24. Gloomy

760 76 2
                                        

Haruna tidak lagi terkejut saat Shotaro menghadangnya di jalan setapak menuju gedung fakultasnya. Sudah hampir 3 bulan lelaki itu mengikutinya dan membujuk Haruna untuk ikut bersamanya. Namun gadis itu tetap pada pendiriannya, dia tidak ingin mengacaukan kontraknya dengan Renjun.

"Haruna.. aku menyelamatkanmu bukan untuk membiarkanmu menikahi orang itu."

"Aku juga ga berniat menikah dengannya, aku cuma mau bertahan hidup." Haruna jelas menyangkal. Namun Shotaro bersikeras.

"Jung Jaehyun sudah bergerak, salah seorang anak buahnya tiba di China tadi pagi. "

Haruna dan langkah cepatnya langsung terhenti. Gadis itu menoleh, beradu tatapan tajam dengan Shotaro.

"Akan sia-sia usahamu bersembunyi sejauh ini jika pada akhirnya kamu tertangkap."

Yah.. Shotaro ada benarnya juga, namun Haruna merasa sangat berat untuk meninggalkan Renjun dan mengkhianati lelaki itu. Meskipun dia tau Renjun mungkin hanya menganggapnya sebagai seorang teman, tapi Haruna benar-benar ingin memaksakan perasaannya.

"Kita ga bisa nunggu lagi Runa. Kita pergi sekarang dan ikut penerbangan ke Jerman."

Haruna diam, matanya bergerak tidak fokus, kegelisahannya tergambar dengan jelas di wajahnya.

Kontraknya dengan Huang Renjun akan berakhir 10 hari lagi, dan Haruna tidak bisa berhenti berharap. Setelah semua yang mereka lalui belakangan ini membuat Haruna berpikiran positif. Mungkin saja perasaan Renjun akan berubah padanya kan?
Ya, tidak ada yang tidak mungkin.

"Taro.. ga bisa ya nunggu 10 hari lagi ??"

"Ruunaa.." Shotaro mendesah dengan nada frustasi. Dia benar-benar tidak habis pikir. Petuah apa yang Renjun berikan untuk mencuci otak Haruna hingga gadis itu begitu keberatan meninggalkannya.

"Pikirkan keselamatanmu sendiri. Aku begini juga demi keselamatanmu, tapi kamu malah begini. "

"Maaf Taro.."

Haruna merasa bimbang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Haruna merasa bimbang. Hatinya seolah berada di awang-awang. Apakah dia harus berlaku egois dengan mengkhianati Renjun demi keselamatannya ataukah dia harus menetap sampai akhir bersama lelaki itu?

Opsi yang kedua memang amat sangat Haruna inginkan, bahkan gadis itu ingin Renjun memperpanjang kontrak mereka menjadi seumur hidup. Tapi dia tak yakin dengan perasaan Renjun.

Sepulang dari honeymoon, dia dan Renjun memang bertambah dekat, kedua nya bahkan memainkan peran seperti suami istri sungguhan baik itu di dalam ataupun di luar rumah.

Gadis itu melamun, menatap sisi jendela mobil yang berembun terkena hujan. Matanya mengikuti setiap rintik air yang turun menyusuri pembatas kaca sementara pikiran Haruna berada di tempat lain.

Seseorang yang sedang dia pikirkan tengah duduk di sampingnya. Memegang kendali di kursi pengemudi dengan fokus yang terbagi antara menatap jalanan basah dan melirik Haruna.

"Ga kerasa ya, tinggal 10 hari." Renjun berkata dengan lirih. Tatapannya lurus kedepan dengan mimik yang sulit terbaca.

Haruna kembali bersandar setelah mendengar suara Renjun. Gadis itu meliriknya satu kali sebelum menghela nafas dengan kepala tertunduk.

"Iya." Berat hati dia menanggapi.

"Setelah kontrak ini berakhir kamu mau kemana?"

Pupus sudah harapan Haruna. Dia yang berharap Renjun akan membatalkan kontrak nya dan membuat hubungan mereka nyata di atas cinta, nyatanya tak akan pernah terjadi.

Selamanya hubungan mereka hanya akan ada di atas kontrak. Uanglah yang menyatukan mereka dan bukannya cinta.

Haruna nampaknya harus mengingat fakta itu lagi. Mengucapkan nya berulang kali agrar dia sadar akan realitanya.

"Aku....... " Gadis itu menarik nafas dalam itu adalah pertanyaan tersulit yang harus dia jawab.

"..... Entahlah."

"Aku punya vila di Jilin, kalau kamu belum punya tempat untuk menetap, kamu bisa tinggal disana." Renjun memperlambat laju mobilnya. Lelaki itu menatap Haruna sesaat dan memaksakan senyumannya.

"Iya."

"Njun..."

Haruna tidak tau kenapa dia keras kepala seperti ini. Sudah jelas Renjun tidak memiliki perasaan apapun padanya. Namun dia masih bersikeras ingin mengkonfirmasi ini.

"Kenapa??"

Pada akhirnya Haruna merasa takut. Gadis itu menelan kembali rasa penasarannya beserta perasaannya yang tak terbalas. Gadis itu memaksakan senyumannya lalu menggeleng.

"Enggak, ga jadi."

"Mau jalan-jalan sebentar??" Tawar Renjun. Dan Haruna mengangguk tanpa berpikir.

Saat ini menghabiskan waktu dengan Renjun akan menjadi sesuatu yang paling berharga untuknya. Meskipun perasaannya tak terbalas.

Gadis itu menunduk, menuliskan pesan singkat di ponselnya.

To. Shotaro
Aku akan ikut pergi denganmu
Besok.

Haruna akhirnya harus memutuskan, dia akan pergi dengan Shotaro dan mengkhianati kontraknya dengan Renjun. Pergi jauh ke belahan bumi lain dan meninggalkan seluruh kenangannya disini. Jika beruntung dia akan melupakan seluruh kenangan indahnya bersama Huang Renjun.

Anggap saja Ini adalah saat-saat terakhirnya bisa melihat lelaki itu. Haruna tidak akan menyia-nyiakannya.

Renjun berhenti di tepi jalan. Ada taman kecil di sisi jalan dan Renjun menuntun Haruna untuk pergi kesana.
Suasananya cukup sepi karena ini sudah cukup larut.

"Maaf telat jemput tadi." Gumam Renjun. Wajahnya sedikit mendung karena merasa bersalah telah terlambate menjemput Haruna dari kampus.

"Iya."

Mereka berdua berjalan beriringan di jalan setapak. Lampu-lampu taman yang berpendar kuning membuat suasananya menjadi melankolis.

Renjun pikir perasaan mengganjal di hatinya ini karena rasa bersalahnya telah terlambat menjemput Haruna. Namun tampaknya dugaan itu tak sepenuhnya tepat. Hati Renjun masih mengganjal, perasaannya terasa suram dan tidak nyaman. Dan Renjun tidak mengerti apa yang terjadi pada hatinya sekarang.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Love Partner | HUANG RENJUNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang