Sejak hari itu, sejak Eliza akhirnya jujur soal perasaannya untuk Bara. Gadis itu tidak pernah lagi mau bertemu dengan Bara. Eliza mati-matian berusaha untuk menghindari Bara dengan berbagai cara yang dia tahu dan dia bisa.
Bahkan, dia rela membolos UKM lukis hanya agar tidak bertemu dengan Bara. Padahal dia itu anti membolos, apalagi materi yang diajarkan pelatihnya adalah materi kesukaan Eliza.
"Lo mau sampai kapan hindarin Bara? Sampai diniatin mau bolos UKM pula. Padahal biasanya mana mau lo bolos." Grady menatap Eliza menuntut.
"Nggak tahu, gue masih belum bisa ketemu Bara." Eliza berucap lirih.
"Padahal Bara nggak akan tahu soal kejadian kemarin. Gue yakin Melody nggak akan biarin Bara buat tahu. Jadi lo nggak perlu khawatir seharusnya," ucap Grady hati-hati karena tidak ingin ucapannya menyinggung Eliza.
"Gue nggak mau bikin Ody salah paham lagi, gue capek disalahin mulu. Lagi pula gue harus fokus sama persiapan pameran kan?" sahut Eliza sambil pelan-pelan mengalihkan pembicaraan.
Grady yang memahami kalau Eliza enggan membahas soal Bara mengikuti arah pembicaraan Eliza. Dia tidak lagi membahas soal kejadian kemarin, Bara dan juga Melody.
"Ngomong-ngomong soal pameran lukisan. Lo emang udah ngeiyain tawarannya Bang Kevin?" tanya Grady benar-benar mengikuti alur obrolan Eliza.
Eliza mengangguk sebagai jawaban. Dia memang sudah mengiyakan tawaran Kevin sejak kemarin. Hanya saja Eliza belum menceritakan soal itu pada Grady karena tiba-tiba ada insiden di lapangan basket itu.
"Udah, gue udah bilang Kak Kevin kemarin. Tapi lupa mau ngasih tahu lo." Eliza berucap sambil memainkan jari tangannya karena sedikit gugup.
"Tapi sekarang lo malah nggak ikut kelas lukis. Padahal lo butuh itu materi buat persiapan," ucap Grady menyayangkan keputusan Eliza yang memilih untuk membolos.
Eliza hanya tertawa pelan, karena jarang-jarang Grady akan menggerutu seperti ini. Biasanya dia akan mendukung semua keputusan Eliza atau memberinya saran bila dibutuhkan.
"Nggapapa, lagi pula gue juga rasanya kurang enak badan. Jadi mau ikut kelas aja terus abis itu pulang." Eliza beranjak untuk segera masuk kelas, karena dosennya sudah terlihat dikoridor sedang berjalan menuju kelas Eliza.
"Yaudah, semangat kuliahnya. Nanti kabarin gue aja kalau mau pulang atau lo bisa telpon Bang Affan buat minta jemput." Grady menepuk pelan kepala Eliza dan berjalan ke arah sebaliknya untuk kembali ke sekertarit BEM.
Eliza mengikuti perkulihan dengan tenang, walaupun dia merasa sedikit pusing. Sepertinya ini efek karena akhir-akhir ini Eliza terlalu banyak memforsir tubuhnya untuk melakukan banyak hal. Dia sengaja melakukan itu untuk mengalihkan pikirannya dari kejadian tempo hari di lapangan basket.
Tapi akibatnya, Eliza justru tumbang sekarang. Rasa pusing mendera dan membuatnya menjadi lemas. Eliza sengaja berdiam diri dan menelungkupkan kepalanya, berharap bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya.
"El, jadi mau ke Braga buat lihat lukisan." Kevin berseru dari balik pintu dan menyadarkan Eliza yang hampir terlelap.
Eliza mendongak dan menatap Kevin dengan mata sayunya. Dia hanya menggeleng pelan dan duduk menopang dagu menunggu Kevin mendekat.
"Loh, lo sakit? Kenapa maksain masuk kuliah." Kevin meletakan tangannya di dahi Eliza bermaksud untuk mengecek suhu tubuhnya.
Kevin melepaskan jaket yang dia pakai dan memberikannya pada Eliza agar dipakai, "Pakai ini, terus ayo gue anter pulang. Gue kabarin Reva dulu."
Setelah mengabari Reva, Kevin menuntun Eliza untuk masuk ke mobilnya agar bisa segera diantar pulang.
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan diantara keduanya. Kevin membiarkan Eliza terlelap di sampingnya sampai tiba di rumahnya nanti.
=======
Di tempat lain, Bara sama sekali tidak bisa fokus memperhatikan penjelasan pelatihnya. Pikirannya terlalu penuh dengan kejadian tempo hari. Bara masih merasa penasaran dengan apa yang sengaja disembunyikan Ody darinya.
"Bara! Jangan memikirkan hal lain saat saya menjelaskan materi."
Bara benar-benar tidak bisa fokus dengan kegiatannya hari ini. Bahkan dia sampai kena tegur oleh pelatihnya. Padahal selama ini Bara adalah salah satu anak kesayangan Sang Pelatih.
"Maafkan saya, Pak. Sepertinya saya kurang enak badan, saya mohon ijin untuk tidak ikut kelas kali ini."
Bara memilih untuk ijin tidak mengikuti UKM daripada kena tegur untuk yang kedua kalinya. Dia memilih untuk berjalan keluar area gedung UKM untuk sekadar mencari suasana baru agar pikirannya sedikit lega.
Tanpa sengaja Bara justru melihat Eliza yang berlajan pelan bersama Kevin. Sebenarnya Bara penasaran, ingin bertanya tapi gengsinya terlalu tinggi. Jadi dia tetap diam dan hanya mengamati Eliza dan Kevin sampai keduanya masuk mobil.
Saat sedang memikirkan soal Eliza, ponsel di saku Bara berdering dengan cukup nyaring. Membuat Bara tersadar dari lamunannya.
"Lo dimana?" tanya si penelpon tanpa basa-basi.
"Area parkir gedung UKM," sahut Bara sambil berjalan menuju gazebo terdekat untuk duduk.
"Bolos UKM lo?"
Tanpa sadar Bara mengangguk, hingga menbuat lawan bicaranya harus kembali bertanya agar memperoleh jawaban.
"Tumben amat lo bolos UKM? Kompak amat lo berdua."
"Daripada diusir pelatih, mending gue ijin nggak ikut sekalian. Seenggaknya masih dihitung masuk."
"Gue ke situ," ucapnya dan langsung memutuskan panggilan itu.
Tak lama kemudian Grady mencul dan ikut duduk di sebelah Bara. Mereka hanya diam sampai hampir tiga puluh menit terlewat, sampai akhirnya Bara lebih dulu membuka suara.
"Lo ngapain nelpon gue?"
"Sebenernya cuma mau memastikan, tapi udah terjawab," sahut Grady membingungkan. "Ternyata kalian berdua sama aja."
Bara menatap bingung Grady yang duduk disebelahnya. Dia sama sekali tidak memahami maksud ucapan Grady.
"Lo sama Eliza, hobinya menghindar kalau ada masalah. Mana yang satu nggak peka satunya denial mulu." Grady lagi-lagi mengejek Bara.
Tapi memang benar, Eliza dan Bara memang seperti itu. Mereka akan saling menghindar dan termakan emosinya tsendiri. Mereka akan menjunjung tinggi gengsinya dan tidak akan akur sebelum aalah satunya mau mengalah.
"El, bolos? Berarti bener yang gue lihat tadi El. Tapi tumben dia nggak eskul."
"Kalau penasaran tanya sendiri ke orangnya. Gue nggak mau jadi tukang pos yang nyampein pesen lo buat El atau sebaliknya. Lagi pula, lo berdua harus beresin masalah kemarin."
"Gampanglah itu, ayo cabut. Gue bosen dari tadi cuma liatin orang lalu lalang." Bara menarik pelan Grady dan membuat sahabatnya itu mau tak mau beranjak dari duduknya karena Bara menyeretnya.
Grady tidak akan membuka apapun walaupun Bara memaksanya. Karena dia sendiri pun tidak tahu soal Eliza saat ini kecuali pagi tadi. Jadi apapun yang nantinya Bara tanyakan hanya akan sia-sia karena tidak akan mendapat kan jawaban.
=======
Rhain
14072023
KAMU SEDANG MEMBACA
FRIENDZONE [TERBIT]
RomansaTentang Eliza yang terjebak dalam kukungan rasa yang tak seharusnya tercipta dalam sebuah ikatan persahabatan. Rasa yang membuat hatinya terus merasa bimbang. Akankah mempertahankan persahabatannya Atau justru mengikuti kata hatinya? =============...
![FRIENDZONE [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/345528266-64-k556350.jpg)