kembali jatuh cinta dan melakukannya dengan benar dilain waktu, kan? Bagiku kita belum selesai, Ca. Kita cuma dikasih jeda untuk berpisah dan bertemu lagi di waktu yang jauh lebih baik."

Mahendra menatap dalam ke arah manik milik Renika, ada sebuah perasaan terluka yang saling mereka lemparkan. Mahendra tahu benar Renika belum sepenuhnya sembuh dan sekali menekannya luka itu pasti akan basah kembali.

"Kak, aku lebih percaya kalau sebesar apapun kita menginginkan sesuatu, yang bukan milik kita akan tetap pergi."

Renika melemparkan senyum menanggapi kalimat demi kalimat yang Mahendra lontarkan.

"Tapi aku gak pergi."

"Aku yang pergi, aku yang berubah, aku yang udah gak lagi sama."

Mahendra membeku, dirinya pandang kedua manik itu lebih dalam. Renika tidak berbohong gadis itu memang tidak lagi sama dalam segi isi kepala, kemampuan, penampilan dan cara berinteraksi dengan orang lain. Tapi di balik mata kelam yang penuh ketegasan itu Mahendra bisa melihat jika sosok Renika Catra kekasihnya masih begitu lekat disana, tidak bergeser barang sejengkal pun dari tempatnya.

"Iya aku tau kamu memang udah gak lagi sama tapi bukan berarti perasaan itu gak bisa muncul lagi, kan? Jadi izinin aku buat bikin kamu jatuh cinta sekali lagi, Aca. Masih persis kayak yang aku bilang sebelumnya, kamu gak perlu ngapa-ngapain, cukup diam biar aku yang lari ke kamu, biar aku yang berusaha yakinin kamu."

Renika mengalihkan pandangan kembali pada rentetan kendaraan di bawah, "Dulu kamu bilang gitu tapi kamu gagal, kalau kamu gagal untuk yang kedua kalinya gimana?"

"Aku akan berhenti ngejar kamu, Ca."

Gadis dihadapan Mahendra tersenyum tipis sambil kembali memasukkan potongan rainbow cake dalam mulutnya, "Tiga tahun lalu kamu datang ke New York juga sebenarnya mau ngomong kayak gini, kan?"

Mahendra mengangguk sambil ikut memakan potongan lainnya, "Bukannya kelihatan sangat jelas ya?"

"Aku gak yakin sama ini tapi kalau kali ini kamu gak bisa yakinin aku stop untuk berusaha lebih dekat."

Mahendra terdiam. Seperti Desember bertahun-tahun lalu, saat dimana rasa cintanya pada Renika semakin beranak pinak dari hari ke hari. Saat dimana dirinya masih bisa memeluk Renika sepuas yang dia mau, hari dimana mereka masih menjadi sepasang kekasih yang sangat lekat. Mahendra akan selalu senang kembali ke sana, kembali pada Desember enam tahun lalu, kembali pada kenangan tentang pelukan hangat gadis ini.

Sejak dulu Mahendra selalu egois dan rakus perkara Renika, dia tidak pernah bisa membayangkan bagaimana tanpa Renika di sisinya. Mahendra selalu ketakutan jika pada akhirnya Renika hilang dari jangkauannya, tapi sialnya dirinya pernah ada di titik itu. Dirinya pernah ada di masa tidak menemukan Renika bahkan saat dia sudah mengelilingi kota Jakarta ini ratusan kali. Mahendra pernah ada di titik berharap Renika tiba-tiba muncul di depan pintu apartemennya saat masih berada di Kanada meskipun itu mustahil terjadi, Mahendra pernah sangat frustasi dan putus asa akan itu.

Tiga tahun pertama tanpa Renika dia seolah kehilangan kompas dan semangat, dia kehilangan alasan untuk bisa merasakan apa itu cinta dan empati. Dan di tahun berikutnya dirinya dihantam kehilangan lain, Mahendra bukan lagi kehilangan kompas tapi kehilangan insting bertahan hidup.

Kanada adalah saksi bagaimana Mahendra hampir mati karena overdosis obat penenang, bagaimana minggu-minggu Mahendra lalui dengan datang rutin ke Psikiater dan mengonsumsi berbagai jenis obat. Mahendra sakit, bukan hanya fisik tapi mentalnya, psikisnya sempat rusak bahkan seolah keinginan untuk hidup tidak pernah ada lagi.

Tapi saat kembali mengingat ada satu orang yang harus dirinya jaga mati-matian Mahendra berusaha bangkit, dia berusaha sembuh, meski harapan tentang bersama Renika atau bertemu dengan kakaknya seolah hilang tapi dia harus selalu menjadi kuat untuk adiknya. Bukan lagi Jonathan tapi Mahendra yang harus bisa menjadi kepala keluarga Adinata sekarang. Menjadi penyedia bahu dan orang yang akan selalu menjadi garda terdepan saat ada yang mengancam keselamatan Bintang.

"Kalau aku gagal, aku akan berhenti minta kamu kembali ke aku tapi aku tetap gak bisa berhenti untuk dekat sama kamu, Ca. Kita masih bisa berteman kayak Bang Jona sama Kak Hara, kan?"

Tapi gue yang gak bisa berteman sama lo, Kak. Hal yang paling gue takutkan sekarang bukan lagi lo yang nyakitin gue tapi gue yang nyakitin lo. Wanita dengan trust issue ini serupa racun, Kak. Apa Nathan aja gak cukup jadi korbannya?

To be continue...

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 05, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Scars || Mark LeeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang