"Pelangi !" Tiba-tiba mas Moondy datang ke tempat kerjaku sambil menggendong Cilla.
"Mas Moondy ngapain kamu ?" Aku menghampirinya.
"Cilla tiba-tiba demam Ngi." Kata mas Moondy panik.
"YaAllah panas banget kamu nak. Mas kita harus gimana ?" Tanyaku panik.
"Kita bawa Cilla ke dokter Ngi. Aku gak mau Cilla kenapa-napa."
"Aku pamit dulu sama Dito ya ?"
"Penting ?" Wajahnya berubah serius.
"Dia supervisor aku mas. Gak bisa aku seenaknya sendiri mas."
"Aku tunggu di mobil ya, kamu bisa pamit dulu. Cilla biar aku yang gendong."
Aku mengangguk. Mas Moondy ke arah mobil dan aku kembali ke toko menemui Dito yang berada di depan meja kasir.
"Dito ?"
"Iya Ngi ?"
"Aku bisa minta ijin sebentar ? Anak aku panas. Dia demam. Aku harus bawa dia ke dokter."
"Bersama suami kamu ?"
Aku mengangguk.
"Oke. Kalian hati-hati. Semoga anak kamu cepet sembuh."
"Makasih ya. Aku pamit dulu."
****
"Hanya demam biasa pak bu, dikasih obat nanti pasti sembuh. Jika dalam 3 hari adek belum turun panasnya bawa kemari untuk kita tes lab ya." Kata dokter anak tempat kami periksa.
Syukur alhamdulillah tidak terjadi sesuatu dengan Cilla. Sebagai seorang ibu aku merasa gagal jika sampai Cilla sakit parah.
"Terima kasih dok. Kami permisi dulu ya ?"
"Sama-sama pak bu."
"Kamu kenapa sayang ? Padahal tadi sebelum mama berangkat kerja kamu sehat-sehat saja sayang." Kataku sambil mengusap kening Cilla.
"Ngi, kalau udah kaya gini apa kamu masih ngelarang aku buat jagain Cilla ?" Tanya mas Moondy membuka pembicaraan begitu kami memasuki mobil.
Aku terdiam tidak menjawab. Aku lebih memilih melihat keluar jendela mobil sambil menggendong Cilla. Oekoekoek ..... Cilla menangis aku mencoba menenangkannya tapi tidak berhasil juga.
"Susuilah dia, mungkin dia haus." Perintah mas Moondy.
Sebenarnya aku tau jika Cilla haus, tapi aku enggan menyusuinya di depan mas Moondy.
"Kenapa ? Kamu malu ? Ingat aku masih suami kamu. Dan lagi aku juga tidak akan menidurimu disaat seperti ini. Aku bukan orang yang nafsu dengan ibu menyusui." Mas Moondy kembali berucap tanpa memandangku.
Aku menarik nafas panjang. Seharusnya aku lebih memikirkan tentang Cilla. Kuubah posisi dudukku menjadi lebih ke samping agar tak terlalu terlihat oleh mas Moondy. Dan benar saja setelah aku susui Cilla terlihat lebih tenang bahkan dia mulai mengantuk.
"Ngi.... Boleh kapan-kapan aku ajak Cilla kerumah ?" Tanya mas Moondy..
"Untuk apa ?"
"Untuk mempertemukan Cilla dengan oma opa, bibi dan ibu sambungnya."
"Maksud mas Moondy, Bulan ?"
"Iya. Bolehkah dia menganggap Cilla juga anaknya ?"
Aku diam. Aku tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan mas Moondy. Disatu sisi aku merasa kasihan pada Bulan, sebagai sesama wanita tentu aku bisa merasakan bagaimana perasaan Bulan yang tidak bisa memiliki momongan. Tapi disisi lain, jika aku mengingat segala perlakuan dia dulu padaku rasanya aku tak ingin anakku jadi anaknya juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
madu dalam perahu
No Ficciónaku istri sahnya secara negara dan agama. namun bukan hanya aku saja. masih ada gadis ayu yang bernama Bulan yang juga menjadi istri sah negara dan agama.
