Bab 5 - Rasa Iri

258 9 2
                                        

Hari berikutnya, Eliza menghabiskan waktu liburnya untuk menyelesaikan lukisan yang dia buat kemarin malam. Biasanya dia akan mengunjungi rumah Bara untuk sekedar menganggu sahabatnya itu atau mengajak Affan dan Bara untuk jogging dan setelahnya bermain basket.

Eliza menyelesaikan lukisannya setelah dua jam berkutat dengan itu dikamarnya. Sampai-sampai dia sama sekali tidak mengecek ponselnya sejak tadi. Ada banyak chat masuk dan beberapa panggilan tak terjawab dari kedua sahabatnya.

Bara is calling....

Tepat ketika Eliza mengecek ponselnya, Bara kembali menelpon. Dengan cepat Eliza menjawab panggilan itu.

"Akhirnya diangkat juga panggilan gue," ucap Bara tanpa menyapa.

"Kenapa sih?" Eliza berucap enggan, karena dia masih sedikit kesal karna Bara ingkar janji kemarin.

"Lo tuh yang kenapa, hampir seharian nggak bisa dihubungin." Bara memarahi Eliza tapi terselip nada khawatir didalamnya.

"Apasih, gue di rumah. Lagi beresin lukisan kemarin. Kan gara-gara lo juga lukisan gue belum kelar." Eliza balik mengomeli Bara, mengingat kejadian di ruang ukm lukis kemarin.

"Ya maaf, kan mendadak juga Ody telponnya. Lagian gue kemarin balik lagi, tapi lo udah pergi. Gini deh, sebagai permintaan maaf sekarang lo siap-siap gue ajak jalan berdua doang,"

Bara membujuk Eliza agar mau memaafkannya dan tidak mengungkit soal kemarin. Karena Bara benar-benar merasa bersalah, walaupun sudah berusaha secepat mungkin kembali ke kampus agar tetap bisa mengantarkan Eliza sesuai janjinya.

"Males ah, mau nonton aja gue. Lagian siang-siang gini mau kemana sih? Panas," tolak Eliza karena masih enggan bertemu dengan Bara. Ah, bukan lebih tepatnya masih enggan kalau pada akhirnya dia akan dikecewakan lagi oleh ekspektasinya sendiri.

"Sepuluh menit lagi gue jemput dan lo harus sudah siap." Bara tidak membiarkan Eliza membantah karena dia langsung memutuskan panggilan.

Benar saja, Bara muncul di rumah Eliza. Bahkan kini dia sudah duduk manis di ruang tamu sembari memakan puding buatan Bunda.

"Mau ngapain sih? Gue males keluar."

Eliza berharap kali ini Bara tidak memaksanya agar tetap ikut. Bukan apa-apa, Eliza hanya tidak ingin membuat Ody berpikir yang tidak-tidak tentangnya.

"Buruan ganti baju," titah Bara dan kembali fokus pada puding yang masih tersisa separuh dipiringnya.

Mau tak mau Eliza kembali ke kamarnya untuk mencuci muka dan berganti baju seperti permintaan Bara. Walaupun sebenarnya dia enggan untuk pergi dengan Bara bila hanya berdua seperti ini, karena akan rawan menjadi salah paham.

"Nah gitu kan cakep. Yuk, beb kita jalan-jalan." Bara menyambut Eliza begitu gadis itu menuruni tangga. Dia sudah bersiap agar tangganya digandeng oleh Eliza. Tapi sayangnya Eliza tidak peduli dan melewati Bara begitu saja.

=========

Bara mengajak Eliza ke pameran lukisan yang kebetulan sedang berlangsung di Rumah Seni Rapih. Entah dapat dari mana soal info pameran ini. Tapi yang pasti, Eliza sangat berterimakasih pada Bara karena mengajaknya ke tempat seperti ini.

"Emang cuma pameran lukisan yang bisa bikin lo seseneng ini," gumam Bara sambil memandangi Eliza yang kesenangan karena bisa dengan puas menatap lukisan-lukisan terkenal yang manjadi favoritnya.

"Lo dapet dari mana deh info sama tiket soal pameran ini?" Eliza bertanya penasaran. Karena setahunya, pameran ini harus reservasi terlebih dahulu agar bisa datang dan melihat lukisan yang dipamerkan.

FRIENDZONE [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang