27. Theo: Last Closure

384 27 8
                                        

THEO
"Last Closure"

○●○

DI TENGAH MUSIM PANAS pada hari Sabtu, semuanya terasa sama, tapi hal yang membuatnya menjadi sedikit spesial adalah berkumpulnya semua orang-orang terdekatku yang sudah aku anggap sebagai keluarga.

Aku berjalan dari rumah ke East Harlem untuk menghabiskan malam minggu bersama yang lainnya. Langit oranye masih latar belakang objek gedung-gedung pencakar langit. Gelombang panas yang memenuhi sebagian hari mereda setelah bulan muncul samar di langit penuh karbondioksida New York.

Pukul sembilan malam aku baru saja menutup restoran, dengan penuhnya pengunjung dan turis selama liburan, aku harus ikut turun tangan untuk memasak di dapur seharian penuh.

Aku tidak pernah merasakan bosan, memasak jadi satu-satunya hal yang dapat mengalihkan perhatian dari masalah-masalah yang menyelimutiku erat hingga aku terasa panas.

Seharian penuh di restoran, aku juga mengamati seluruh karyawan, mendapati sebuah kebanggan tersendiri saat menyadari bahwa aku memilih orang-orang yang benar untuk mengurus restoran. Memang kebanyakan profit yang aku dapatkan dari Selena aku gunakan untuk membangun restoranku agar lebih maju dari sebelumnya. Tapi di sisi lain, aku masih harus bertanggung jawab kepada Ben yang masih dalam progres radiasi, imunoterapi, kemoterapi, dan pengobatan lainnya.

Aku dapat menyadari jika semuanya membutuhkan banyak biaya, tapi dengan restoran yang semakin ramai, aku harap semuanya dapat membantu Ben.

Kabarnya hari ini aku akan mendengar progresnya setelah pria tersebut berada pada pengawasan aktif dokter selama enam bulan terakhir. Jika pengobatan enam bulan ini masih belum berhasil, kami akan mengeceknya enam bulan lagi dengan pengobatan yang sama sebelum kami dapat melakukan operasinya.

Karena ini kedua kalinya Ben mengalami kanker prostat. Satu-satunya hal yang dapat kami lakukan untuk menuntaskan semuanya adalah dengan memulai operasi untuk menghilangkan kelenjar prostatnya. Dengan umur Ben yang tua, tentunya aku, Gabby, Ben, dan Dany sudah memikirkan komplikasi samping yang mungkin akan terjadi selepas operasinya berjalan.

Menggelengkan kepala, aku mencoba untuk menghilangkan semua pikiran negatif tentang ben atau penyakitnya. Mengetuk pintu rumah beberapa kali, aku melihat Dany yang membuka pintu sebelum mempersilakanku  masuk ke dalam rumahnya. Gabby dan Lukas sudah ada di sana, sedang mencuci piring sementara Ben sedang menyiapkan papan catur yang ada di ruang tamunya.

"Oh, hei ... bagaimana restorannya?" Ben berdiri dari sofa saat ia melihatku. Aku berjalan ke arahnya dengan canggung, menepuk pundaknya pelan sebelum duduk di sofa yang ada di sebelahnya.

"Bagaimana dengan progresnya?" tanyaku sambil mengambil kaleng bir yang ada di bawah meja ruang tamu sebelum meneguk isinya. Aku membutuhkannya saat ini. Aku tidak yakin kapan terakhir kali aku minum.

Aku melihat wajah Ben yang melukiskan sekitar puluhan emosi sebelum bibirnya terangkat. "Kita bisa melanjutkan operasinya," Ben mendengkus sebentar, menata bidak caturnya yang masih berserakkan di atas meja sebelum melanjutkan, "tapi dengan inflasi dan juga pengobatan setelah operasi yang bisa sampai berminggu-minggu, aku jadi tidak yakin ingin melakukannya."

"Kau ragu dengan biayanya." Aku mengobservasi.

Ben terkekeh lemah. "Tentu saja. Kau dan Gabby sudah membantuku banyak."

"Uang pensiunannya masih ada, 'kan? Lalu aku sudah mengurus asuransinya; Gab sudah membantu mengurus biaya pengobatannya. Apa lagi yang kurang?" Aku bertanya.

"Bukan itu masalahnya." Ben meringis sambil mengganti posisi. "Komplikasinya sangat tinggi di usiaku."

"Oke? Kita bisa mengurus itu nanti. Untuk sekarang kita sudah tahu tentang biaya operasinya. Mari lakukan operasinya dan kau tidak perlu lagi khawatir dengan kankernya." Aku meneguk birnya sampai habis, menoleh ke arah Gabby dan Dany yang memperhatikan percakapan kami dari dapur.

Heart Shatter [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang