15. Theo: No Return

356 28 5
                                        

THEO
"No Return"

○●○

SEMUA ANGKA YANG tertulis di buku catatanku pada akhirnya mengeluarkan hasil.

Tidak begitu positif.

Mulai dari restoran, pajak, pengobatan terapi Ben, sewa bulanan apartemen, gaji karyawan, bahan-bahan, sertifikat lisensi dan izin—semuanya bercampur menjadi satu. Finansial bisnis dan personalku juga ikut terganggu, beruntung aku sudah mengantisipasinya. Entah apakah hal ini merupakan menyedihkan atau melegakan, setiap hari aku memikirkan tentang runtuhnya bisnis yang aku bangun.

Semua kursus tambahan untuk pengelolaan finansial dan bisnis yang aku ikuti akhirnya membawaku ke suatu kesempatan terakhir yang dapat aku lakukan agar dapat menjaga restoranku dari kebangkrutan. Mimpi buruk, ini mimpi buruk, dari semua segala masalah yang aku antisipasi, campur tangan Valentino merupakan masalah yang tidak terdeteksi olehku.

Aku tahu meskipun aku sudah mempunyai restoran dan dapat tinggal di New York, nyawaku masih berada di ujung tanduk. Aku masih harus mencari bangunan kosong untuk memindahkan restoranku. Ranah hukum bukan merupakan jalan yang ingin aku ambil karena aku tahu aku tidak akan menang, itu bukan jalan terbaikku.

Seharusnya aku dapat menabung uang profitnya untuk membeli bangunannya, tetapi aku rasa itu merupakan ekspektasi yang terlalu tinggi untuk sekarang. Tapi, aku punya alternatif lainnya yang dapat aku lakukan untuk membantuku membeli bangunannya kembali, menginvestasikan sebagian uang profit yang aku dapatkan semenjak membuka restoran beberapa tahun yang lalu untuk membuka bar dan menambah karyawan di dalamnya.

Aku hanya punya satu harapan, dengan bantuan Jim yang kini berperan sebagai manajer restoran, aku dapat menghabiskan banyak waktu untuk mengurus hal-hal di belakang, khususnya permasalahan finansial sambil mengobservasi seluruh karyawan untuk memastikan bahwa mereka dapat melakukan tugas mereka dengan sepenuh tenaga. Investasi seragam restoran juga aku lakukan karena aku ingin layanan karyawan pada review di internet dapat berkembang.

Semenjak rumor foto dengan Julia yang beredar di internet, aku selalu membayangkan bahwa restoranku akan terbakar habis hingga menjadi abu, tapi aku salah. Setiap hari restoran semakin ramai, bahkan kami kehabisan tempat reservasi karena penuhnya restoran utamanya saat makan malam. Sejak itu aku tahu aku harus menginvestasikan branding restoranku kepada semua orang dan menabung profit sebanyak-banyaknya untuk membeli bangunannya.

Ini merupakan cara agar aku dapat menembak bintang di angkasa, dan aku akan melakukannya.

Siang harinya aku menyalakan mobil menuju ke rumah sakit. Aku harus menjemput Ben karena kabarnya pria tersebut harus melakukan check-up untuk kankernya. Aku harap semuanya menjadi lebih baik, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat mengetahui jika pria tersebut tidak lagi membantuku. Satu-satunya hal yang dapat aku berikan kepadanya adalah ... kehadiranku setiap ia meminta.

Di ruang tunggu, aku mengobservasi ruangan, memperhatikan semua orang yang berjalan melintas dengan wajah bosan. Beberapa kali aku mengecek restoran dan karyawanku lewat kamera pengawasan yang ada di setiap ruangan, memastikan tidak ada kecelakaan atau peristiwa buruk yang hilang dari radar.

"Theo, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menjemputku." Aku melihat Ben datang ke arahku dengan senyum di wajah berkeriputnya. Di tangannya ada tumpukan berkas dengan logo rumah sakit di dalamnya.

"Apa semuanya baik-baik saja?" Aku berdiri dari kursi tunggu, merapikan jaket yang kusut akibat posisi dudukku sambil menunggu jawaban dari Ben.

Pria tersebut memberikan dokumen rumah sakitnya kepadaku, lebih tepatnya pada bukti servis rumah sakit dan juga obat tambahan. "Aku baru saja memverifikasi pembayarannya lewat bank."

Heart Shatter [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang