Aku merebahkan diriku di sofa kamar. Sebelum mas Moondy memintaku untuk tidur di sofa, aku terlebih dulu melakukan itu. Lelah rasanya seharian berkumpul keluarga, aku ngantuk. Mataku berat dan rasanya ingin tidur.
"Ngi ... " Panggil mas Moondy sambil menyentuh lenganku.
Aku yang sudah setengah terlelap menjadi terbangun karena panggilan mas Moondy. Tatapannya berbeda malam ini. Seringai senyumnya sungguh membuatku bergidik ngeri.
"Ya mas ?" Tanyaku sambil membenarkan posisi dudukku.
"Kepalaku pusing. Bisa kamu memijatku ?"
Aku mengangguk. Aku menggeser posisi dudukku sehingga mas Moondy bisa duduk di dekatku. Aku mendekati mas Moondy. Kemudian memijat kepalanya pelan, meskipun aku sempat ragu. Baru kali ini aku bisa menyentuhnya sedekat ini.
"Perlu kubuatkan teh hangat mas ?" Tanyaku.
Mas Moondy tidak menjawabnya. Dia membalikkan badannya menatapku. Tatapan yang membuatku menjadi salah tingkah. Tangan mas Moondy tiba-tiba menggenggam tanganku. Wajahnya mulai mendekatiku. Kali ini sungguh otak dan hatiku tidak bisa bekerja sama. Hatiku mengatakan jangan, tapi otakku memerintahkan untuk menerima. Menerima bibir mas Moondy yang tiba-tiba menciumku. Aku membelakkan mataku karena kaget. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Tapi aku tidak bisa berbohong jika aku menikmatinya. Menikmati ciuman lembut dadi bibir mas Moondy. Menikmati setiap sentuhan yang mas Moondy lakukan padaku. Sentuhan penuh nafsu. Ya ! Mas Moondy hanya bernafsu kepadaku. Tanpa cinta. Aku tersadar. Aku harus menghentikan ini. Kucoba untuk menjauhkan wajah mas Moondy dadi leherku, tapi aku tak bisa. Justru dia semakin erat menciumiku. Tangannya terus meremas dadaku. Sungguh aku menikmatinya, aku selalu menunggu mas Moondy untuk melakukan ini padaku sebagai istrinya. Ciuman mas Moondy menurun ke tengkukku, rasa merinding di sekujur tubuhku.
"Mas, aku Pelangi. Bukan Bulan. Istighfar mas." Aku sengaja melontarkan kata itu. Dan tentu saja berhasil. Mas Moondy melepaskanku. Dia menatapku tajam. Tatapan penuh nafsunya hilang seketika.
"Sorry." Mas Moondy kemudian membenarkan duduknya kembali dan langsung memasuki kamar mandi.
Aku kecewa. Aku menangis. Ternyata mas Moondy benar-benar menjadikanku pelampiasan saat dia jauh dari Bulan. Kupikir mas Moondy akan melakukannya dengan penuh cinta kepadaku. Aku salah. Aku menyesal telah mengijinkan mas Moondy untuk menyentuh dan menciumiku. Aku menyesal telah menikmati segala sentuhan dan ciumannya.
****
Setelah tiga hari akhirnya kami kembali juga ke Semarang. Semenjak peristiwa malam itu aku dan mas Moondy menjadi agak sedikit canggung. Di depan orang banyak pun acting kita juga jadi aneh. Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam perjalanan akhirnya kami sampai juga.
"Buka gerbangnya!" Perintah mas Moondy begitu kita sampai.
Aku segera beranjak turun dari mobil dan membuka gerbang. Saat membuka pintu gerbang terlihat mobil honda jazz merah milik Bulan sudah terparkir rapi di dalam garasi. Mas Moondy buru-buru memasukkan mobil ke dalam garasi dan antusias berlari ketika memasuki rumah, mungkin dia buru-buru untuk menemui Bulan.
Aku memasuki rumah dengan terseok-seok membawa koper dan buah tangan dari rumah mertuaku. Sungguh menyebalkan sekali mas Moondy ataupun Bulan tidak keluar membantuku. Aku mendengus kesal melihat kelakuan mereka. Memasuki rumah kudengar suara desahan Bulan. Aku berdecak kesal dan langsung mencari sumber suara. Dan ternyata mereka bercumbu tepat di ruang depan tv. Sungguh memalukan.
"Ehem ... " Aku sengaja berdehem. Dan berhasil. Mereka berdua melepaskan aktivitas mesum mereka.
"Ngi ... " Bulan beranjak berlari ke arahku. Tak lupa dia benarkan dulu kemejanya yang terlepas karena ulah mas Moondy.
KAMU SEDANG MEMBACA
madu dalam perahu
Non-Fictionaku istri sahnya secara negara dan agama. namun bukan hanya aku saja. masih ada gadis ayu yang bernama Bulan yang juga menjadi istri sah negara dan agama.
