Pemandangan familiar menyambut matanya. Hawa panas yang menyelimuti tubuh terasa seperti membakar hidup-hidup. Napasnya terasa sesak. Ann berusaha menghirup udara dengan susah payah sampai membuat dadanya sakit.
Tubuhnya terasa terguncang, Ann merasakan perasaan asing yang menggairahkan menjalar di sekujur tubuhnya. Tangannya bergerak mencengkram apapun yang bisa ia tangkap. Ann mengerang keras karena perasaan asing yang terus menusuk tubuhnya. Ia melihat sosok bersurai hitam tengah mencengkeram kakinya dan terus bergerak menusuk bagian bawahnya.
Pikirannya terasa kosong saat menatap sosok yang ia kenal. Tangannya perlahan terangkat berusaha meraih sosok itu, gerakan yang terasa membakar tubuhnya melambat, membuatnya bisa meraih wajah sosok itu.
Wajahnya terasa hangat hingga sebuah tangan mendorong kepalanya dari belakang, membuat bibirnya bertemu benda kenyal yang memaksa masuk ke dalam mulutnya.
Sosok itu melepaskan cengkramannya dan mendorong tubuhnya lagi. Pandangannya sesaat menatap langit-langit. Perasaan menusuk itu kembali ia rasakan, membuatnya tak bisa menahan suaranya lagi. Ia mencari surai hitam itu lagi, tangannya terangkat ingin meraih sosok familier yang ada disana, hingga...
Grep.
Ann terbangun seketika. Pandangannya silau karena langit siang hari langsung menyambut pengelihatannya. Setelah ia bisa fokus melihat sekitar, sosok Alva lah yang pertama ada di sana sedang memegang tangannya erat.
"Bangun, mimpi apa kamu?" tanya Alva heran.
Ann menarik tangannya dan langsung bangun hendak kabur, tapi kepalanya terasa berat hingga ia oleng. Beruntung Alva langsung menahannya, tatapan mereka bertemu sesaat. Ann yang tersadar buru-buru menepis tangan itu dan kabur. Ann berlari menjauh lalu melihat Xici duduk di bawah payung lebar berlindung dari sinar matahari. Tanpa pikir panjang, ia langsung mendekat dan duduk di samping Xici. Jantungnya masih berdegup kencang mengingat mimpi yang baru ia alami, perasaan sesak itu benar-benar terasa nyata.
"Kakak ipar kenapa? Kok panik gitu, abis dijahilin sama Kak Alza, ya?" curiga Xici langsung melirik pada Alza yang sedang menikmati air kelapa di belakang.
"Heh, jangan sembarangan, tuh. Tanyain yang satu itu," balas Alza menunjuk ke arah Alva yang mendekati tempat mereka berteduh. "Mau?" tawar Alza menyodorkan kelapa muda pada saudara kembarnya, dan langsung dibalas anggukan. Ann melihat Alva mengambil kelapa itu dari tangan saudaranya dan langsung meminumnya. Dari jarak yang cukup jauh, ia bisa mendengar suara tegukan dan gundukan yang terus bergerak gerak. Ann terpaku melihat itu.
"Alva, bantu Ayah sebentar," panggil sang Ayah. Alva langsung mengangguk lalu pergi setelah menyerahkan kembali kelapa muda itu pada Alza.
"Ann mau, Sayang?" Suara sang Bunda mengalihkan perhatian Ann. Belum sempat ia menjawab, 1 buah kelapa yang terlihat sangat segar sudah berada di tangannya. Setelah mengucapkan terima kasih, Ann langsung meminumnya. Ia baru sadar jika ia sangat kehausan sampai menghabiskan setengah lebih dari air kelapa itu.
"Ann kenapa kok jarang main? Nggak betah, ya?" tanya sang Bunda saat duduk di sampingnya.
Ann langsung terdiam. Ia sangat bingung harus menjawab apa. Kepalanya terasa sangat kosong saat mendengar pertanyaan itu. "Eh, nggak Bunda. Cuma sibuk kerja aja," balas Ann tanpa mempersiapkan alasan apa pun. Ia hanya menjawab sebisanya sesuai kebiasaan.
"Kakak ipar sibuk banget, Bunda. Liat deh. Tagar postingannya aja udah hampir 2 ribu lohh, padahal kakak ipar baru kerja 2 bulanan. Pasti sibuk terus," balas Xici sambil menunjukkan layar handphone-nya pada sang Bunda, yang secara tak langsung membantu Ann membenarkan jawabannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
I'm not Enigma [TERBIT]
RomanceAnn, seorang pembunuh bayaran yang beralih profesi menjadi barista, tetapi diam diam ia bekerja lagi dengan seorang Enigma berbahaya bernama Alva Edison, kerjasama yang dibangun secara sepihak ini membuatnya harus memutar otak untuk menolak setiap m...