29. Theo: Blood and Water

410 26 9
                                        

THEO
"Blood and Water"

○●○

AEROSOL DAN JUGA OBAT memenuhi hidung sepanjang perjalanan aku mengantar Ben menuju ke ruang persiapan.

Tanganku penuh keringat. Aku kira itu karena suasana hari ini terasa lebih panas dari sebelum-sebelumnya, tapi itu tidak mungkin dengan AC yang berjajar di ruangan.

Aku sesekali mengintip ke dalam, melihat Ben yang berganti menggunakan pakaian bersalin sebelum ia dipandu oleh para perawat yang sibuk mengurus selang-selang yang ada di belakang kasur pria itu. Tanganku bermain dengan arloji baru yang Julia berikan untukku, merasakan detiknya yang berubah untuk mengalihkan pikiranku dari kesehatan pria itu.

Saat jadwal operasi sudah diumumkan, tidak ada yang dapat datang mengawal kecuali aku. Gabby akan muntah saat ia membau rumah sakit, katanya baunya memuakkan seperti darah. Ia berusaha untuk ikut sambil memasang masker, tapi Ben menolaknya, akhirnya kedua orang tersebut menyampaikan salam keberuntungan kepada satu sama lain dari rumah Ben sebelum aku mengantarkannya ke rumah sakit menggunakan mobil.

Membuka pintu berdecit yang menghubungkanku dengan kamar Ben, aku masuk ke dalam dengan canggung sambil melihat Ben yang sibuk membenahi selang-selang yang terlihat membuatnya tidak nyaman. Saat ia menyadari bahwa aku ada di dalam ruang, ia langsung tersenyum lelah, menarik napas dalam sebelum ia menyandarkan punggungnya pada kasur yang sedikit terangkat.

"Bagaimana perasaanmu?" Aku bertanya, melipat tangan di depan dada.

Ben terkekeh. "Aku harap kau yang akan memberitahuku tentang apa yang aku rasakan karena sejujurnya ... aku tidak dapat merasakan apa-apa."

"Operasinya akan mulai dalam dua jam. Apa perawatnya sudah mengatur semua?" Aku berjalan ke arah berbagai macam lubang-lubang selang yang ada di dinding, termasuk stop kontak yang tidak terhubung ke berbagai mesin lain. Sejujurnya, tembok tersebut terlihat membosankan karena tidak ada apa-apa di dalamnya.

"Ya, aku akan baik-baik saja, 'kan?" tanyanya tidak yakin.

"Maksudku ... kecuali kanker yang ada di tubuhmu, dokter terlihat sangat kaget saat melihat bahwa kau masih punya tubuh yang sehat." Mengangkat pundak tak acuh, aku duduk di pinggir kasur menunduk, tidak tahu apa yang aku bicarakan karena yang ada di dalam kepala hanya bagaimana aku merasa sangat ... takut jika ada sesuatu yang salah tiba-tiba kepada Ben.

"Dan kanker adalah masalah terbesarnya, jadi anggap saja aku punya masalah dengan tubuh tuaku ini, son," ujar Ben sambil mencoba untuk duduk lebih santai. "Kau tidak berbagi apapun tentang kunjunganmu ke DC, apa semuanya baik-baik saja? Apa semuanya masih sama dan membosankan?"

Aku merapikan kemeja hitamku sebelum pundakku terangkat secara reflek. "Masih sama, aku tidak terlalu merindukannya, tempat itu terlihat membosankan."

Ben terkekeh. "Ya, mungkin itu pilihan terbaik untuk tinggal dengan Dany di New York. Aku beruntung dapat kembali ke sini setelah pensiun. Jika tidak dipindahtugaskan ke DC, aku mungkin akan menjadi guru di sini hingga aku mati, dan aku tidak punya masalah untuk itu. Manhattan adalah tempat aku lahir, aku harap jika aku mati aku akan dikuburkan di sini di sebelah makam ayah dan ibuku."

Aku mencoba membawa diriku pada kehidupan Ben, tersenyum kecil sebelum aku berkata, "Jika kau tidak ada di DC, siapa yang akan menyelamatkanku dan Gabby? Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika keadaannya tidak seperti apa yang kita alami di masa lalu."

Kepala Ben membelok ke arahku dengan tegas selama beberapa detik. Ia menjatuhkan kakinya ke lantai sebelum ia duduk di pinggir kasur sama sepertiku. "Itu yang tidak kau tahu, Theo." Ben mendengkuskan kepala, menatap langit-langit rumah sakit sekali sebelum ia menoleh ke arahku. "Aku lega karena aku dipindahtugaskan ke DC. Aku bertemu Gia di sana, dan aku juga bertemu kau dan Gabby di sana. Entah apakah aku ingin mengubahnya."

Heart Shatter [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang