JULIA
"Small Conversations"
○●○
SETELAH ACARA SELESAI, aku menghabiskan banyak waktu di dalam kamar penthouse yang sudah disewa oleh ibu. Dengan gedung yang berada di atas awan, aku dapat melihat keseluruhan kota Los Angeles yang bermandikan cahaya kerlap-kerlip lampu malam.
Aku duduk di sebelah jendela, membaca buku novel yang berada di tengah halaman sambil sesekali memperhatikan awan yang menabrak kaca. Senyumku terbaca oleh kaca jendela, aku menemukan diriku menempel pada kaca sambil menghabiskan waktu memperhatikan cahaya bergerak di bawah sana.
Ponselku ada di depan, masih menunggu balasan Rowan setelah ia mengatakan kepadaku bahwa hari Senin besok ia akan pulang. Aku ingin mengkonfirmasi kedatangannya, karena aku ingin menyiapkan semuanya di apartemen untuk kencan kami berdua.
Ahh ... aku sangat gundah, tidak tahu kenapa akhir-akhir ini pikiranku jatuh ke mana-mana. Aku tidak dapat fokus membaca, atau melakukan hal-hal biasa tanpa memikirkan suatu masalah seperti kotak bom yang tidak dapat aku pecahkan misterinya.
Aku menutup bukuku sebelum melemparnya ke atas kasur. Berjalan ke arah meja rias, aku menyisir rambutku yang berantakan sebelum menata gaun koktail yang sedikit lusuh di bagian belakang akibat debu di sekitar jendela.
Malam ini keluarga akan berkumpul lagi. Entah apakah kakak-kakakku akan datang. Nyatanya, Alex tidak datang ke acara tadi dan memilih untuk menghabiskan waktu keliling Los Angeles. Ia sempat ingin mengajakku, tapi tatapan merah ibu membuatku tunduk patuh dan membuatku terjebak selama acara tersebut dimulai.
Ayah juga baru datang, aku dapat mendengar percakapan ibu tadi pagi yang mengatakan bahwa ayah akan menyusul setelah menyelesaikan dokumen kerjasamanya bersama dengan Valentino. Camilla juga sama. Aku tidak tahu ke mana arah tujuan travelnya selanjutnya, yang pasti kedua orang tersebut membuatku mirip kentang setiap aku melihat mereka.
Dengan satu tarikan napas, aku memutar kenop pintu, berjalan ke ruang tamu yang sudah diduduki oleh Camilla dan Valentino tanpa ada tanda-tanda Alex di sekitarnya. Ke mana pria tersebut? Aku harap ia tidak menghabiskan waktu di kelab lagi hingga tengah malam. Aku tidak ingin pria tersebut mengganggu tidur malamku karena teriakan mabuknya di balik telepon.
Aku dengan ragu duduk bersilangan dengan Camilla dan Valentino. Kecanggungan yang aku rasakan mulai memenuhi seluruh tubuh, yang dapat aku lakukan hanya memainkan vas bunga sebelum menggeser-geser layar ponselku.
Sudah lama aku tidak merasakannya ... menjadi bagian dari keluarga. Aku ingin kami terus berbicara tanpa konsekuensi yang berhubungan langsung dengan pekerjaan mereka.
"Val, kau sudah lihat kuota peresmian sponsor tahun depan di Detroit?" tanya Camilla tanpa melihat Valentino yang sibuk memperhatikan ponselnya juga.
"Sudah melihatnya. Tidak tertarik, aku akan mencari sponsor lain yang punya benefit besar untuk perusahaan keluarga kita." Pria tersebut menggaruk janggutnya yang pendek sebentar sebelum melirikku. "Apa kau sudah menyetujui kontrak baletmu musim ini?" tanyanya dengan datar, mengangkat dagunya ke arahku hingga membuatku beku selama beberapa detik.
Aku mengangkat kepala, menatap kakak sulungku tersebut dengan canggung sebelum menganggukkan kepala. "Sudah."
"Apa kau sudah memperhatikan semua isinya?"
"Sudah."
"Kau yakin? Terakhir kali kau menandatangi kontrak, kau tidak boleh melakukan acara apapun di luar perusahaan studiomu." Valentino melirikku sebentar. Aku tahu ia tidak mengejekku, tapi perkataannya tersebut membuatku panas dan ingin mengakhiri percakapan ini dan mengunci diri di kamar sampai aku pulang besok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Heart Shatter [END]
Romantik🏅"Spotlight Romance of February 2024" Reading List by WattpadRomanceID Ketika satu pasang jantung pecah menjadi kepingan mati rasa, hanya paradigma cinta keduanya yang dapat kembali membangun kembali sebuah kata rasa. Theo Wright, pria dengan aura...
![Heart Shatter [END]](https://img.wattpad.com/cover/343823781-64-k420182.jpg)