5. Theo: Spoiler Alert

575 39 13
                                        

THEO
"Spolier Alert"

○●○

MUSIM DINGIN MEMANG masih terasa, karena setiap aku berjalan di trotoar bersama dengan orang lainnya, aku masih dapat membau es di jalanan yang belum sepenuhnya cair dan juga air hujan yang menggenang di atas saluran tersumbat kertas koran. Cuaca memang sudah tidak dapat diprediksi lagi kali ini, Desember kemarin ada hujan deras sehari sebelum salju mulai turun sepanjang hari hingga menyita waktuku di restoran.

Aku mempercepat jalanku, menerobos orang-orang lainnya yang berjalan santai sembari berbincang dengan teman mereka. Aku tidak punya itu semua. Setelah lulus dari akademi kuliner, semua orang berpencar mencari pekerjaan di seluruh belahan negara. Satu-satunya orang yang masih berhubungan denganku di masa akademi hanya Lukas, kekasih saudara kembarku yang membuka rumah makan bersama-sama di ujung Manhattan.

Aku menarik napas dalam, menghirup udara pagi yang masih segar sambil melangkahkan kaki menuju ke tempat kerja. Tidak ada mobil hari ini, aku hanya ingin menghabiskan waktu jalan ke restoran ketimbang harus memikirkan tempat parkir selama dua puluh menit lebih.

Aku masuk lewat pintu belakang, membuka pintu yang sebelumnya aku kunci dan meletakkan tas berisi apron baru milikku ke atas meja ruang kerjaku.

Satu jam lagi semua karyawan mulai berdatangan. Aku menghabiskan waktu mengecek semua bahan yang ada di kulkas dan dapur untuk memastikan kami tidak ada kekurangan apapun. Aku juga mengecek pantri, memastikan tidak ada bahan-bahan yang sudah melewati ambang batas kadaluarsa.

Beberapa bahan segar sudah dikirim setiap harinya lewat jejaring produsen yang bekerja sama denganku untuk mengirimkan bahan-bahan masakan untuk bahan utama menunya. Memang tidak banyak orang-orang yang bekerja sama denganku, tapi beberapa produsen mulai dari nelayan dan juga petani tersebut cukup membantuku untuk tidak berafiliasi dengan supermarket punya bahan tidak segar dengan harga mahal.

Sembari mencatat bahan-bahan pada buku catatanku, dering ponsel langsung membuatku mengangkatnya dengan refleks. Nama Gab yang tertera di atas layar berubah menjadi warna hijau. Aku mengangkat teleponnya, membiarkan wanita itu berbicara semuanya sementara aku hanya mengiyakan.

"Theo."

"Hmm."

"Kau tidak percaya ini!"

"Hmm."

"Rumah makan kami akan digunakan sebagai tempat perayaan ulang tahun minggu ini. Aku dan Lukas baru menyetujui kontraknya kemarin." Suara Gabby terengah-engah. Aku dapat memahaminya, lagipula rumah makannya yang lebih nyaman dan aman dengan kantong warga menengah membuatnya lebih sering dikunjungi oleh banyak orang.

"Oke."

"Kau masih harus bekerja akhir pekan?" tanyanya sebelum berbisik kepada seseorang di balik layar ponselnya.

"Ya. Kenapa?" Aku mengambil garam yang masih terbungkus rapi di dalam pantri sebelum menuangkannya ke dalam wadah garam di dapur utama.

"Kau tahu ... menghabiskan waktu bersama dengan Ben karena minggu besok kita makan malam bulanan seperti biasa."

Dengkusan napas merupakan reaksi pertamaku. "Kau dan Lukas bisa ke sana terlebih dahulu. Aku tidak tahu kapan kerjaku selesai."

Gabby terdiam sebentar. Aku mendengar napas semunya dari speaker panggilan sebelum ia akhirnya menggumam iya. "Kabari aku jika kau ... datang."

"Tentu."

Gabby mematikan ponselnya, suara statis langsung terdengar di speaker sebelum aku ikut memutusnya juga.

Heart Shatter [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang