Sejak diantar pulang oleh Kevin tempo hari, Eliza hanya bisa berdiam diri di kamar. Sang Bunda tidak mengijinkan Eliza untuk ke kampus, beliau memaksa anal gadisnya itu untuk beristirahat di rumah. Padahal sebenarnya Eliza sudah merasa enakan dan ingin berangkat kuliah hari ini.
"Bunda, aku ke kampus ya? Hari ini kuliahnya cuma satu matkul abis itu aku langsung pulang deh." Eliza merengek agar diberi ijin untuk berangkat ke kampus. Tapi usahanya itu sepertinya sia-sia, karena Bunda tetap kekeuh dengan keputusannya.
"Justru karena cuma satu matkul, jadi nggak masalah kalau kamu ijin nggak ikut," balas Bunda sambil fokus menata hidangan di meja makan.
"Tapi, Bund... "
"Nggak ada bantahan, nurut apa kata Bunda."
Eliza menunduk pasrah, dia tidak berani membantah lagi. Karena ucapan Sang Bunda mutlak dan tidak tergoyahkan.
"Pagi Bunda,"
Seruan Grady sedikit mencairkan ketegangan yang ada di ruang makan. Eliza merasa sedikit beruntung karena Bunda tidak akan memarahinya lagi bila ada Grady. Karena Grady sudah pasti akan membela Eliza.
"Pagi, sini duduk sekalian ikut sarapan bareng kami." Bunda menawari Grady untuk ikut sarapan.
Ditawari seperti itu, Grady jelas tidak menolak. Dengan senang hati dia duduk di kursi kosong samping Eliza dan langsung memakan roti coklat yang disiapkan Bundanya El untuknya.
"Kenapa baru dateng sekarang sih, harusnya dari tadi. Biar gue bisa ikut lo ngampus." Eliza berbisik pada Grady tapi tidak dihiraukan.
"Gue makan dulu, abis ini gue bantuin biar lo bisa keluar rumah. Gue tahu lo mau ketemu Bang Kevin." Grady meneguk habis susu yang disiapkan, dia tidak lupa berterima kasih pada Bunda.
"Ah iya, Bunda baru inget. Kok akhir-akhir ini bunda jarang lihat Bara ya? El, juga lebih banyak di rumah dari sebelum sakit. Sekarang juga, pas El sakit tumben banget Bara nggak muncul."
"Ya mana mungkin, Bara aja nggak tahu kalau gue sakit. Lagi pula dia pasti jalan sama Melody sih." Eliza berucap tanpa suara menjawab pertanyaan Bunda.
"Kalian lagi ada masalah?" Bunda bertanya lagi.
"Nggak Bun, Bara lagi sibuk kayaknya. Kita emang akhir-akhir ini lagi sibuk sama kegiatan yang beda-beda, makanya jarang ketemu," sahut Grady cepat, agar Bunda tidak lagi bertanya perihal Bara.
"Bunda kira kalian ada masalah, syukurlah kalau begitu." Bunda tersenyum lega karena prasangka beliau tidak benar.
"Bun, aku mau ajak El keluar bentar boleh nggak? Butuh bantuan El soalnya." Grady berusaha membujuk Bunda dengan alasan membutuhkan bantuan Eliza, agar sahabatnya itu diijinkan untuk keluar rumah.
"Mau kemana emangnya? El, baru aja sembuh."
"Sebentar doang kok, janji nggak akan sampai sore."
Bunda mengangguk, beliau memperbolehkan Grady untuk membawa Eliza keluar rumah dengan syarat tidak boleh sampai sore. Tentu saja Grady dan Eliza menyetujui itu.
======
Seperti janjinya pada Grady tempo hari. Eliza mengajak Grady untuk menemaninya menemui Kevin. Eliza berniat menjawab tawaran Kevin perihal pameran lukisan.
"Padahal kasih tahu lewat telpon atau chat bisa lho, El. Lo baru sakit kayak gini malah keluar rumah cuma buat ketemu gue," ucap Kevin merasa tidak enak.
"Kan gue nggak punya nomor lo, Kak. Lagi pula gue bosen di rumah, jadi sekalian aja."
"Sini hp lo, gue kasih nomor gue. Biar lo nggak bisa chat atau telpon kalau mau obrolin soal pameran." Kevin mengambil ponsel Eliza dan mengetikan sederet angka disana.
"Alus bener modusnya, gue nyontek ah. Lumayan buat nyari gebetan," kata Grady menggoda.
Kevin langsung mendelik, bisa-bisanya Grady kepikiran seperti itu. Untungnya Eliza tidak menghiraukan ucapan Grady, jadi Kevin tidak perlu mengelak atau mencari alasan apabila Eliza bertanya.
"Yaudah, berarti minggu ini kita mulai persiapan ya. Tapi kalau misal masih nggak enak badan jangan dipaksain." Kevin mengusak lembut kepala Eliza, membuat Eliza sedikit salah tingkah.
"Awas baper." Lagi-lagi Grady menggoda Eliza dan Kevin.
"Diam! Nggak usah berulah," ucap Eliza sambil memukul pelan kepala Grady dengan buku menu yang dia pegang.
"Siniin, dari pada buat mukul gue mendingan gue pesen makanan." Grady merebut buku menu dari tangan Eliza dan langsung memesan makanan untuk mereka bertiga.
Mereka bertiga mengobrol dan bergurau sambil menikmati makanan yang dipesan Grady. Sampai tanpa sengaja Eliza melihat Bara memasuki cafe yang sama.
"Itu Bara bukan sih?" tanya Eliza yang penasaran dengan apa yang dia lihat.
"Iya, tumben banget dia sendirian. Gue ajakin gabung ya?" Kevin meminta persetujuan Grady dan Eliza untuk mengajak Bara bergabung bersama mereka.
Grady menatap Eliza penuharti, dia tidak bisa sembarangan mengiyakan pertanyaan Kevin. Karena dia tidak tahu apakah Eliza sudah mau bertemu dengan Bara.
"Boleh, Kak. Ajakin gabung aja." Eliza mengiyakan permintaan Kevin dan dengan cepat Kevin membawa Bara duduk di sampingnya yang berarti itu di hadapan Eliza.
Bara hanya duduk diam sejak bergabung bersama, sesekali dia akan ikut menimpali pembicaraan. Sedangkan Eliza sejak Bara datang justru berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Dia sama sekali tidak bersuara sejak tadi. Benar-benar sangat canggung kedua orang itu.
Eliza dengan sengaja menyenggol kaki Grady, memberikan kode agar Grady segera mengajaknya pulang. Eliza sudah tidak tahan dengan suasana canggung yang tercipta diantara mereka.
"Apasih? Sabar kenapa. Lagian lo nggak ngobrol sama Bara, mumpung ketenu nih." Grady berbisik penasaran, karena memang instensitas pertemuan mereka yang semakin berkurang.
"Buruan, gue pusing. Bukan karena nggak mau ketemu Bara," bisik Eliza sedikit memaksa.
"Bang, kita balik duluan ya. Eliza agak pusing katanya." Grady langsung berpamitan tapi bodohnya dia malah keceplosan perihal Eliza yang sakit.
"Kenapa Bara nggak bokeh tahu soal lo yang sakit." Gady bertanya heran saat keduanya tiba di rumah Eliza dan duduk mengobrol.
"Bukannya nggak mau, tapi nggak bisa. Gue harus fokus ini dulu. Kalau gue ngobrol sama Bara, yang ada buyar semua kerjaan gue. Lo tahu sendiri, gue sengaja menyibukkan diri biar lupa sama masalah waktu itu. Lagi pula, lebih baik kayak gini kan? Jadi gue nggak disebut pengganggu hubungan orang." Sahut Eliza menjelaskan panjang lebar.
Grady mengangguk paham, dia tidak mau memaksa Eliza. Walaupun sebeneranya dia ingin membuat Bara dan Eliza saling berbaikan. Karena merasa kasihan pada Bara. Tapi apalah daya, Eliza sendiri yang menolak jadi Grady hanya bisa diam.
Eliza bukannya tidak mau berbicara dengan Bara, dia sangat mau. Tapi dia masih merasa canggung. Eliza bingung harus memamulai dari mana apabila mengobrol dengan Bara. Makanya tadi Eliza memilih untuk sekedar melihatnya saja dari kejauhan. Mungkin suatu saat mereka akan bisa berbaikan lagi.
=======
Rhain
18 Juli 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
FRIENDZONE [TERBIT]
RomanceTentang Eliza yang terjebak dalam kukungan rasa yang tak seharusnya tercipta dalam sebuah ikatan persahabatan. Rasa yang membuat hatinya terus merasa bimbang. Akankah mempertahankan persahabatannya Atau justru mengikuti kata hatinya? =============...
![FRIENDZONE [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/345528266-64-k556350.jpg)