Bab 26 - Eliza's mind

140 5 0
                                        

Eliza merenungi isi pikirannya yang setiap saat memikirkan Bara. Entah kenapa nama Bara selalu terlintas begitu saja dalam benaknya. Mungkin efek perasaannya untuk Bara atau memang Bara secandu itu untuk dipikirkan. Tapi Eliza harus mati-matian mengusir sosok Bara dalam hati dan pikirannya. Karena kalau terus menerus Eliza memikirkan sahabatnya itu, bisa-bisa dia tidak akan mampu menahan perasaannya lagi.

"Kusut banget sih muka lo." Grady yang kebetulan melihat Eliza termenung di ayunan taman kompleks berjalan menghampiri gadis itu.

Eliza tidak merespon, dia masih berkutat dengan pikirannya. Eliza sama sekali tidak menyadari kedatangan Grady sampai sahabatnya itu menepuk bahu Eliza.

"Sejak kapan lo di sini?" tanya Eliza, karena memang dia tidak menyadari kalau Grady duduk di sampingnya sejak tadi.

"Mungkin sekitar lima menit yang lalu," jawab Grady sambil berpikir.

"Kenapa gue nggak sadar?" Eliza bertanya pada Grady dan dirinya sendiri karena tidak menyadari kedatangan Grady.

"Lo ngelamun, mana sadar sih kalau gue datang. Lagian lo ngelamunin apaaan coba sampai sebegitunya." Grady menoyor pelan kepala Eliza dan membuat gadis disampingnya menatap marah.

"Jelek lo, gue tebak pasti kepikiran Bara kan lo? Ada apa lagi lo sama Bara dan pacarnya. Kayaknya waktu itu kalian udah nggak ada masalah apa pun," ucap Grady menebak sekaligus bertanya. Karena yang bisa membuat Eliza seperti ini hanya Bara seorang.

Eliza menggeleng, dia enggan mengingat kembali kejadian hari ini. Dia masih merasa marah perihal lukisan yang sengaja dirusak oleh Melody. Padahal Eliza tidak salah apa pun, tetapi Bara lah yang bersalah. Bara yang membuat pacarnya kesal dan marah. Namun, entah kenapa malah Eliza yang menerima akibatnya.

"Gue nggak akan maksa lo buat cerita, tapi dari pada cemberut nggak jelas kayak gini. Mendingan lo temenin gue." Grady berdiri dan menepuk pelan celananya. Dia menarik Eliza agar ikut berdiri.

Grady membawa Eliza berjalan-jalan ke daerah Braga. Karena Grady tahu, tempat itu bisa membuat Eliza melupakan kekesalannya dan kembali tersenyum. Grady sengaja membawa Eliza ke toko alat lukis langganan gadis itu dan membelikan kanvas dan juga beberapa kuas dan cat baru untuk Eliza.

"Sejak kapan lo suka ngelukis deh?" Eliza bertanya bingung melihat Grady menbawa kanvas dan beberapa alat lukis lainnya ke meja kasir.

"Siapa bilang gue mau ngelukis? Lagi pula mana bisa sih gue ngelukis kayak lo," sahut Grady membuat Eliza semakin bingung.

Grady tidak menghiraukan wajah bingung Eliza, dia kembali menatap kasir yang sedang menghitung harga barang yang dibelinya.

"Yuk, pulang."

Eliza yang masih kebingungan hanya bisa mengekori Grady dalam diam. Dia akan bertanya lagi nanti ketika mereka tiba di rumah nanti. Eliza akan menanyakan semua hal yang ingin dia ketahui.

"Kok malah pulang ke rumah lo sih?" Eliza menyuarakan kebingungannya.

"Nggak usah protes, sana masuk. Gue mau bawa barang-barangnya masuk dulu." Grady kembali lagi ke mobilnya untuk mengambil peralatan lukis yang dia beli tadi.

"Kok berdiri disitu?" Seorang wanita menyapa Eliza dan mempersilakan Eliza untuk duduk.

"Eh, tante. Apa kabar? Udah lama banget kayaknya aku nggak mampir." Eliza menyalami wanita yang ternyata Ibu Grady.

"Kabar tante baik, kamu sendiri gimana? Tante dengar dari Grady katanya kamu mau bikin pameran lukisan."

"Iya Ma, makanya aku ajak kesini. Biar dia leluasa ngelukisnya, karna kamar El udah penuh sama lukisan." Grady yang baru saja masuk menimpali ucapan Ibunya.

Eliza menatap Grady meminta penjelasan, tapi Grady tak menghiraukan tatapan Eliza dan melangkah cepat masuk ke kamar yang berada di sebelah tangga. Eliza hanya bisa pasrah menunggu Grady menjelaskan sendiri alasannya melalukan semua hal ini.

"Tante tinggal ya, kamu ngemil dulu aja sambil nunggu Grady." Ibu Grady beranjak dari duduknya dan kembali menekuni kesibukannya di taman belakang.

"Lo tuh ngapain sih sebenernya?" Eliza yang sudah sebal karena sejak tadi diabaikan menarik tangan Grady dan membawa sahabatnya itu untuk duduk di sampingnya.

"Ya kayak yang gue bilang tadi, gue mau kasih lo tempat aman buat ngelukis. Biar nggak diganggu sama Ody," ucap Grady yang seketika membuat Eliza kaget.

"Sebenernya gue tahu alasan lo ngambek, tapi gue pengen denger dari sisi lo makanya gue nanya tadi." Grady menjeda ucapannya dan balik menatap Eliza yang masih terlihat kaget, " dan soal tempat melukis, sebenernya ini usulan Bang Kevin sama Bara. Mereka yang nyuruh gue beliin lo kanvas dan bawa lo ke rumah biar bisa ngelukis dengan leluasa."

Eliza bungkam, dia terlalu kaget dan bingung harus merespon seperti apa informasi yang disampaikan Grady. Seorang Bara berinisiatif seperti itu, padahal tadi dia masih memusuhi Eliza. Kalau Kevin, sepertinya Eliza tidak terlalu kaget.

"Masih belum mulai ngelukis, El? Kan katanya mau bikin ulang lukisan yang rusak di ruang UKM tadi." Kevin muncul tiba-tiba dan dia tidak sendiri melainkan bersama Reva.

"Anaknya masih bingung, Bang," jawab Grady sambil menahan tawa melihat ekspresi kebingungan di wajah Eliza.

"Tadi kalau ada gue di sana pasti Ody udah gue jambak. Enak aja rusakin barang berharga sembarangan. Bara juga, bego banget jadi cowok." Reva geram sendiri dengan sikap Melody yang sangat menyebalkan.

"Kalau kayak gitu lo malah bikin Eliza makin dimusuhin sama dia," ucap Kevin.

"Iya juga sih, tapi dia tuh ngeselin. Dia yang bermasalah tapi malah nyalahin orang lain." Reva masih saja menggebu-gebu.

Kevin hanya menggeleng takjub dengan tingkah Reva yang biasanya elegan tiba-tiba menggebu-gebu seperti ini. Sedikit aneh memang, tapi seperti ini lah sifat Reva yang asli. Reva yang pendiam dan kalem hanya akan terlihat ketika awal mengenalnya.

Eliza dan Grady tersenyum tipis. Mereka tidak menyangka kalau Kevin dan Reva bisa seperti itu. Saling mengejek satu sama lain sama seperti mereka.

"Berarti ini tempat lukis Eliza pindah ke rumah Bara?"

Grady mengangguk, membenarkan ucapan Reva. Mulai saat ini sampai nanti pameran dilaksanakan, tempat melukis Eliza yang sekarang adalah salah satu kamar Grady.

"Padahal gue masih bisa ngelukis di rumah," ucap Eliza santai sambil berjalan pelan masuk ke kamar yang dimaksud Grady.

Mata Eliza terbelalak setelah masuk ke kamar. Bagimana tidak, dalam kamar penuh dengan alat lukis lengkap. Grady seolah menindahkan isi ruang lukis Eliza ke rumahnya.

Eliza sangat berterima kasih pada Grady, karena dia sangat perhatian pada Eliza. Terkadang Eliza mempertanyakan kenapa bukan Grady yang disukai oleh dirinya. Dengan sifatnya itu, harusnya Grady bisa dengan mudah mendapatkan banyak cinta dari oang-orang termasuk Eliiza.

=========

Rhain
30072023

FRIENDZONE [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang