12. Julia: Nightmare Daydream

505 28 2
                                        

JULIA
"Nightmare Daydream"

○●○

DI ATAS LANGIT-LANGIT kamar, aku hanya bisa membayangkan gelap. Tidak peduli berapa banyak lampu yang menyala dalam kamar, tidak peduli berapa banyak kaca jendela yang terbuka, aku tidak bisa melihat cahaya.

Tepat tujuh puluh dua jam yang lalu aku mendengar kabar mengenai kepergian Rowan dari ibu. Aku masih belum mendapatkan informasi dari asistennya. Karim terlihat ditelan dari muka bumi, padahal ia seharusnya memberitahuku mengenai informasi Rowan. Ia berjanji kepadaku. Apakah semudah itu bagi orang-orang untuk merusak janji yang sudah mereka buat?

Alex ... ia juga tahu. Pria tersebut menghubungiku setiap beberapa jam untuk menanyakan kabar. Aku tidak pernah membalasnya, masih terlalu marah karena ia menyimpan rahasia tentang kekasihku dariku. Dari seluruh orang yang berbagi darah denganku, aku mengharapkan Alex untuk menjadi pria yang paling paham denganku, tapi aku salah. Aku terlalu mengandalkannya, terlalu lemah untuk melihat sisi buruknya. Kini kau tahu jika ia sama saja dengan semua keluargaku yang lain. Aku tidak ingin menemuinya.

Aku mengerjapkan mataku yang perih, semua air yang ada di mataku terperas habis oleh bantal dan selimut tempat aku berbaring sekarang. Tubuhku juga tidak terasa hidup. Setelah berita tentang Rowan tersebar di internet, Nikolai—koreografer baru untuk balet kontemporariku—memberikanku waktu tiga hari untuk berkabung.

Aku seharusnya menerimanya, aku seharusnya mendengarkannya, tapi apa arti berkabung jika aku bahkan tidak dapat menemui kekasihku di makamnya? Apa arti berkabung jika aku tidak lagi dapat merasa?

Aku menolak tawarannya untuk istirahat. Aku masih tetap datang ke studio dan berlatih selama sepuluh jam sehari. Aku pikir aku tidak ingin menari lagi, tapi aku menemukan diriku dalam kehampaan yang damai setelah semua hal ini terjadi. Bahkan setelah Kai dan Nikolai berhenti latihan, aku masih ada di dalam studio, menari di tengah keheningan dengungan gema ruangan dan juga suara kendaraan malam yang melintas.

Ada banyak jurnalis dan kamera di depan studio sejak beritanya tersebar, mereka hanya ingin mendapatkan opiniku mengenai semua yang terjadi. Aku tidak membuka mulut sekalipun. Hari pertama Alex menjemputku tapi aku memilih untuk masuk ke dalam Uber dan melupakannya. Hari kedua ia memilih untuk membawa bodyguards-nya untuk mengawasiku sampai pulang, tapi itu berakhir denganku yang meneriaki dan mengucapkan banyak sumpah di hadapan mereka sampai beberapa jurnalis mengedarkan beritanya ke internet mengenai "Julia Voclain yang histeris setelah kematian kekasihnya"

Dua jam lalu aku pulang lewat pintu belakang, memasuki banyak blok baru yang belum pernah aku lewati sebelumnya untuk menghindari semua orang, termasuk tangan kanan Valentino yang ia kerahkan untuk membawaku pulang. Kabarnya kakakku tercinta tersebut tidak menyukai berita mengenaiku histeris di laman internet. Aku bahkan tidak peduli dengan internet, aku tidak terlalu peduli dengan apapun. Ia hanya berakhir dengan berteriak kepada tembok.

Cincin yang Rowan ingin berikan kepadaku masih ada di tangan. Aku menemukan diriku memperhatikannya dengan dada panas sebelum memasukkannya kembali ke dalam laci nakas. Terlalu sempurna, rencana kami berdua terlalu sempurna sehingga semesta harus mengambil alih untuk membuat kami berdua menderita.

Napasku berhembus tidak sinkron. Ponselku masih menyala beberapa kali, teks grupku bersama dengan Olivia dan Andrea berdenting banyak waktu. Sebelum aku sempat menjawab, bel di apartemenku menyala beberapa kali. Mengecek kamera pengaman, aku melihat Olivia dan Andrea yang berdiri di depan pintu dengan sabar.

Berdiri dari kasur, aku berjalan gontai ke pintu, membiarkan kedua orang tersebut masuk sebelum kembali mengunci pintunya ganda untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang masuk ke dalam dan melakukan hal yang mengerikan.

Heart Shatter [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang