THEO
"Bruised Souls"
○●○
DENGAN TAMBAHAN PROFIT karena kontrak bisnis dengan Selena, aku dapat mengganti beberapa bagian restoran yang rusak dan tidak layak, termasuk dinding basah dan atap bolong akibat rakun yang beranak di atasnya. Aku juga sedang merencanakan sebuah lisensi untuk mendirikan bar agar aku dapat menyajikan minuman alkohol lainnya.
Meskipun restoran masih dibuka seperti biasa, aku memberitahu para pekerja yang mengganti atap dan dinding untuk tidak membuat banyak suara. Sejujurnya, aku pikir banyak orang yang makan di sini tidak peduli dengan hal tersebut, hanya saja aku masih tetap ingin memastikan bahwa semua pelangganku merasa nyaman ketika masuk ke dalam tempat makannya, karena aku tahu mereka dapat memberi ip banyak berdasarkan kesan pertama mereka saat makan.
Aku berjalan ke resepsionis. Freya, resepsionis yang mengurus semua kursi pesanan sedang sibuk mengetikkan sesuatu di dalam komputernya.
"Apa akan ada banyak orang yang datang hari ini?" Aku bertanya, menatap bangunan di depanku yang kacanya menyilaukan mata.
"Seperti biasa. Ada sepuluh pesanan yang datang di jam makan malam, empat merupakan pelanggan reguler. Aku masih mengirimkan pesan kepada calon pelanggan, berharap agar mereka menghabiskan makan malam mereka di sini." Wanita itu menyibakkan rambut yang ia gulung ke balik telinga sebelum kembali menatap layar komputernya dengan serius.
"Oke, aku akan meninggalkan kalian di sini." Aku memasang ritsleting jaket bomber-ku, meletakkan tas ranselku ke balik punggung sebelum kembali memperhatikan atap baru yang terlihat lebih enak dipandang dari sebelumnya.
"Apa renovasinya selesai?" tanya wanita itu sopan, matanya masih memaku layar komputer yang aku investasi untuk restoran ini.
Aku mengangguk sekali. "Ya, hanya perlu memperbaiki atap dan dindingnya."
Wanita itu juga mengangguk memahami. Aku keluar lewat pintu depan kali ini, berjalan kembali menuju ke apartemen agar aku dapat menyelesaikan catatan finansial yang terbengkalai selama satu bukan lebih.
Saat hendak membuka pintu apartemen, aku merasakan ponselku yang bergetar. Nama Dany terpajang di atasnya. Aku menekan tombol hijau di bawah layar sebelum menempelkan ponselku ke telinga.
"Hei ... biayanya bulan ini sebesar lima belas ribu dolar untuk radiologi dan kemonya. Aku akan mengirimkan tagihannya jika kau datang kemari, untunglah uang pensiunan Ben juga dapat membantu." Aku mendengar suara Dany dari balik ponsel yang terendam gergaji mesin di belakang.
"Apa Ben sedang bekerja sekarang?" Aku mendesah, melempar kunci apartemenku ke atas nakas sebelum meletakkan tas ranselku di atas rak bukuku yang mulai berdebu.
"Ya, dia terus berupaya keras setelah dokternya memperbolehkan pria tersebut untuk bekerja." Dany menyeret kalimatnya sebelum aku mendengarkan suara Ben di belakang yang memanggil nama adiknya tersebut.
"Kau yakin dia tidak apa bekerja?" Aku duduk di pinggir kasur apartemenku sebelum melepas sepatu dan kaos kakiku bergantian.
"Aku juga tidak yakin, malah aku tadi berharap agar dokternya berkata tidak agar Ben bisa istirahat di rumah." Dany berteriak di belakang, menyuruh Ben untuk tidak memotong kayu yang sudah diukur sebelumnya.
Aku mendesah pelan. "Aku akan mengirimkan uangnya nanti. Pensiunan bulanan Ben juga sudah ada, 'kan?"
"Ya ... tapi kau tahu itu tidak cukup. Sekarang aku harus menjual furnitur-furnitur yang aku buat untuk membayar tagihan bulanan rumah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Heart Shatter [END]
Romance🏅"Spotlight Romance of February 2024" Reading List by WattpadRomanceID Ketika satu pasang jantung pecah menjadi kepingan mati rasa, hanya paradigma cinta keduanya yang dapat kembali membangun kembali sebuah kata rasa. Theo Wright, pria dengan aura...
![Heart Shatter [END]](https://img.wattpad.com/cover/343823781-64-k420182.jpg)