JULIA
"The Plan Is ..."
○●○
SENYUMKU TIDAK LUNTUR saat aku berhasil membuat Theo keluar dari mobilnya. Akhirnya kami punya kesempatan untuk berbicara mengenai rencananya. Entah apakah rencananya akan berhasil, mengingat John merupakan salah satu orang terkuat di perusahaan media penyiaran miliknya. Ditambah lagi dengan Valentino yang sibuk mengurus perusahaan cabang di Prancis, aku dan Alex tidak punya kesempatan untuk untuk berbicara kepadanya tanpa ada interupsi dari asisten Val yang mengikuti pria tersebut setiap hari sepanjang hari.
Ia juga tidak pernah membalas pesanku atau Alex secara personal.
Aku membuka pintu apartemenku untuk Theo. Aku dapat melihat mata Theo yang melebar saat melihat dinding kaca yang memenuhi bagian paling belakang apartemen. Pria tersebut terlihat sedang berpikir keras seperti seorang detektif.
Kartu kunci apartemenku aku gantung di sebelah pintu, setelahnya kembali berbalik dan memperhatikan Theo yang menatap seluruh open concept apartemenku sambil memainkan kedua tangan di sebelah sisi.
Karena pintu apartemenku yang terbuka, kedua kucingku—Twyla dan Torrent—langsung berjalan ke arah pintu sebelum mereka langsung menempelkan tubuh mereka pada kaki Theo.
Theo tidak bergerak sesentipun, ia diam seperti patung dan membiarkan kedua peliharaanku tersebut untuk menyebarkan bulu rambut mereka ke celana Theo yang masih bersih dari bulu.
"Kau tahu aku masih harus ke restoran setelah ini, 'kan?" Theo menoleh ke belakang, melihatku yang tersenyum lebar sebelum menggendong Torrent di pundak.
Aku menggaruk kepala kucing tersebut sebelum pada mengerucutkan bibir. "Torrent dan Twyla. Kau bisa menggendongnya, aku rasa dia suka denganmu." Aku menunjuk Twyla dengan dagu, kucing tersebut masih menempelkan tubuhnya ke celana Theo sambil mengeong ke arah pria tersebut.
"I'm good."
"Ayolah ...," ujarku masih menggendong Torrent yang masih ada di pundak, ekornya mengkibas-kibas di depan Theo sehingga pria tersebut memilih untuk berjalan menjauh, membuat Twyla terjatuh ke lantai sebelum pada akhirnya kucing tersebut berlari ke dapur disusul dengan Torrent yang melompat dari gendonganku.
Theo berjalan lurus ke ruang tamu, ia berbelok ke samping saat melihat rak buku berjajar di dinding yang penuh dengan segala jenis buku, termasuk buku dewasa yang sekarang berada di tangan Theo.
Aku menarik buku tersebut dari Theo. Ia mengangkat satu alis, kembali mengambil buku lainnya sebelum membaca sinopsis di bagian belakang dengan wajah mengkerut.
Buku yang Theo ambil aku kembalikan lagi ke dalam rak. Aku mendorong Theo menjauhi bagian rak bukuku tersebut sebelum mengarahkannya ke bagian buku yang penuh dengan bacaan literatur, jurnal, ensiklopedia, juga buku-buku pengetahuan lainnya.
Tangan Theo meraba rak buku teratas hingga paling bawah, senyum hantu ada di bibirnya sebelum satu detik kemudian menghilang dan tergantikan dengan wajah datar.
"Apa kau paham dengan bacaan-bacaan ini? Ini merupakan bacaan-bacaan rumit, otakmu mungkin tidak akan sampai—tunggu, kau mempublikasi jurnal?" Theo mengambil satu kumpulan jurnal ekonomi sebelum membolak-balikkannya dengan wajah yang terlihat penasaran.
Aku harap ia menyukainya, buku-buku tersebut sudah ada semenjak aku masih remaja, dan aku membacanya di waktu luang jika balet tidak ada di jadwal keseharian. Aku menyukainya, tapi aku juga tahu bahwa aku tidak lahir untuk menimba ilmu akademik—seperti yang aku katakan, satu-satunya hal yang aku tahu hanyalah balet, dan aku tidak pandai dalam hal lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Heart Shatter [END]
Romance🏅"Spotlight Romance of February 2024" Reading List by WattpadRomanceID Ketika satu pasang jantung pecah menjadi kepingan mati rasa, hanya paradigma cinta keduanya yang dapat kembali membangun kembali sebuah kata rasa. Theo Wright, pria dengan aura...
![Heart Shatter [END]](https://img.wattpad.com/cover/343823781-64-k420182.jpg)