PERMINTAAN MAAF

8.3K 336 18
                                        

Aku masuk ke dalam kamar meninggalkan mas Moondy bersama Cilla. Samar kudengar Moondy menangis menimang Cilla. Sungguh hatiku teriris mendengarnya. Jika dulu sikap mas Moondy tidak seburuk itu padaku, mungkin keluargaku akan utuh. Cilla juga mempunyai seorang ayah. Cilla akan tumbuh dengan kasih sayang kedua orang tuanya. Setelah berganti pakaian dan membersihkan diri aku keluar kamar mendatangi mas Moondy.

"Waktumu sudah habis mas." Ucapku saat aku selesai mandi dan maghrib pada Moondy

"Ngi ... "

"Setengah jam sudah cukup lama untukmu bisa bercengkrama dengan Cilla kan ? Bukankah katamu tadi kamu hanya ingin melihatnya ?"

"Tapi ... "

"Pergilah ! Jangan pernah kembali lagi kesini. Mengetahui tentang keberadaan Cilla dan asal usul Cilla sudah cukup buatmu kan ?"

Moondy terdiam. Dia menunduk disampingku. Aku masih sedikitpun tidak menatap wajahnya. Aku tidak mau luluh kembali padanya. Aku menyesal sudah mengijinkannya untuk bertemu Cilla, dan aku tidak ingin melakukan kecerobohan lagi.

"Baiklah Ngi. Aku pergi. Tapi tolong jangan halangi aku untuk bertemu dengan Cilla." Pinta Moondy.

"Bawa orang tuamu dan istri keduamu kesini. Ceritakan semuanya pada kami. Bapak sama ibu ingin mendengar langsung pengakuanmu pada kami dan mereka. Baru kamu boleh menganggap Cilla anakmu." Bapakku menyela.

"Untuk apa pak ?" Tanyaku.

"Dia dan orang tuanya datang pada kita untuk memintamu. Dan bapak mau dia dan keluarganya kembali kesini untuk meminta maaf atas kesalahan Moondy. Bapak dan ibu merawat dan membesarkanmu dengan penuh kasih sayang. Kami selalu berdoa untuk yang terbaik untukmu, mendapatkan jodoh yang bisa membimbingmu dunia akhirat. Bapak dan ibu tidak pernah sekalipun melukaimu. Tapi laki-laki ini datang dan mengambilmu dari kami, bukan kasih sayang dan cinta yang dia berikan, tapi justri siksaan batin yang kamu terima. Bapak sakit nduk." Bapakku menangis.

"Maafkan saya pak." Moondy menghampiri bapak dan berlutut dihadapannya. Dia menangis sambil menciumi tangan bapakku.

"Seharusnya kalau kamu tidak menyukai Pelangi, kamu bilang sama bapak. Kembalikan Pelangi baik-baik pada bapak. Bukan kamu siksa dia dengan cara seperti itu." Suara bapak bergetar saat mengucapkannya.

"Saya janji pak, akan menebus semua kesalahan saya. Saya tidak akan menyakiti Pelangi lagi. Saya tidak akan menyia-nyiakan Pelangi lagi. Saya akan tebus dosa-dosa saya pak. Kasih saya kesempatan."

" Jujur. Bapak tidak ingin lagi berhubungan sama kamu dan keluargamu. Bapak sangat sakit hati mengetahui semua kejadian yang meninpa Pelangi. Jika boleh bapak ikut campur bapak tidak sudi kamu bertemu kembali dengan anak dan cucu bapak."

"Ampun pak. Jangan lakukan itu sama saya. Saya minta maaf pak, jangan pisahkan saya dengan Pelangi dan Cilla pak." Moondy kembali memohon.

"Semua kembali ke Pelangi. Bapak dan ibu tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya."

Moondy menatapku. Dari sorot matanya kulihat ketulusan maafnya meskipun tertutup air matanya. Aku benci situasi ini. Kuraih Cilla dari tangan ibuku. Aku ajak dia kembali ke kamar dan menghindari Moondy.

****

Hari ini adalah hari liburku. Aku memilih untuk dirumah bersama Cilla. Usia Cilla sudah menginjak 5 bulan hari ini. Perkembangannya sudah cukup pesat. Dia sudah bisa tengkurap dan belajar merangkak. Semakin dia besar kulihat wajahnya semakin mirip dengan mas Moondy. Bagaimana bisa ? Saat hamilpun aku tak membayangkan mas Moondy sama sekali. Atau mungkin karena aku membencinya makanya Cilla 99% mirip ayahnya? Atau memang dasar anak perempuan gennya lebih mirip ayahnya ? Ah aku benci itu. Karena semakin membuatku mengingat segala kenangan tentang mas Moondy.

madu dalam perahu Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang