Sudah dua hari Bara tidak bertemu Eliza, dia sama sekali tidak pernah melihat Eliza di kampus bahkan di rumahnya. Padahal biasanya Eliza lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Bara ketimbang di rumahnya sendiri.
"Kenapa lo?" Grady bertanya penasaran karena sejak tadi Bara terus menerus melirik ke arah balkon kamar Eliza.
Bara menggeleng, dia enggan menjawab pertanyaan Grady. Gengsinya masih terlalu tinggi untuk mengakui kalau Bara merindukan Eliza. Dia juga sedikit khawatir dengan sahabat kesayangannya itu.
"Gengsi lo gedein, tapi baru dua hari nggak lihat udah khawatir segitunya," cemooh Grady yang baru menyadari kalau Bara sedang memikirkan Eliza.
Bara tidak mengubris ucapan Grady dan lebih memilih untuk menjawab panggilan telpon dari Melody. Sepertinya mereka janjian untuk jalan berdua.
"Gue mau pergi, lo mau tetep disini apa mau balik?" Bara keluar lagi setelah berganti pakaian yang lebih rapi
"Gue cabut juga, mau ke tempat Eliza," ujar Grady sambil berdiri.
Grady berjalan ke rumah samping untuk mengunjungi Eliza. Sedangkan Bara bergegas menjemput Melody sebelum gadisnya itu marah karena Bara terlambat.
"Akhirnya sampai juga, maaf ya kelamaan nunggu," ucap Bara sambil membukakan pintu samping kemudi.
"It's okay," sahut Ody sambil tersenyum cerah.
Hari ini Melody dan Bara banyak menghabiskan waktu berdua. Suasana diantara mereka benar-benar sangat romantis. Sayangnya, pikiran Bara sebenarnya tidak sepenuhnya soal Melody dan hari ini. Pikirannya penuh dengan nama Eliza.
"Kita mau kemana?" Bara bertanya pada Melody, karena memang sejak awal mereka belum menentukan tujuan mereka.
"Beli es krim kayaknya enak. Terus nanti kita makan di mobil aja," sahut Ody antusias.
Bara membelokkan mobilnya ke area jalan Braga, tujuannya adalah toko es krim baru yang berada di sekitar sana.
"Antre banyak banget tapi ini, pasti lama banget. Nggakpapa kamu nunggu lama."
Bara hanya mengangguk, dia sebenarnya punya tujuan tersendiri membawa Melody ke daerah sini. Karena memang di daerah ini pun dia banyak menemukan lukisan-lukisan bagus dsn mempesona. Sampai-sampai Bara tidak mendengar ketika Ody berbicara padanya.
"Kamu tuh kenapa sih, dari tadi diajakin ngobrol banyak diamnya," protes Ody karena Bara tidak menghiraukan dia yang sedang bertanya.
Entah kenapa, sejak tiba dirumah Ody tadi Bara sama sekali tidak fokus. Dia lebih banyak diam dan merespon Ody seadanya. Apalagi berada di tempat penuh lukisan seperti ini, jelas pikiran Bara langsung dipenuhi dengan Eliza.
"Maaf, aku lagi nggak fokus," ucap Bara merasa bersalah karena mengabaikan Ody sejak tadi.
"Kamu mikirin apa sih sebenarnya, dari tadi diam mulu," ucap Ody lebih lembut karena tidak tega melihat wajah muram Bara.
"Jujur sekarang aku kepikiran soal Eliza, karena sejak dua hari lalu aku nggak ketemu dia." Bara memilih berucap jujur kalau dia sedang memikirkan Eliza. Walaupun dia tahu, dengan jujur seperti itu akan membuat Ody marah.
Ody menatap tak suka Bara. Dia sama sekali tidak menyangka Bara akan berbicara jujur seperti itu. Walaupun Ody sudah bisa menebak, diamnya Bara ada kaitannya dengan Eliza.
"Eliza, Eliza dan Eliza. Kamu tuh sebenarnya pacarnya aku apa Eliza sih? Dikit-dikit Eliza, bahkan saat kamu lagi sama aku kayak gini yang ada dipikiran kamu cuma Eliza."
Tumpah sudah apa yang selama ini dipendam Ody. Dia tidak bisa lagi memaklumi Bara yang terus menerus menomorsatukan Eliza bahkan saat Bara sedang berdua bersamanya seperti ini. Bukankah Bara sudah keterlaluan, memikirkan gadis lain saat dirinya sedang bersama kekasihnya.
"Udah jelas kamu pacarku, kenapa masih nanya?" sahut Bara tak mau kalah, dia juga mulai terpancing emosi karena ucapan Ody.
"Tapi hampir setiap hari yang ada dipikiran kamu itu Eliza. Sebegitu berharganya dia buat kamu? Ah, tentu sangat berharga karena dia sahabat kesayangan kamu. Beda sama aku, yang cuma kamu datangi pas kamu butuh doang," sentak Ody semakin memperkeruh suasana.
"Iya kalian beda, kamu pacar aku sedangkan Eliza cuma sahabat aku. Kamu juga berharga buat aku." Tutur Bara lembut berusaha mengontrol emosinya agar tidak berbicara kasar pada Ody.
"Berharga ya? Tapi yang selalu dinomorsatukan tetap Eliza. Apa-apa Eliza, bahkan lo lebih sering sama Eliza ketimbang sama gue. Sebenernya gue itu apa sih buat lo? Pacar atau sekadar buat status doang hubungan kita," ucap Ody tidak lagi menahan emosinya. Dia membiarkan Bara melihat sejauh apa kemarahannya.
"Nggak usah bawa-bawa Eliza lagi. Dia nggak ada kaitannya sama hubungan kita. Gue deket sama Eliza karena dia sahabat gue dan lo tahu itu. Tapi kenapa lagi-lagi lo mempermasalahkan soal gue sama Eliza yang bahkan lo udah tahu dari lama." Sergah Bara mulai emosi, karena lagi-lagi Ody mempermasalahkan hal yang sama.
"Lihat kan? Lagi-lagi lo belain dia. Apa sih bagusnya Eliza sampai lo sebegitunya belain dia disaat gue -pacar lo- ada di hadapan lo selarang. Lo tahu? Gue nggak masalah lo deket sama Eliza. Gue percaya sama lo, tapi gue nggak percaya sama Eliza. Gue takut lo berpaling ke Eliza setelah tahu yang sebenarnya," ucap Ody sambil menatap sendu Bara.
"Lo ngomong apa sih? Nggak usah ngomong kayak gitu. Gue bilang nggak usah bawa-bawa Eliza," tegas Bara tidak suka karena Ody selalu membawa Eliza dalam topik obrolan mereka. Ody selalu menyalahkan Eliza disetiap obrolan keduanya.
"Gue tahu, gue salah. Gue minta maaf. Gue rasa kita perlu waktu buat mikirin ini semua," ucap Bara mulai melunak. Dia sebenarnya tidak tega melihat Ody yang seperti itu.
"Mikirin apa lagi? Percuma kalau lo masih fokus ke Eliza. Masalah kita tuh akan selesai kalau lo jauh-jauh dari Eliza," sambar Ody dengan lantang.
"Maksud lo apa, kenapa masih aja bawa-bawa Eliza." Bara berseru tidak suka, tidak memahami jalan pikiran gadisnya itu.
"Kita udahan aja, percuma juga gue bertahan kalau lo sendiri masih bingung dan goyah. Gue capek selalu jadi nomor dua, capek selalu ngalah sama hubungan lo dan Eliza," ucap Ody final.
Bara bergeming, dia tidak tahu harus merespon seperti apa atas ucapan Ody barusan. Bara masih tidak habis pikir, kenapa hubungannya jadi serumit ini hanya karena dia dekat dengan Eliza, yang notabene sahabatnya.
"Ayo, gue anter pulang. Kita obrolin masalah ini kalau emosi kita udah sama-sama reda," ujar Bara memutuskan.
Melody tetap bungkam, dia sama sekali tidak menggubris ucapan Bara. Dia lebih memilih fokus pada ponselnya dan mengabaikan Bara sampai tiba di rumah. Melody benar-benar sudah muak dengan sikap Bara yang selalu mendahulukan Eliza ketimbang Melody yang berstatus sebagai pacar Bara.
========
Agak kesian ya liat Melody,
Rhain
15072023
KAMU SEDANG MEMBACA
FRIENDZONE [TERBIT]
RomanceTentang Eliza yang terjebak dalam kukungan rasa yang tak seharusnya tercipta dalam sebuah ikatan persahabatan. Rasa yang membuat hatinya terus merasa bimbang. Akankah mempertahankan persahabatannya Atau justru mengikuti kata hatinya? =============...
![FRIENDZONE [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/345528266-64-k556350.jpg)