THEO
"Business Partner"
○●○
BAU EMBUN PAGI menusuk hidung, tidak hanya membuatku memimpikan aroma sakit masa lalu, tapi juga membuatku merindukan kehangatan tubuh lain yang selalu mendekapku setiap cahaya oranye mulai menunjukkan wujud.
Rasa sakit yang terjadi dalam hidup masih membekas, tidak akan pernah sembuh meskipun aku menyewa terapis paling baik sedunia sekalipun. Jawaban mereka selalu sama: buat perdamaian dengan diri sendiri, karena tidak masuk akal bagi kita semua untuk memutar roda waktu yang sudah karatan dimakan hipnosis usia.
Bukan itu masalah terburuknya. Punya hidup yang tidak sempurna sepanjang aku bernapas, lalu untuk pertama kalinya aku mendapatkan sesuatu paling nyata di dunia sebelum aku harus memaksa melepasnya. Aku masih belum dapat memaafkan diriku, membuat perdamaian dengan pikiran gelapku.
Bagaimana bisa aku melakukannya? Jika langkah pertamanya saja membuatku gundah untuk bertindak. Terapisku berkata bahwa mengobarkan bendera perdamaian kepada diri sendiri merupakan langkah pertamanya.
Aku tidak pernah melewati fase bendera perdamaian tersebut.
Ingatan masa lalu yang membakar isi tubuh, residu asap pembakaran yang keluar dari bibir dan telinga ... aku masih tidak dapat melawannya.
Aku bangun dari kasur, meletakkan novel yang terlentang di dada ke atas meja nakas lalu aku gantungan kuncinya lagi. Terlalu baik, seseorang yang membuatku ingin sukses agar dapat kembali kepadanya suatu hari nanti.
Aku masih mengingatnya ... namanya. Aku tidak pernah menyuarakan melodi suara setiap aku berbicara, tetapi nama wanita tersebut berbeda, satu-satunya nama yang terdengar seperti melodi di telinga.
Maya Namira-Moore.
Uji coba masa cintaku berawal darinya. Seorang wanita yang juga sama patahnya denganku, perbedaannya adalah aku membiarkan egoku menelan emosiku, sementara ia membiarkan emosinya meluap-luap seperti api yang membakar semua hutan belantara.
Masa akademi kuliner, tahun terakhir aku berada di sana. Aku pikir tidur bersama tiga wanita dalam kurun dua tahun dapat membuatku baik-baik saja, tapi Maya datang dan membuatku kalap di hadapannya.
Lalu aku mendorongnya menjauh. Kebahagiaanku, cahaya mentari yang dalam sekejap menerangi hidupku. Aku mendorongnya menjauh.
Aku mendorongnya menjauh.
Aku mendorongnya menjauh.
Aku mendorongnya menjauh.
Keputusan yang aku sesali sekali lagi. Jika di waktu lain aku bertemu dengannya lagi, aku akan mengatakan bahwa aku juga mencintainya. Aku akan membiarkannya membawa jantungku yang remuk dan menggelap ke genggaman tangannya. Apapun yang ia minta ... jantungku miliknya sejak lama, dan aku rasa ia lupa memberikannya balik kepadaku sampai sekarang.
Aku meremas gantungan kunci dengan ukiran bentuk burung di hadapanku sekali lagi. Satu-satunya pertanda bahwa ia pernah nyata di dalam hidupku. Aku tidak hanya mengimajinasikan sosoknya dalam sisi tergelapku. Ia benar-benar nyata, dan sekarang ia tidak ada.
Aku meninggalkannya, dan aku akan menyesalinya selama aku bernapas.
Mengacak-acak rambut kesal, aku meletakkan gantungan kunci tersebut ke dalam laci sebelum mengecek kartu namanya lagi.
Hari ini. Hanya ada satu kesempatan. Aku bisa ke sana sekarang atau menyesali tidak menerima tawarannya lima tahun kemudian.
Ck ... sangat memuakkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Heart Shatter [END]
Romance🏅"Spotlight Romance of February 2024" Reading List by WattpadRomanceID Ketika satu pasang jantung pecah menjadi kepingan mati rasa, hanya paradigma cinta keduanya yang dapat kembali membangun kembali sebuah kata rasa. Theo Wright, pria dengan aura...
![Heart Shatter [END]](https://img.wattpad.com/cover/343823781-64-k420182.jpg)