Bab 30 - Bara (3)

132 3 0
                                        

Sejak obrolannya dengan Affan, sikap Bara sedikit lebih melunak pada Eliza. Seperti kali ini, Bara tidak berbicara apa pun ketika Melody mengadu kalau Eliza membentak pacarnya itu.

"Kamu tuh kenapa sih? Aku dibentak sama El, padahal aku nggak salah apa-apa. Tapi respon kamu cuma diam aja kayak gini?" Melody memprotes Bara karena hanya diam ketika dia mengadu.

Bara hanya mengangguk asal ketika Melody berbicara. Karena sejak tadi fokus matanya bukan tertuju pada Melody yang duduk di depannya, melainkan pada Eliza yang terlihat asik mengobrol dengan Reva di meja seberang.

"Kayaknya dari tadi Bara lihatin lo, El." Reva menepuk pundak Eliza agar gadis itu menengok ke arah Bara yang sejak tadi memandang mereka.

"Hah? Ngapain dia?" tanya Eliza heran karena Bara terus menatapnya, padahal jelas-jelas Melody sedang duduk di hadapan Bara.

"Biarin lah kak, gue nggak berminat ribut sama Ody. Udah capek." Eliza tidak memperdulikan Bara yang masih menatap dirinya. Dia kembali fokus pada pembahasan perihal pameran.

"Gimana perasaan lo?" tanya Kevin yang baru saja tiba.

"Emang gue kenapa kak?" Eliza malah balik bertanya dan menatap Kevin dengan ekspresi bingung.

Reva hanya terkekeh, karena ekspreis kebingungan Eliza. Padahal Kevin bertanya seperti itu untuk memastikan keadaan Eliza setelah setelah insiden lukisan tempo hari. Tapi sepertinya Eliza sudah melupakan kejadian itu.

"Ngomong-ngomong, ini cuma perasaan gue aja atau emang Bara dari tadi curi-curi pandang ke sini?" tanya Kevin tiba-tiba, entah disengaja atau hanya sekadar penasaran.

"Kan bener yang gue bilang, emang dari tadi tuh Bara lihat kesini mulu," ucap Reva membenarkan tebakannya sendiri.

"Lo masih marah sama Bara?" tebak Kevin tepat. Karena memang Eliza masih sedikit kesal dengan Bara.

Eliza mengangguk kecil, dia mengakui kalau masih belum sepenuhnya memaafkan Bara. Tapi disisi lain, Eliza ingin segera memperbaiki hubungannya dengan Bara.

"Ah, lo tuh. Kenapa nanya kayak gitu sih? Kalau abis ini Eliza jadi bengong mulu pas diajak kerja semuanya gara-gara lo ya," rengek Reva sebal.

"Aman kok aman. Dia pasti bisa fokus sama kerjaannya, apalagi tinggal beberapa hari lagi pamerannya," ucap Kevin menenangkan Reva yang sedikit panik.

Saat sedang serius membahas perihal pameran, Bara tiba-tiba menghampiri mereka. Dia berniat membawa El untuk bicara berdua, "Gue pinjem El bentar, ntar agak sorean gue balikin lagi." Bara menarik Eliza untuk mengikutinya. Gadis itu sudah seperti barang saja yang dengan seenaknya dibawa kesana kemari oleh Bara.

"Nggak usah tarik-tarik sih, gue bisa jalan sendiri. Lagian lo mau ajak gue kemana?" protes Eliza yang merasa tidak nyaman karena ditarik-tarik oleh Bara sejak tadi.

"Kalau nggak kayak gini pasti lo nggak akan mau, jadi mending gue bawa langsung aja. Mumpung Ody juga masihdikelas." Bara melepaskan genggaman tangannya dan mendorong pelan Eliza untuk memasuki ruang UKM musik.

Eliza hanya diam, dia masih berusaha mencerna semuanya. Pelan-pelan Eliza berjalan mendekati Bara, dia masih tidak yakin kalau memang Bara yang membawanya disini.

"Ini ada apa?" tanya Eliza masih kebingungan.

"Nggak ada apa-apa sih. Gue cuma pengen ngobrol sama lo. Sebentar aja, nggak akan lama," ucap Bara terburu-buru. Dia terlihat gugup berbicara dengan Eliza.

"El, gue udah tahu semuanya. Soal perasaan lo yang selama ini lo simpan sendiri." Ada jeda sebentar, Bara melirik Eliza untuk mengatahui bagaimana ekspresi gadis yang berdiri di hadapannya itu.

"Gue tahu ini udah terlambat, tapi gue mau jujur. Gue juga suka sama lo, El. Entah sejak kapan, rasa sayang gue buat lo bukan lagi rasa sayang sahabat ke sahabatnya dan gue akui akhir-akhir ini gue cemburu lo dekat sama Bang Kevin. Walaupun gue tahu, lo sama dia lagi ada proyek bareng." Akhirnya Bara jujur juga setelah selama ini dia terus menerus denial dengan perasaannya.

Eliza masih diam, dia bingung harus menjawab apa peryataan Bara soal perasaannya. Kalau boleh jujur, Eliza merasa senang sangat senang malah karena perasaannya bersambut. Tapi disisi lain, Eliza masih ragu apakah benar perasaan Bara bukan sebuah pelarian karena hubungannya dengan Melody sedang tidak baik.

"El, boleh nggak kalau gue minta lo tetap disini sama gue. Gue tahu kalau dengan gue kayak gini gue terlihat serakah dan nggak tahu diri. Tapi gue benar-benar butuh lo sekarang, gue sayang sama lo," lirih Bara sembari menatap teduh Eliza.

"Gue juga sayang lo, sayang banget. Tapi, gue rasa kita nggak bisa sama-sama. Gue yakin, pengakuan lo ini karena lo butuh pelarian dari Ody. Yakinin hati lo, gue nggak mau nantinya lo malah akan menyesal sama keputusan yang lo ambil sekarang." Jawab Eliza bijak, dia tidak mau memanfaatkan keadaan seperti ini. Walaupun dia merasa senang karena Bara membalas perasaaanya.

"Ta-tapi, El."

"Lo nggak perlu merasa terbebani perasaan gue buat lo. Ini biar jadi urusan gue. Lo cukup yakinin hati lo dan perbaiki hubungan lo sama Ody. Lagi pula, gue juga masih coba belajar melepaskan lo dan menerima orang lain." tutur Eliza memotong ucapan Bara.

Bara mengalah, mungkin benar yang dikatakan Eliza. Perasaannya ini hanya sesaat saja karena dia butuh validasi atas perasaannya untuk Melody.

"El, boleh peluk lo sebentar?" Pinta Bara yang sudah merentangkan tangan meminta untuk dipeluk oleh Eliza.

Tanpa banyak berpikir, Eliza menghambur ke pelukan Bara. Dia merasa senang akhirnya bisa mendapatkan kembali pelukan dari Bara. Jujur saja, Eliza sangat merindukan sahabat sekaligus cinta pertamanya ini.

"Semoga lo ketemu cinta yang bisa bikin lo jauh lebih bahagia lagi," bisik Bara pelan sambil mengecup lembut pucuk kepala Eliza.

"Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih karena lo nggak menghindar lagi." lirih Eliza yang masih bisa didengar Bara.

Hubungan Bara dan Eliza pelan-pelan sudah kembali seperti sedia kala. Keduanya bisa berdamai dengan perasaan mereka masing-masing. Tetapi itu tidak berlangsung lama karena lagi-lagi Melody menganggu, dia marah pada Eliza karena Eliza

"Akhirnya lo berdua baikan, lain kali jangan ada keributan kayak gini lagi. Kalau sampai kalian ribut lagi, gue nggak akan mau bantu buat baikan," ucap Reva lega karena itu berarti tugasnya sudah selesai dan dia bisa fokus pada urusannya sendiri.

Setidaknya untuk sekarang, Eliza bisa fokus dengan pameran yang akan di laksanakan lusa. Walaupun memang hubungan Bara dan Eliza belum benar-benar baik, karena Melody datang mengganggu. Tetapi keduanya sudah saling mengerti satu sama lain. Saling memahami perasaan masing-masing. Sekalipun status mereka tidak pernah berubah dan tetap dengan embel-embel sahabat.

=====

Rhain
24082023

FRIENDZONE [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang