20. Julia: Breaking Down

331 26 20
                                        

JULIA
"Breaking Down"

○●○

KERINGAT YANG MELIPUTI tubuh mulai membasahi kasur yang aku tiduri. Panik, teriakan, napas tersengal-sengal, jantung yang terasa seperti berhenti berdetak; semuanya masih menghantui tidur dan malam-malam panjangku. Hari-hari yang aku lewati seperti peperangan hati yang tidak pernah dapat aku menangkan di akhir. Seluruh tubuhku bergetar, pandanganku memburam, mengiaskan jutaan butiran spektrum warna bercampuran yang membuatku ingin muntah.

Aku selalu mengatakan kepada diriku untuk berhenti menutup mata, tapi hantu yang ada di dunia nyata tidak kalah menakutkannya daripada hantu yang ada di dalam mimpi dalam malam panjangku.

Biasanya aku menyumpal telinga menggunakan headphone yang berisikan daftar putar lagu-lagu tenang, kedua tangan membuka lembaran demi lembaran buku sambil berusaha menghentikan getaran tak terkontrol di tubuh. Mataku sesekali terarah ke luar jendela, tempat matahari mulai menunjukkan rupa dan membuat dunia lebih terang dari sebelumnya.

Notifikasi yang berbunyi di ponselku membuatku dengan cepat melihat. Ah, benar ... Theo ingin menemuiku. Aku tidak tahu apa tujuannya karena kami tidak pernah berbincang-bincang bersama sejak dua bulan yang lalu. Aku yakin ia tidak ingin menjadi temanku, dan aku dapat memahaminya, lagipula lebih baik bagiku untuk menjauh darinya agar keluargaku tidak lagi membidik tubuhnya lagi. Aku rasa ia akan jauh lebih baik saat aku berhenti bertemu dengannya.

Jadi apa yang harus aku lakukan? Dia sudah mengatakan kepadaku untuk bertemu di perpustakaan?

Tapi aku bisa saja mengirimkannya pesan mengatakan bahwa aku tidak bisa.

Aku terlalu senang tadi malam saat Theo berkata jika ia akan membeli tiket ke pertunjukkanku, paling tidak aku itu yang harus aku lakukan mengingat bahwa banyak penonton yang membatalkan pemesanan mereka karena apa yang John lakukan. Aku juga tidak tahu, aku hanya anak kecil waktu semua hal tersebut terjadi.

Setiap aku ingin bertanya kepada mereka semua, keluargaku tidak ada yang dapat menjawab, hanya Alex yang seringkali datang ke apartemenku setelah balapan mobilnya. Ibu dan ayah akhirnya datang setelah menghabiskan dua bulan lebih berada di Jerman, entah apa yang mereka lakukan, aku tidak dapat membuat pikiranku bersemangat dan ingin tahu lebih banyak tentang mereka.

Jadi hari Minggu ini aku punya rencana:

Aku mengirimi Theo pesan untuk mengkonfirmasi, tapi sampai sekarang aku belum mendapat balasan, aku harap ia benar-benar datang dan tidak hanya mempermalukanku.

Menaiki taksi, supir taksi ramah tersebut membawaku ke perpustakaan sambil berbicara mengenai hal acak kepadaku. Aku menghargainya, aku senang berbicara dengan orang lain karena akhir-akhir ini aku menghabiskan kebanyakan waktu sendiri tanpa ada bantuan dari orang lain.

Sesampainya di perpustakaan, aku kembali mengirim pesan Theo, sesekali berkeliling perpustakaan sambil mencari-cari buku dengan sinopsis menarik yang belum pernah aku baca sebelumnya. Aku juga masih memasang headphone milikku, menghindari sosialisasi karena aku hanya ingin sendiri setelah dipenuhi oleh buku-buku seperti ini.

Aku biasanya akan datang ke sini saat tidak sibuk dengan balet, tapi dengan semua hal yang terjadi, aku tidak dapat membawa diriku di sini karena aku tidak tahu apakah aku dapat membaca buku tanpa merasa paranoid ada orang lain yang diam-diam sedang memotretku dalam keadaan yang tidak etis.

Perpustakaan ini memang perpustakaan yang besar, dengan interior penuh dengan marmer yang merefleksikan cahaya hangat menuju ke dinding marmer lainnya. Ukiran-ukiran yang memenuhi seluruh ruangan hampir mirip seperti rumah keluargaku, hanya saja perpustakaan ini terlihat lebih hidup dan hangat, berbeda dari rumah yang sangat dingin dan terlalu tenang. Bahkan dengan banyaknya pengurus rumah yang lewat, aku masih merasakan sebuah hawa dingin dan asing setiap menginjakkan kaki di sana.

Heart Shatter [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang