JULIA
"Truth Teller"
○●○
tw: Sexual sequence
AKU MASUK KE DALAM apartemen Theo, berjalan ke arah dapurnya sambil memperhatikan surga di hadapanku. Aku baru hanya tinggal di apartemen Alex selama beberapa hari, tapi aku sangat sengsara karena ia tidak punya apa-apa di dapurnya. Aku ingin tinggal di sini dan melihat semua bahan-bahan menyejukkan mata di hadapanku ini.
"Kau bisa membawanya, gunakan tiga kali sehari." Theo berjalan ke arahku sambil menyodorkan salep yang ada di wadah cup berukuran sedang kepadaku.
Aku memperhatikan salep tersebut, membukanya untuk melihat isinya yang masih banyak. "Uh ... apa aku hanya perlu mengoleskannya?"
Theo mengangguk sekali, matanya membidikku dengan ekspresi yang tidak dapat aku deskripsikan. "Hanya gunakan dalam beberapa hari setelah membilasnya dengan air hangat. Setelah kering jangan gunakan salepnya terlalu banyak."
Aku mengangguk, menuliskan catatan mental yang aku yakin dapat membantuku untuk memulihkan bekas lukanya. Melirik dada kiriku dengan mata menyipit. "Sam berkata jika aku tidak boleh membuka perban ini sampai semalaman penuh, apa akan baik-baik saja?"
"Kau benar-benar tidak melakukan penelitian terlebih dahulu sebelum mencoba tatonya, ya?" Theo mendengkus main-main.
"Itu tidak benar, aku sudah mencari-cari inspirasinya lewat Pinterest." Aku menjawab tidak setuju, melirik Theo kasar sebelum aku memasukkan salepnya ke dalam tas. "Terima kasih untuk salepnya, aku akan membayarnya nanti."
Theo langsung menggelengkan kepala. "Kau simpan saja, anggap sebagai pertukaran salepmu yang masih ada denganku."
Ah ... salep nyeri yang selalu aku gunakan untuk balet. "Kau masih mengingatnya."
"Aku masih menyimpannya, itu membantu."
Aku bernapas lega, berjalan ke arah jendela Theo yang masih terbuka seperti biasa, hawa dingin dan panas bercampur menjadi satu, rasanya aneh karena meskipun malam membawa angin sejuk, udara musim panas masih pekat ada, tidak akan pernah hilang meskipun sugesti berkata yang lain.
Aku melirik Theo yang ada di dapur, ada di depan mesin pembuat kopi memunggungiku. Mataku merambat ke rambut hitamnya, berjalan ke tengkuknya yang tertutup tato sebelum aku melihat kemeja hitam yang membuat bisepnya terlihat jelas.
Terlalu lama, aku tidak merasakannya terlalu lama karena aku termakan sebuah kata-kata bohong yang membuat luka lara. Saat aku menciumnya waktu itu, aku menginginkan seratus tahun selanjutnya bersama dengannya, tapi mimpi buruk tentang Rowan kembali merebak di dalam kepala seperti kilat cahaya.
Saat ini semuanya selesai, aku mendapatkan surat penutupnya dari Rowan. Sungguh, aku mencintainya, tapi ia sudah tidak ada. Aku tidak dapat berharap apa-apa kepadanya karena itu bukan yang ia inginkan.
Aku berubah, bukan hal buruk karena Rowan adalah sebabnya. Ia membuatku lebih kuat di tengah-tengah semua masalah ini. Sejak kami bersama, aku memang selalu mengandalkannya, rasanya sangat sayang karena aku ingin bertemu dengannya dengan diriku yang sekarang.
Tapi aku juga sadar bahwa aku tidak dapat mengubah takdir yang sudah terjadi, tapi aku dapat mengubah ceritaku di masa depan dengan cara menjadi versi terbaik diriku. Theo yang membantuku untuk menemukannya. Aku selalu bersyukur aku bertemu dengannya, ia paham bagaimana cara dunia berjalan, dan ia mengajariku bagaimana cara melawan semesta yang menganggapku sebagai butiran debu tak bermimpi. Itu salah, Theo membantuku menyadari mimpiku, dan itu membuatku menyukainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Heart Shatter [END]
Romantik🏅"Spotlight Romance of February 2024" Reading List by WattpadRomanceID Ketika satu pasang jantung pecah menjadi kepingan mati rasa, hanya paradigma cinta keduanya yang dapat kembali membangun kembali sebuah kata rasa. Theo Wright, pria dengan aura...
![Heart Shatter [END]](https://img.wattpad.com/cover/343823781-64-k420182.jpg)