THEO
"Sacred Confession"
○●○
MUSIM PANAS SECARA resmi sudah dimulai. Banyak turis memenuhi pusat kota, beberapa dari mereka aku lihat sedang masuk ke dalam toko roti Maya sambil mengambil tempat kosong yang ada.
Mataku menganalisa tempat ini, tema kontemporari, dengan dinding kayu yang diolesi minyak vernis juga tanaman gantung yang ditempel di dindingnya. Berpuluh-puluh jenis bunga ada di jendela, memberikan kesan privasi kepada pengunjung yang duduk di sebelah jendela yang menghadap ke jalan utama.
Ada rak buku yang berjajar salah satu dinding, dengan sofa baca berwarna pop-up mengelilingi. Area tersebut dipenuhi oleh anak-anak muda yang berbincang bersama sambil meletakkan laptop mereka di atas meja.
Lagu pop berdendang dari speaker yang ada di sudut-sudut ruang, tertutup dengan hiasan lampu gantung yang membuat toko rotinya lebih hangat. Tidak hanya roti yang berjajar rapi di dalam etalase kaca, ada coffee corner yang antre dengan banyak orang.
"Ini menakjubkan, May ... selamat atas pembukaan toko roti barunya," ujarku sejujurnya, tidak ingin mengucapkan kebohongan yang aku tahu hanya akan berbuahkan rasa penyesalan. Aku tidak akan mengulang semuanya.
Maya ikut mengobservasi toko rotinya dengan mata menyala. "Terima kasih, aku tidak berpikir bahwa aku bisa melakukan ini semua."
Mataku menyipit, mengulang kembali percakapan kami sebelum aku meletakkan kedua tanganku menyilang di atas meja. "Jadi kau punya berapa toko?"
Maya menunjukkan tiga jarinya. "Toko pertamaku ada di Seattle, di sana aku rasa aku mencetak gol karena aku beruntung mendapatkan tempat yang sangat strategis. Saat profitnya sudah terkumpul, aku membuka toko lainnya di Indonesia, ibu kandungku yang mengelolanya."
Kepalaku terangkat sebentar mendengar jawabannya. "Kau akhirnya berbicara dengan ibu kandungmu?"
Maya mengangguk. "Aku selalu mengingat ucapanmu untuk memaafkan ibu kandungku karena membawaku ke tempat adopsi akibat riwayat kriminalnya. Butuh waktu lama untuk memaafkannya, tapi akhirnya kami berdua baik-baik saja sekarang. Gideon juga banyak membantu ... aku rasa kau dan Gideon akan jadi teman baik." Wanita itu tersenyum, menoleh ke belakang sebentar sementara mataku masih terarah ke Julia, wanita itu masih mengantre tiga baris dari kasir.
"Kau terlihat bahagia; kau menepati janji kita." Aku akhirnya menatap matanya lekat, masih mengingatkanku tentang bekas masa lalu kami yang aku buang sia-sia. Seharusnya aku mengatakannya kepadanya. Seharusnya aku melakukannya.
"Aku bahagia, aku mendapatkan keluargaku kembali ... dan juga aku punya suami yang menakjubkan yang selalu memahamiku. Bukan hanya bahagia, aku juga beruntung dapat bertemu dengannya." Maya berkata tulus, memperhatikan cincinnya kembali sebelum memainkannya seperti sebelumnya.
Saat kami berpisah setelah kesenangan satu semester di akademi, kami berjanji untuk bahagia demi satu sama lain, tidak ada kontak dan saling menghubungi karena aku yang mengusulkan kami untuk menghapus semua log, kontak, dan semua pesan yang kami simpan selama satu semester lebih. Sudah hampir satu dekade sejak pertemuan pertama kami dan aku masih merasa bahwa ada yang harus aku ucapkan sebelum kami berpisah.
"Aku menyukaimu, May," ujarku pelan sambil menarik napas, "dan aku seharusnya memberitahumu lebih awal."
Pernyataan tersebut. Pernyataan tersebut merupakan sebuah pernyataan yang selalu mencegahku untuk terus maju. Pernyataan yang terapisku katakan harus aku lupakan. Aku tidak dapat melupakannya, itu bagian dari masalahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Heart Shatter [END]
Romance🏅"Spotlight Romance of February 2024" Reading List by WattpadRomanceID Ketika satu pasang jantung pecah menjadi kepingan mati rasa, hanya paradigma cinta keduanya yang dapat kembali membangun kembali sebuah kata rasa. Theo Wright, pria dengan aura...
![Heart Shatter [END]](https://img.wattpad.com/cover/343823781-64-k420182.jpg)