26. Julia: Open Wounded Heart

319 27 16
                                        

JULIA
"Open Wounded Heart"

○●○

"RUMAH MAKAN AKAN buka dalam satu jam. Lukas memberitahuku bahwa kalian belum sarapan, ayo sarapan bersama." Gabby ikut berdiri dari kasur sambil meringis. Aku ikut meringis, berjalan ke arahnya untuk membantu tapi wanita tersebut hanya tertawa menatap ekspresiku.

"Aku baik-baik saja, terima kasih, Julia." Gabby meremas tanganku lembut sebelum ia membelai perutnya. "Aku perlu mengganti pakaianku sebentar, aku akan menyusul ke bawah."

Theo tanpa berkomentar langsung keluar, tidak sebelum ia menatapku sekali sebelum wajahnya menghilang dari pandanganku. Aku masih tidak paham dengan pola pemikirannya, tapi aku yakin ia tidak sedang kesal kepadaku.

Aku keluar menyusul Theo, tapi sebelum aku dapat melangkah dari pintu aku kembali mendengar suara rintihan Gabby saat ia memegangi perutnya.

"Apa kau butuh bantuan?" Aku memberanikan diriku bertanya. Gabby merupakan salah satu wanita tinggi yang pernah aku lihat. Berapa tingginya? 5'7 ... Theo juga merupakan pria tertinggi selain Val dan Alex, aku ingin tahu berapa tinggi mereka saat berdiri bertiga.

Gabby tidak menjawab selama beberapa detik, membuatku merasa buruk karena aku mungkin sedang membuatku kesal karena apa yang aku tanyakan kepadanya. "Tentu, bisakah kau membantuku melepas ritsleting belakang pakaiannya? Aku tidak bisa melakukannya."

Dengan cepat aku menyetujuinya. Berjalan ke belakang Gabby, aku dengan hati-hati melepas ritselting dan pita gaun maternalnya sebelum Gabby menghembuskan napas lega. "Ya Tuhan ... aku mungkin butuh baju baru karena rasanya perutku tidak dapat masuk ke dalam pakaiannya."

Aku tersenyum kecil. "Ya, mungkin lain kali hindari ritsleting dan kancing, kau terlihat kesulitan untuk melepasnya."

Gabby terkekeh. "Kau benar, aku rasa kami melakukan panic buying dan tidak melihat aksesibilitasnya untukku." Ia melepas gaunnya tanpa peduli jika aku masih ada di sana. Dengan jelas aku dapat melihat perutnya yang besar, di satu sisi aku meringis melihat keadaanya, tapi di sisi lain aku merasa takjub karena bayi tersebut berkembang di dalam perutnya.

"Berapa bulan?" tanyaku sambil menunjuk perutnya.

"Enam belas minggu. Dia mulai aktif menendang, karena itu aku sesekali meringis karena aku masih belum terbiasa dengan perut bagian dalamku yang sakit saat ditendang." Gabby memasang gaun baru yang terlihat lebih nyaman, hanya ada karet di sekelilingnya, membuat wanita itu menghembuskan napas seperti ia sudah menahannya beberapa jam selanjutnya.

Aku berjalan keluar disusul dengan Gabby. Ia menuntunku turun ke tangga menuju ke rumah makannya yang ada di bawah, Lukas dan Theo ada di dapur sedang mempersiapkan sarapan. Seorang pria lain ada di sana dengan apronnya, menyapa Gabby ramah sebelum wanita tersebut menyuruh pria sedikit tua itu untuk mengatur masakannya hari ini karena Gabby sedang tidak bisa membantu di dapur.

Gabby menunjuk kursi kayu kosong yang ada di meja makan, jumlahnya ada empat dengan berbagai macam saus botol di atasnya. Ia duduk di sisi kananku sambil mengelus perutnya, kembali meringis sebelum sedikit terperanjat.

"Maaf, dia sedang bergerak-gerak di dalam yang membuatku tidak bisa merasa nyaman." Gabby terkekeh, mengelus perutnya sebentar sambil menatapku ramah.

Wanita ini benar-benar berbeda dengan Theo. Aku tidak yakin apakah mereka merupakan saudara karena aura mereka yang terasa sangat berbeda kepada satu sama lain.

"Apakah benar ingin muntah adalah salah satu ciri orang yang mengandung—aku membacanya di buku dan internet, tapi aku masih tidak terlalu yakin karena aku yakin aku tidak pernah mengenal orang hamil di hidupku sebelumnya. Aku melihatnya banyak di jalanan, tapi mereka merupakan orang asing dan aku tidak mengenal mereka, karena itu aku tidak pernah bertanya kepada mereka. Tapi kau adalah seorang yang aku kenal dari Theo—kau adalah saudarinya, jadi aku harap kau tidak keberatan jika aku bertanya mengenai hal tersebut, tentu saja kau tidak berkewajiban untuk menjawabnya, tapi aku merasa buruk saat kau merasa terpaksa untuk menjawabnya, tapi kau tidak perlu menjawabnya. Uh ... hiraukan apa yang baru saja aku katakan kepadamu." Aku berbicara antusias, terlalu cepat hingga aku harus menarik napas dalam untuk memasukkan pasokan oksigen kembali ke dalam paru-paruku.

Heart Shatter [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang