Berbeda dengan Eliza yang terlihat tidak terlalu memikirkan masalahanya. Bara justru dihantui rasa penasaran karena ucapan Grady tadi. Dalam benaknya masih saja terpatri dengan jelas ucapan Grady.
Apa iya, gue suka sama Eliza lebih dari sahabat. Tapi kan gue punya Ody, batin Bara bingung sendiri.
"Bengong mulu lo, masuk yuk. Malem-malem ngapain coba masih dilapangan." Eliza mendekatkan kaleng cola di pipi Bara dan membuat sahabatnya itu sedikit terlonjak karena kaget.
"Lo ngapain disini El? Udah beres ngobrol sama Bang Kevin." Bara malah balik bertanya.
"Nggak ngobrolin apa-apa kok, cuma ngobrol biasa. Lo aja yang kabur sama Grady, ternyata malah dilapangan." Eliza berucap santai sambil meminum cola yang sengaja dia bawa tadi, untuk dirinya dan Bara.
"Grady yang nyeret gue," bantah Bara yang tidak terima disalahkan oleh Eliza.
"Bisa nggak..." Eliza menjeda ucapannya dan menatap Bara tepat dimanik matanya. "Bisa nggak, kalau kebiasaan buruk lo itu diilangin. Nggak semua orang paham sama sifat lo, bisa aja nanti orang lain salah paham."
Bara tak menjawab ucapan Eliza. Kini ia tengah terpaku menatap Eliza tanpa bisa berpaling. Entah kenapa Eliza terlihat lebih menarik malam ini. Sepertinya Bara telah tersihir oleh tatapan Eliza. Namun hal itu tak berlangsung lama, ia segera tersadar dari lamunannya. Karena Eliza, menyentil dahinya dengan cukup keras.
"Sakit, El." Bara mengelus dahinya yang memerah karena ulah Eliza.
Eliza hanya meringis geli melihat Bara yang masih kesakitan. Dia sama sekali tidak berniat minta maaf dan malah langsung melangkah pergi dari lapangan untuk pulang.
"Enak aja mau kabur, sini lo. Tanggung jawab, dahi gue merah gara-gara lo." Bara menyambar tangan Eliza dan menarik gadis itu untuk kembali duduk di hadapannya.
"Duh, nggak usah tarik-tarik. Untung gue nggak jatuh." Eliza menyerukan protes tetapi tetap menuruti Bara untuk duduk di hadapan cowok itu.
Kini Eliza dan Bara duduk diam dan saling memandang satu sama lain. Suasana hening menyelimuti keduanya, sampai akhirnya Eliza berdeham mengakhiri sesi tatap menatap diantara dia dan Bara. Bukan apa-apa, kalau terus seperti itu Eliza takut debaran jantungnya akan semakin menjadi-jadi.
"Ayo pulang," ajak Eliza sambil kembali berdiri dan menepuk-nepuk celananya untuk membersihkan debu.
Bara langung merangkul Eliza dan berjalan beriringan dengan gadis itu menuju rumah. Eliza yang sudah biasa diperlakukan seperti itu hanya bisa pasrah. Toh selagi tidak ada Ody disekitar mereka, Eliza tidak akan kena masalah.
Grady yang sengaja menunggu di teras langung tertawa lepas ketika melihat ekspresi kesal yang tergambar jelas di raut wajah Bara begitu melihat dirinya. Tentu saja, Bara masih kesal perkara di lapangan basket tadi.
"Kalian tuh, nggak pacaran tapi mesranya ngalahin orang pacaran. Kenapa lo berdua nggak pacaran sekalian aja sih." Reva berseru protes setelah melihat Bara yang merangkul Eliza. Dia sama sekali tidak habis pikir, bagaimana bisa Bara bertingkah seperti itu ketika dia sudah berpacaran dengan Ody.
"Nggak ada. Males banget gue pacaran sama Bara," ujar Eliza sambil melepaskan diri dari rangkulan Bara.
"Siapa juga yang mau pacaran sama lo, lagian juga gue udah punya Ody," imbuh Bara sambil berjalan pelan masuk ke kamarnya.
"Gue mau pulang aja deh," pamit Eliza dan melenggang keluar rumah. Tapi baru juga berjalan dua langkah, lagi-lagi ada yang menarik tangan Eliza dan membuat gadis itu kembali masuk.
Mau tak mau Eliza hanya menurut, dia tidak bisa membantah kalau Affan yang bertindak seperti ini. Jadi, Eliza hanya bisa menurut pada Affan tanpa protes.
"Kalian nggak balik? Udah malam banget ini," tanya Affan pada Kevin dan Reva yang masih setia menonton movie sejak tadi.
"Kita diusir nih? Oke, gue pergi." Ucap Kevin pura–pura ngambek seraya beranjak dari tempatnya duduk.
"Lebay lo," ejek Reva, karena tingkah Kevin yang terlalu berlebihan.
"El, nginep sini aja. Nanti lo tidur kamar biasa sama Reva ya," ucap Affan sambil melepaskan genggamannya di tangan Eliza dan mengelus kepala gadis itu.
Seperti yang diminta Affan, Eliza mengajak Reva untuk ke kamar. Mereka tidak lagi memperdulikan Affan dan Kevin yang ada di ruang tengah.
"Kak, lo nggak cemburu kan Kak Affan kayak tadi ke gue?" Eliza bertanya hati-hati setelah keduanya berada di kamar.
"Lo dari tadi diem karena takut gue cemburu? Yang bener aja, ngapain cemburu coba. Lo kan udah kayak adek sendiri buat Affan. Jadi ya gue biasa aja," jawab Reva santai. Karena memang nyatanya seperti itu, dia sama sekali tidak merasa cemburu dengan kedekatan Eliza dan Affan.
"Syukurlah, gue takut lo cemburu." Eliza merasa lega karena apa yang dia takutkan tidak terjadi.
Reva hanya tertawa pelan, dia merasa heran sekaligus lucu karena Eliza mengira dia akan cemburu. Memang Affan itu kekasihnya, tapi Reva bukan perempuan yang gampang cemburu bila Affan dekat dengan cewek lain. Lagi pula, Eliza sudah dianggap adik sendiri olehnya.
Reva dan Eliza berakhir mengobrol sampai tengah malam. Mereka sama sekali tidak kehabisan topik obrolan, dari buku, lukisan, make up sampai membahas hal random. Keduanya bisa langsung akrab dan tidak ada kecanggungan yang Eliza rasakan seperti sebelumnya.
"Eh, udah jam segini," seru Reva setelah menyadari kalau waktu sudah menunjukkan pukul 00.10 WIB.
"Tidur gih kak, gue mau keluar sebentar." Eliza berjalan keluar kamar dan membiarkan Reva beristirahat lebih dulu.
Eliza melangkah pelan ke teras belakang, dia belum merasa mengantuk. Jadi lebih memilih untuk keluar kamar daripada mengganggu Reva yang sudah tertidur. Lagi pula Eliza sudah terbiasa seperti ini bila susah tidur, dia akan keluar kamar dan melihat bintang.
Tiba–tiba seseorang datang menghampiri Eliza dan duduk di kursi samping Eliza. "Nggak tidur lo? Yang lain udah pada tidur, eh lo malah bengong disini."
"Nggak bisa tidur," sahut Eliza singkat.
"Sini tidur, gue pukpuk biar ngantuk." Bara menarik kepala Eliza pelan dan menyenderkannya dipundak. Dia lanjut mengelus pelan kepala Eliza agar gadis itu segera tertidur.
"Gue tahu, yang gue lakukan sekarang itu salah. Tapi entah kenapa gue merasa nyaman memperlakukan lo kayak gini. Seharusnya perlakuan gue ke lo bukan seperti ini, karena kita cuma sahabat. Yang seharusnya gue kasih afeksi kayak gini tuh Ody, bukan lo. Tapi entah sejak kapan, gue nyaman setiap kali kasih afeksi ke lo." Monolog Bara sembari menatap intens Eliza yang terlelap dipundaknya. Tanpa tahu kalau ucapannya itu didengar dengan jelas oleh Eliza. Karena gadis itu tidak benar-benar tertidur.
======
Nah lho, gimana tuh?
Bara mulai goyah sama perasaannya.
Akan gimana ya hubungan Bara, El sama Ody nantinya?
Rhain
11072023
KAMU SEDANG MEMBACA
FRIENDZONE [TERBIT]
Roman d'amourTentang Eliza yang terjebak dalam kukungan rasa yang tak seharusnya tercipta dalam sebuah ikatan persahabatan. Rasa yang membuat hatinya terus merasa bimbang. Akankah mempertahankan persahabatannya Atau justru mengikuti kata hatinya? =============...
![FRIENDZONE [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/345528266-64-k556350.jpg)