Hujan rintik-rintik, dingin yang membalut tubuhnya terasa menusuk, Becky mematikan mobilnya, menunggu jam penjemputan di parkiran saja, karena pasti akan sangat ramai jika menunggu di lobi.
Masih 15 menit lagi, tidak ada pemberitahuan jika Tawat akan dijemput oleh Freen, karena sedari tadi pesannya tidak dibalas sama sekali.
Namun rasa kantuknya buyar saat sosok seorang wanita dengan lelakinya berada di luar, dengan payung transparan dan jaket yang wanita itu pakaikan kepada anaknya.
"Jen?"
"Bukain Bec. "
Becky menurut, wanita itu membantu Tawat untuk masuk, dilanjutkan dengan dirinya, ciuman lelaki kecil itu membuatnya tersenyum, sapaan hangat Jennie juga lumayan menenangkan.
"Aku gak tau Kamu jemput, tadi Freen suruh Aku jemput Tawat, eh pas Aku mau ke parkiran malah liat mobil Kamu, jadi sekalian aja. "
Seharusnya, ini menjadi tanggung jawabnya dan Freen, bukan Jennie, kenapa wanita itu seakan memiliki peran penting untuk tumbuh kembang buah hatinya.
"Kenapa Kamu gak hubungin Aku?"
"Maunya, cuma udah keburu jalan, jadi ya udah. "
"Kamu ke sini naik apa?"
"Taksi online. "
"Aku anter pulang aja?"
"Aku mau ke super market, belanja bulanan, turunin di depan aja Bec. "
"Bareng aja, Aku juga sekalian mau belanja. "
Tidak, Becky hanya berbohong, Dia menginginkan waktu yang lama dengan Jennie, untuk menanyakan segala macam hal yang membuat kepalanya serasa ingin meledak.
"Mama, nanti mau eskrim, "
"Boleh. " Becky menggenggam tangan Tawat dengan senang.
"Sorry Bec, Tawat lagi gak dibolehin Freen beli eskrim, soalnya lagi radang. "
Dirinya tau persis, penyakit anaknya, bahkan jauh lebih teliti dibandingkan dari Freen, tapi sialnya, semua itu tidak terlihat, seakan Ia tidak mengurus Tawat dengan baik.
"Es atau minuman sejuk lainnya bisa membantu meredakan nyeri atau rasa tidak nyaman karena peradangan, jadi gak masalah asal masih dalam kapasitas yang wajar. "
"Tapi Bec. "
"Aku Mamanya Jen, Aku bahkan jauh lebih tau, tapi Kamu, Freen gak pernah sadar itu. "
"Maafin Aku. "
"Hmm. "
Rasa bersalah yang menumpuk, entah dari mana Jennie bisa meminta maaf atas semua yang sudah terlanjur ini, rasanya semua yang Ia lakukan sudah sangat kejauhan.
"Freen udah lamar Kamu Jen?"
"Maksud Kamu?"
"Kalian mau nikah kapan?"
"Bec?"
"Gak masalah, kalau emang harus berbagi, Aku bakal lakuin itu Jen, tapi jangan ambil Freen seutuhnya. "
"Kalau Kamu ingin Aku pergi dari Kalian, Aku akan pergi Bec. "
Jawabannya masih sama seperti dua tahun lalu, Becky tidak ingin, malah dirinya yang memaksa Jennie untuk tinggal, karena kenyataannya kebahagiaan Freen bukan lagi dirinya, namun sudah berbeda muara.
Gelengan kepala itu menjadi jawaban, mobil itu berhenti, Becky membalikan tubuhnya menatap Tawat yang sudah terlelap terlebih dahulu, setelah itu sepenuhnya Ia memfokuskan dirinya terhadap Jennie.
KAMU SEDANG MEMBACA
YOU! (FreenBecky)
General Fiction(GXG⚠️) Aku mematahkan hatiku, mencoba mencintaimu.
