10. Julia: Broken Rage

427 33 14
                                        

JULIA
"Broken Rage"

○●○

"Julia Voclain."

AKU MASIH MELAMUN menatap jendela studio. Sedari tadi aku masih belum mengganti pakaian seusai latihan karena Inez Petrova, direktor artistik studio membawaku ke ruang kerjanya bersama dengan Kai untuk membicarakan tentang ... aku tidak tahu apa yang sedang terjadi sejujurnya.

Ponsel yang tergenggam di tangan masih mati, tanda bahwa Rowan belum mengirimiku pesan sama sekali sejak akhir pekan yang lalu. Di mana pria tersebut? Kenapa aku tidak dapat menghubunginya? Kenapa ia tidak menghubungiku? Apa ada yang terjadi antara kami? Aku rasa terakhir kali kami berhubungan tidak ada yang salah. Aku dan Rowan tidak pernah bertengkar—tidak sampai menggebu-gebu hingga memilih untuk menyendiri tanpa memberi tahu satu sama lain.

Ia seharusnya menghubungiku karena hari ini ia pulang ke New York setelah bekerja dari Australia. Aku bahkan tidak tahu harus menghubungi siapa lagi karena Rowan tidak punya teman atau kerabat dekat selain ayahnya. Aku juga tidak dapat menghubungi asistennya, satu-satunya orang yang kemungkinan tahu di mana pria tersebut berada. Ia tidak pernah punya kesempatan seperti orang lainnya untuk menjalin hubungan sosial karena tanggung jawabnya sebagai penerus perusahaan.

Pemikiran ekstrimis John—ayah Rowan dan juga partner kerja sama perusahaan keluarga kami—selalu membawa kekasihku tersebut ke sarang neraka. Aku berkali-kali mengatakan kepadanya untuk tidak menggebu-gebu, tapi Rowan selalu tunduk kepada ayahnya. Satu-satunya keturunan keluarga Weston yang akan membawa perusahaan siaran media mereka menghabiskan banyak hidupnya berkutat di dalam kantor ketimbang menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang seumurannya.

"Julia, aku serius. Kau merupakan seorang prinsipal dan punya gelar prima, jika kau tidak serius membahas ini aku akan memasukkan namamu keluar dari tim inti."

Ucapan Inez langsung membuatku hilang dari bayang lamunan. Wanita tersebut menatapku dengan kecewa, rambut bobnya bergerak ke kanan dan kiri saat menggelengkan kepala menatapku.

"Maaf, aku sedang tidak enak badan hari ini," ujarku sambil membersihkan tenggorokan.

Wanita tersebut menghela napas panjang, pada akhirnya mengangguk sebelum ia menunjukkanku dokumen yang berada di atas mejanya.

"Akan ada proyek musim semi panas baru untuk perusahaan. Proyek balet kontemporari yang akan diketuai Nikolai William, pengajar kalian musim lalu. Proyeknya sudah disetujui dan budgetnya mulai diatur minggu ini. Semua dewan dan Ibu CEO juga sudah memberikan bendera mulainya. Mereka ingin kau dan Kai untuk proyek pas de deux ini. Aku harap kau siap, karena pekerjaanmu sebagai prima akan bertambah mulai minggu ini." Inez menatap mataku penuh dengan pertanyaan.

Aku mengangguk menanggapinya. "Ya, tentu saja, aku siap. Aku ingin melihat deskripsinya."

Wanita tersebut menyodorkan kertas dua halaman yang menceritakan mengenai jalan cerita balet kontemporari ini.

Dewasa. Jalan ceritanya hanya digunakan untuk orang dewasa, dengan premis cerita mengenai dua orang yang rindu sentuhan tetapi keduanya benci dengan komitmen. Aku mengerjapkan mata, tidak pernah menyangka bahwa pada akhirnya aku akan mendapatkan peran baru yang sangat, sangat, sangat berbeda dengan peran sebelumnya yang pernah aku perankan di perusahaan.

"Apakah harus aku?" tanyaku tidak yakin.

"Ya, musim lalu namamu ada di daftar paling atas penari yang paling ingin ditonton oleh banyak orang—Kai ada di urutan kedua." Wanita tersebut menunjuk Kai yang sedang sedari tadi menoleh ke arahku dan Inez bergantian dengan bibir mengerucut.

Heart Shatter [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang