Affan dan Reva berakhir menemani Eliza berkeliling toko alat lukis. Mereka juga mampir ke penjual lukisan yang ada di pinggir jalan untuk sekedar melihat-lihat. Banyak lukisan yang menarik perhatian Eliza. Dia beberapa kali berhenti hanya untuk sekadar mengamati lukisan.
"Kak? Kalau kalian mau pulang duluan nggapapa. Gue kayaknya masih mau jalan-jalan, siapa tahu nemu inspirasi buat lukisan." Eliza berbalik menghadap Affan dan Reva yang berdiri di belakakangnya.
"Yakin, Dek?"
Eliza mengangguk sebagai jawaban. Dia tidak ingin merepotkan Affan dan Reva. Lagi pula dia sudah biasa berkeliling di area Jalan Braga sendirian seperti ini. Jadi tidak masalah kalau kali ini dia juga berjalan-jalan sendirian.
"Yaudah nanti kalau ada apa-apa kabarin. Kevin juga kayaknya lagi lihat-lihat gedung yang mau buat pameran. Nanti kabarin dia aja biar bisa pulang bareng," ucap Affan memberi saran.
"Aman Kak, gue pulang sendiri juga nggakpapa kok," sahut Eliza sambil berjalan menjauh dari Affan dan Reva.
Eliza berjalan-jalan disekitar Braga, menikmati indahnya sore di Braga. Sepanjang jalan dekat Museum Asia Afrika hingga Gedung Merdeka tampak banyak orang berlalu lalang sambil sesekali berhenti untuk berfoto bersama orang yang sedang cosplay.
Sore hari di Braga memang pilihan terbaik untuk sekadar menghabiskan waktu sendirian. Eliza sama sekali tidak merasa kesepian walaupun berjalan-jalan sendirian seperti ini. Eliza justru sangat menikmati, dia menemukan banyak inspirasi untuk lukisannya nanti.
"Seru banget kayaknya lihatin aktivitas orang-orang."
Tiba-tiba Bara duduk di samping Eliza dan membuat gadis itu sedikit tersentak karena Bara mengusak rambutnya pelan.
"Kok lo disini? Melody mana?" Eliza menengok ke arah Bara.
"Ody udah pulang duluan, tadi dia disamperin temennya. Terus gue ketemu Bang Affan, katanya lo lagi keliling sendirian. Jadinya gue susulin lo aja." Bara menjelaskan alasannya berada disana.
"Kok lo tahu gue disini?" tanya Eliza penasaran, karena Bara bisa dengan mudah menemukan dirinya diantara banyaknya manusia yang ada di sekitar Jalan Braga.
"Gue sebenarnya mau samperin lo dari tadi. Tapi karena gue nggak mau ganggu lo yang katanya pengen sendirian, jadinya gue ngikutin lo aja dan baru sekarang nyamperin," ujar Bara sambil menatap Eliza tenang.
"Padahal langsung nyamperin juga nggakpapa."
"Dibilang gue nggak mau ganggu kok," kata Bara sambil berdiri dan menarik tangan Eliza agar gadis itu juga berdiri.
"Mau kemana?"
"Ikut dan nggak usah banyak tanya." Bara tidak menjawab pertanyaan Eliza tetapi malah menyuruh gadis itu untuk diam dan tidak banyak bertanya.
Ternyata Bara membawa Eliza ke alun-alun kota. Entah apa yang sedang direncanakan Bara. Eliza hanya pasrah mengikuti, toh dia tidak rugi juga mengikuti Bara seperti ini.
"Ayo naik," ucap Bara mengulurkan tangannya bermaksud membantu Eliza untuk naik ke bus.
Eliza hanya menatap bingung Bara. Eliza sama sekali tidak terpikirkan kalau Bara akan mengajaknya berkeliling seperti ini. Benar-benar di luar perkiraan sekali ide Bara kali ini. Tapi walaupun begitu, Eliza sangat menikmati. Dia mendapatkan banyak sekali inspirasi lukisan berkat Bara.
"Lo tuh, kenapa bisa kepikiran kayam gini?" tanya Eliza masih tidak menyangka.
"Nggak tahu, tadi pas lihat tiba-tiba terlintas dipikiran gue gitu aja. Lagi pula nggak rugi juga sih. Kita tinggal duduk, terus menikmati pemandangan kota." Bara tersenyum lebar, sepertinya dia memang benar-benar menikmati tour dadakan ini.
"Makasih ya, kalau nggak disamperin lo tadi kayaknya gue akan jadi anak hilang yang jalan sendirian di tengah lautan manusia."
