Eliza berjalan gontai keluar dari fakultasnya. Hari ini mood-nya benar-bernar berantakan. Melody sukses membuat Eliza kesal bukan kepalang. Sejak tadi dia mati-matian menahan emosi dihatinya.
Tapi sayangnya, dia justru kembali bertemu dengan Melody di area parkir. Eliza sengaja menghindar, tapi entah kenapa Melody malah sengaja memancing emosinya. Gadis itu sengaja menghadang Eliza dan menahannya.
"Gue udah berusaha sabar karna lo teman dekat gue. Tapi kelakuan lo tuh makin hari makin bikin kesel. Kalau sekali lagi lo ngerusuh gue pastikan nggak akan diem aja. Bodoamat Bara mau marah sama gue, lo nggak pantes dibaikin." Meledak sudah segala emosi yang sejak tadi mati-matian ditahan oleh Eliza.
"Lo tuh nggak tahu diri, nikung cowok orang. Lagian apa bagusnya lo sih, sampai Bara mengabaikan gue," sahut Melody dengan nada meremehkan.
"Gue? Nikung lo? Yang bener aja. Kalau dipikir-pikir, sebenernya lo nggak sih yang gangguin gue sama Bara. Lo yang maksa-maksa gue buat kenalin ke Bara." Eliza malah memprovokasi Melody, dia sengaja mengungkit perihal masa lalu mereka.
"Lo!"
Eliza hanya menatap Melody tanpa minat. Dia tahu, Melody tidak bisa membantah ucapannya karena itu fakta. Bahwa Melody lah yang bisa saja disebut pengganggu karena datang seenaknya diantara Bara dan Eliza.
"Lo jahat banget sih, El. Gue tahu, gue emang bukan yang pertama kenal Bara, tapi apa salah kalau Bara lebih memilih gue ketimbang lo." Melody tiba-tiba mengubah nada bicaranya dan menatap Eliza dengan wajah berpura-pura sedih.
"Apasih lo, nggak usah sok sedih. Nggak cocok," ucap Eliza sedikit menaikan suaranya satu oktaf.
"Lo apa-apaan sih, El! Nggak usah jahat jadi cewek," sentak Bara sembari menarik mundur Eliza yang sejak tadi berdiri tegap di hadapan Melody.
Ah, ternyata Melody sedang bermain peran. Tentu saja Eliza meladeninya, dia tidak mau lagi disalahkan. Eliza mengikuti alur permainan yang dibuat Melody.
"Lah gue nggak ngapa-ngapain, emang Ody sok sedih. Padahal cuma gue suruh tanggung jawab beliin kanvas doang. Pelit amat." Eliza berucap santai, tidak ada nada marah sedikit pun dalam ucapannya.
Eliza sengaja melakukan itu karena dia yakin kalau Bara pasti akan percaya. Bara akan lebih mudah terdistraksi hingga melupakan kemarahannya.
"Nggak usah sok nggak mampu deh, lo tuh bisa kalau cuma beli kanvas," sahut Bara termakan ucapan Eliza.
"Iya deh iya, gue beli sendiri. Gue duluan." Eliza berjalan santai melewati Melody. Dia sengaja memamerkan senyum tipis yang membuat Melody semakin kesal.
Tapi Melody hanya bisa menelan kekesalannya. Karena dia tidak mungkin menunjukkannya di hadapan Bara. Bisa rusak image kalem dan baik Melody dimata Bara.
"Udah nggak usah cemberut. Cantiknya hilang nanti." Bara mencubit pelan pipi Melody dan membuat gadis itu mulai tersenyum.
Bara menggenggam jemari Melody dan menarik pelan gadisnya itu agar berjalan bersisihan dengannya. Bara selalu punya cara untuk meredam emosi Melody, membuat gadis itu kembali tersenyum ceria.
Tapi disisi lain Bara juga masih memikirkan Eliza. Dia merasa ada yang sedikit aneh dengan perilaku Eliza tadi. Seperti ada yang sengaja disembunyikan darinya oleh kedua gadis itu.
"Kamu nggak lagi sembunyiin sesuatu dari aku kan?" Bara menyuarakan isi pikirannya.
Melody sedikit tersentak, tapi dengan cepat dia bisa kembali menetralkan ekspresinya dan menyahuti ucapan Bara dengan tenang, "nggak ada. Kalau ada apa-apa kan aku pasti cerita sama kamu."
"Okey, okey. Sekarang kamu mau langsung pulang apa gimana?" tanya Bara setelah sampai di depan mobil milik Melody.
"Aku langsung pulang, kamu sendiri gimana?" Melody balik bertanya.
"Aku mau bantuin Eliza, kamu hati-hati pulangnya." Selesai berucap seperti iti Bara langsung berbalik dan melangkah menjauh dari area parkir.
"Eliza, Eliza, Eliza terus. Punya apa sih dia sampai Kevin sama Bara tergila-gila."
=======
"Jadi mau nyari kanvas, yuk gue anter." Bara menawarkan diri tapi langsung ditolak oleh Eliza.
Eliza menepis tangan Bara yang akan merangkulnya. Eliza menatap Nara dengan tajam dan menbuat yang lain tidak curiga.
"Lo tuh kenapa sih? Ditemenin nyari kanvas nggak mau. Malah milih pakai kanvas yang udah pernah dipakai." Bara menggerutu tetapi tetap mengisi keberadaan penemu.
Eliza pandai menyimpan sesuatu, ada banyak rahasia yang sengaja disembunyikan oleh Eliza. Alasan kenapa dia tidak mau membeli kanvas baru karena itu hanya akal-akalan Eliza saja. Karena sebeneranya, kanvas Eliza audah di siapkan oleh Kevin.
Eliza tidak memperdulikam Bara yang berwajah muram di depannya. Dia kembali fokus dengan buku sketsa yang sedang dia pegang. Eliza menuangkan semua yang dia lihat dan dia alami seharian ini degan rapi di buku sketsa miliknya.
"Lo tuh sebenernya kenapa sih, El? Gue ganti kanvasya nggak mau. Tapi lo sengaja minta ganti ke Melody. Sekarang saat gue ajak lo beli, lo nolak." Bara memprotes sikap Eliza yang plin plan. Dia kebingungan dengan sikap Eliza yang tidak berpendirian itu.
"Gue nggakpapa, nggak usah mikirin gue. Lo bisa fokus sama diri lo sendiri dan juga cewek lo. Gue harap Melody nggak akan pernah muncul si ruang UKM lukis dan membuat masalah."
Bara hanya bisa pasrah menurut pada akhirnya karena dia tidak ingin menimbulkan keributan. Bara sadar, membantah ucapan Eliza disaat seperti ini sama saja dengan menyulut api dengan minyak.
Jadi mau tak mau Bara menurut, dia tidak ingin Eliza berakhir membencinya, "gue minta maaf sekali lagi."
"Gue akan jamin, Melody nggak akan gangguin lo lagi. Kalau sampai Melody gangguin lo, gue yang akan turun tangan sendiri. Dan soal lukisan, katanya sudah beres, jadi gue sudah selesai. Gue nggak akan ikut campur lagi setelah ini." Bara berucap panjang lebar dan langsung bergegas pergi begitu selesai berbicara. Dia tidak perduli apakah ucapannya diperhatikan atau tidak.
"Okey, gue juga nggak akan ganggu apapun yang jadi urusan lo.
Eliza termenung, dia sebenarnya tidak rela kalau Bara pergi. Tapi dia tidak mungkin menahan Bara dan akan menimbulkan rasa benci Melody semakin menjadi-jadi. Eliza harus bisa segera mengatasi perasaannya yang semakin hari justru semakin besar untuk Bara.
"Kenapa sih gue suka sama Bara, kenapa nggak jatuh hati ke Grady atau Kak Kevin aja yang jelas-jelas selalu peduli sama gue. Bodoh sekali lo Eliza. Jatuh cinta sama sahabat lo sendiri tapi cinta lo bertepuk sebelah tangan karena dia sudah punya pacar. Mana lo di benci pacarnya pula." Eliza bermonolog, merasa miris dengan kisah cintanya sendiri. Karena jatuh hati dengan orang yang salah, dengan orang yang tidak seharusnya dia cintai.
======
Kasihan ya sama Eliza, harus ngehadapi Melody yg ngeselin.
Rhain
28072023
KAMU SEDANG MEMBACA
FRIENDZONE [TERBIT]
RomanceTentang Eliza yang terjebak dalam kukungan rasa yang tak seharusnya tercipta dalam sebuah ikatan persahabatan. Rasa yang membuat hatinya terus merasa bimbang. Akankah mempertahankan persahabatannya Atau justru mengikuti kata hatinya? =============...
![FRIENDZONE [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/345528266-64-k556350.jpg)