JULIA
"Mind Matters"
○●○
LEOTARD YANG KUKENAKAN sudah penuhi dengan keringat yang menempel di tubuh. Aku menghabiskan sepuluh jam berada di dalam studio untuk berlatih koreografi Cinderella.
Setelah mengetahui jadwal musim ini, aku akhirnya yakin dapat leluasa untuk latihan tanpa ragu apakah koreografinya akan digunakan musim ini atau tidak. Meskipun aku sudah berada di perusahaan ini selama lebih dari setengah dekade, aku masih dapat merasakan beberapa balerina yang seperti tidak menyukaiku setiap aku melangkahkan kaki masuk ke dalam studio. Rasanya mereka membakar punggungku dengan laser mematikan. Aku tidak tahu bagaimana menanggapi mereka.
Aku duduk bersandar di lantai, melepas sepatu pointe milikku yang sudah tidak kaku lagi lalu membuang pelindung jari kakiku ke dalam sampah karena sudah bolong dan tidak layak di pakai. Sudah seperti biasanya bahwa kakiku akan mati rasa selama latihan. Rasanya aku sangat tua, padahal umurku baru dua puluh lima.
Aku menjinjing sepatu pointeku sebentar sebelum melihat keadaannya. Ujungnya sudah rusak dan bagian dalamnya tidak lagi kokoh. Tali karetnya juga kendor, aku harus menggantinya dengan yang baru untuk memastikan kaki agar tidak cedera.
"Mau ke kafe bersama?" Andrea menarik napas ngos-ngosan. Wanita itu meneguk botol minum yang ia bawa sampai tinggal seperempat saja.
Aku mengangguk tanpa membuka suara. Dengan tubuh yang letih, aku berdiri dan masuk ke dalam loker untuk mengganti semua pakaianku. Di depan cermin aku juga melepas ikat rambutku, tersenyum lega saat membiarkan rambutku terurai setelah sepanjang hari disanggul rapi.
"Olivia ke mana?" Aku bertanya, memiringkan badan dari pintu loker untuk mencari-cari sahabatku tersebut yang sedari tadi belum terlihat di loker.
Andrea menyatukan alisnya sebentar sebelum ia meringis. "Aku rasa ia pulang duluan tadi untuk membantu ayahnya."
Aku mengambil jaket merah muda milikku dari dalam loker sebelum memasukkannya ke dalam tubuhku hingga membuatku hangat. "Oh? Membantu ayahnya mengurus kerja lagi?"
Wanita kulit cokelat itu mengangguk kecil. "Di dalam studio tadi dia juga tidak terlihat konsentrasi. Aku yakin tutor kami beberapa kali memanggil namanya agar dia tetap fokus latihan—sangat disayangkan karena aku mendengar bahwa ia merupakan kandidat terkuat untuk menjadi prinsipal berikutnya."
Jawaban yang aku berikan adalah senyum masam. "Aku harap dia baik-baik saja." Ponsel yang ada di dalam tas ransel aku keluarkan, dengan cepat memberikan pesan kepada Olivia untuk menanyakan kabarnya.
Kami berdua bergegas keluar dari loker saat di dalam mulai padat. Aku menggandeng tangan Andrea dan kami berdua berjalan bersama di tengah gelapnya jalanan malam. Sesekali aku melihat beberapa orang yang menggoda kami berdua. Aku selalu mengalaminya; aku tidak lagi tertarik untuk meladeni mulut kotor mereka.
Lima belas menit berikutnya, aku melihat tanda dengan lampu menyala yang menandakan bahwa kami sudah sampai di kafe andalan kami bertiga. Aku dan Andrea memesan minuman dan jajan sebelum duduk di bangku pojokkan.
Andrea langsung mengeluarkan laptopnya dari dalam tas. Wanita itu juga mengeluarkan buku catatannya yang penuh dengan stiker warna, membuatku penasaran dengan materi apa yang sedang ia pelajari sekarang.
"Kursus baru?" Aku membuka tas ranselku sebelum mengambil buku novel yang masih baru. Dengan cepat aku membau kertasnya sampai Andrea mengangkat satu alisnya ke arahku sebelum ia menggelengkan kepala tidak percaya.
"Ya. Aku baru menyelesaikan kursus sebelumnya minggu lalu. Aku ingin mencoba kursus baru untuk memenuhi checklist-nya." Ia mulai menuliskan sesuatu pada laptopnya sementara aku masih menatapnya penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Heart Shatter [END]
Romance🏅"Spotlight Romance of February 2024" Reading List by WattpadRomanceID Ketika satu pasang jantung pecah menjadi kepingan mati rasa, hanya paradigma cinta keduanya yang dapat kembali membangun kembali sebuah kata rasa. Theo Wright, pria dengan aura...
![Heart Shatter [END]](https://img.wattpad.com/cover/343823781-64-k420182.jpg)