"You're welcome," sahut Bara sambil mengelus tangan Eliza yang masih dalam genggamannya.
Mereka berdua menikmati sore itu dengan banyak hal menarik. Dari berkeliling kota, berfoto dengan cosplayer sampai hanya duduk santai di alun-alun kota bersama banyak orang lain yang juga melakukan hal yang sama. Banyak inspirasi dan juga kenangan yang Eliza dapatkan ketika bersama Bara sore ini.
"Gue telponin nggak dijawab, ternyata lagi asik ngobrol sama Bara disini."
"Eh? Kak Kevin!" seru Eliza kaget karena Kevin berdiri di hadapannya dengan raut wajah khawatir sekaligus lega yang sangat terlihat jelas.
"Lo tuh! Untung alun-alun lumayan sepi jadi gue gampang nemuin lo." Kevin menyentil dahi Eliza cukup keras, sebagai bentuk kekesalan karena dibuat khawatir oleh gadis itu.
"Ih, kok lo diem aja sih? Bantuin gue, jelasin ke Kak Kevin biar dia nggak marah lagi." Eliza menarik lengan baju Bara bermaksud meminga bantuan Bara agar tidak kena marah Kevin.
"Udah, mending lo duduk. Eliza nggak akan hilang. Jadi lo nggak usah khawatir lagi." Bara akhirnya berbicara juga untuk meredakan emosi Kevin.
Kevin menuruti omongan Bara. Dia duduk di samping Eliza dan ikut mendongak untuk memandang langit yang mulai berubah warna menjadi gelap.
"Lo pulang sama Kevin ya, gue duluan. Masih ada yang harus gue urus." Tak berselang lama dari Kevin tiba, Bara berpamitan untuk pulang lebih dulu.
"Kok nggak bareng sekalian?"
"Terus mobil gue ditinggalin gitu? Yang bener aja,"
Eliza mengangguk dan berakhir mendapatkan sentilan lagi di dahinya. Kali ini dari Bara.
"Bang nitip El, gue duluan."
Setelah Bara pergi, baik Eliza maupun Kevin tak ada satu pun yang berniat memulai obrolan. Keduanya sama-sama diam dan fokus dengan pikirannya masing-masing. Hingga waktu yang berharga terbuang sia-sia.
Eliza berdiri dan membersihkan celana panjangnya. Dia mengulurkan tangannya bermaksud menyuruh Kevin untuk berdiri, "Ayo, Kak. Kita pulang."
Tangan Eliza disambut oleh Kevin. Dia langsung menarik Eliza untuk berjalan di sampingnya.
========
Disisi lain, Bara yang baru saja tiba disambut dengan omelan Ody karena terlambat datang menjemput.
"Kamu tuh, aku baru jalan sama temanku sebentar kamu udah hilang entah kemana."
Bara tidak menjawab, dia langsung duduk disalah satu kursi kosong yang tidak jauh dari tempat duduk Melody. Dia tidak beniat untuk bergabung, hanya duduk menyendiri dan fokus dengan ponselnya.
"Ayo, pulang," ajak Melody sambil mengenggam tangan Bara dengan lembut.
Bara mengangguk dan langsung berdiri. Dia berjalan pelan keluar cafe bersama Ody yang mengekor di belakangnya.
"Kamu tadi kemana? Kenapa tiba-tiba menghilang," tanya Melody sekali lagi karena masih penasaran.
"Aku tadi jalan-jalan sebentat buat lihat lukisan dan nggak sengaja ketemu temen lama," sahut Bara mengarang cerita, tapi sebenarnya itu tidak sepenuhnya berbohong. Kan Eliza memang teman Bara.
"Aku kira kamu pergi sama Eliza, karena tadi aku lihat Eliza duduk di depan Gedung Merdeka." Melody menjaskan kecurigaannya pada Bara.
"Iya tadi aku lihat, Eliz lagi jalan sam Bang affan dan Kak Reva," ucap Bara seadanya, karena memang tadi dia benar-benar bertrmu dengan Eliza.
=======
Bara bohong ke Melody, kenapa ya?
Kira-kira ada tujuan apa Bara kayak gitu?
Rhain
23072023
KAMU SEDANG MEMBACA
FRIENDZONE [TERBIT]
RomantikTentang Eliza yang terjebak dalam kukungan rasa yang tak seharusnya tercipta dalam sebuah ikatan persahabatan. Rasa yang membuat hatinya terus merasa bimbang. Akankah mempertahankan persahabatannya Atau justru mengikuti kata hatinya? =============...
![FRIENDZONE [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/345528266-64-k556350.jpg)