Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⚠️Denger lagunya, resapi setiap paragraf yang tercipta⚠️
Kadang, ada lelah yang tidak tau kenapa, ada sakit yang tidak ada obatnya, ada hampa yang tidak tau sebabnya.
Dadanya terasa sesak, banyak hal yang bergejolak di dalam sana, namun dirinya bingung ingin menjelaskan rasa sakit itu seperti apa.
Tak lagi banyak bicara, Ia seakan kehilangan banyak hal di hidupnya, Becky terluka.
"Makan dulu ya Sayang. "
Panggilan itu terasa asing, namun getarannya masih sama, rasanya hancur sekali jika masih mencintai sebesar itu namun dikhianati sekuat itu.
"Kamu besok boleh pulang. "
"Hmm. "
Salahnya, sikap dingin ini hadir di saat Dia menyadari banyak hal, tentang apa pentingnya Becky bagi dirinya, seberapa besar dirinya menyakiti wanita baik hati ini, Freen menyesali semuanya.
"Kamu besok mau makan apa?"
"Gak ada. "
"Mau makan martabak?"
Becky menggeleng, Ia mengunyah pelan makanan yang Freen berikan padanya, tidak lagi bersemangat, seperti biasa yang Freen lihat, atau sebenarnya Becky memang seperti ini setelah banyak hal yang Freen lewatkan darinya.
"Mau jalan-jalan?"
Lagi-lagi Becky menggeleng, tatapannya kosong, tidak menginginkan banyak hal dari istrinya, bahkan mungkin tidak menginginkan wanita itu berada di dekatnya.
"Ya udah, makan yang banyak ya. "
Tidak menjawab apapun, Becky sibuk mengunyah makanannya, seakan bergerak pun dirinya tidak lagi punya tenaga.
"Tawat tadi dijemput Irin, "
"Hmm. "
"Bec. "
"Iya. "
"Maafin Aku. "
"Iya. "
"Aku nyesel ngelakuin ini ."
"Iya. "
"Aku akan tebus semua ini, Kamu bilang aja apa yang harus Aku lakuin Bec. "
"Gak ada, "
"Aku bener-bener minta maaf. "
"Iya. "
Nafasnya berhembus pasrah, sedari komunikasi awal Mereka, Becky mulai tidak banyak bicara, bahkan pandangannya juga tidak berisi seperti biasa, Freen sadar, Becky dalam duka batinnya, rasa sedih yang mulai berubah menjadi sebuah kebingungan untuknya.
"Jangan katakan apapun kepada pasien yang bisa membuatnya stress, karena pasca mengalami keguguran, banyak wanita yang terguncang batinnya. " Kata-kata itu masih berputar bebas dalam ingatannya saat ini, walaupun proses hukum sudah Ia mulai, Becky belum seharusnya tau tentang itu semua.
"Abis makan, mau keliling taman gak?"
"Mau. "
"Mau minum es kelapa muda?"
Tiba-tiba Becky berhenti mengunyah, perlahan air matanya mengalir begitu saja, karena yang terakhir kali sebelum kehilangannya, hanya air kelapa muda yang masuk ke dalam perutnya, seolah menjadi kenangan buruk yang mulai mencekiknya keras.
"Aku gak suka minuman itu, Aku gak mau dengar lagi. "
"Bec, hey, ada apa?"
Tubuhnya bergetar, tatap matanya menjadi liar, Ia takut, dirinya trauma.
"Selamat siang Non... Astaga Nona Becky kenapa Ibu Freen?"
"Nona?"
Freen terdistraksi dengan panggilan itu, pasalnya jika menjadi asisten panggilan formal bukan seperti apa yang terdengar olehnya itu.
"Nona.. kenapa?"
"Kamu seharusnya gak di sini, sana. "
Mendorong Nat menjauh dari Becky, memeluk istrinya yang bergetar hebat itu hingga tenang, Freen bingung dengan semua hal yang terjadi tapi tidak dengan memasukkan orang baru sebagai penenang untuk Becky.
"Oke Aku gak bahas makanan itu lagi, maaf ya, Aku gak tau Kamu ada masalah apa sama air kelapa ampe takut gitu. "
Seketika Nat menyadari sesuatu, karena beberapa hari sebelum Becky dinyatakan keguguran, Nat lah yang membelikan air kelapa itu untuknya, namun Ia tidak ingin mengatakan apapun, takut Freen malah gelap mata dan menyalahkannya.
"Saya di luar ya Nona, jika ada hal yang Nona butuhkan, Saya akan sigap untuk membantu. "
"Tidak usah, Kamu buta ya? Saya ada di dalam sini, ngapain Becky harus meminta bantuan kepada orang lain. "
"Ya kali aja, soalnya Nona Becky orangnya terlalu independent, apa-apa sendiri gak mau dibantu, tapi ini kan kondisinya lagi sakit, Saya sebagai asisten pribadi juga khawatir. "
"Mending Kamu keluar, ada Saya yang akan mengurus Becky. "
"Kemana aja Bu Freenky, selama ini Nona Becky jalanin semuanya sendiri. "
Menatap dengan jengah laki-laki yang ada di hadapannya, melayangkan pukulan yang tidak Ia pikirkan dampaknya, tidak peduli di mana, tidak peduli siapa.
"Freen stop, bisa gak sekali aja Freen, sekali aja buat Aku tenang? bisa?"
Suara itu tinggi, namun penuh dengan rintihan sedih, tangan yang tadinya mencengkram lawannya dengan kuat, terlepas perlahan, Freen terpaku dengan isak yang terdengar menyakitkan.
"Keluar Freen, Aku mau sendiri. "
"Babe. "
"Berhenti panggil Aku dengan panggilan penuh kebohongan itu. "
"Babe, Aku gak bo...
Nat menarik Freen keluar, melawan setiap perlawanan yang terjadi, tidak peduli dengan apapun yang Freen lakukan kepadanya, yang hanya ingin Ia selamatkan adalah perasaan Becky saat ini.
"Lepas, sialan. "
"Anda seharusnya paham dari maksud Nona Becky, jangan mentang-mentang Anda istrinya, seolah Anda satu-satunya orang yang berhak atas Dia. "
"Saya tidak punya urusan dengan Anda, jadi berhenti mengatakan apapun. "
"Ibu Freenky yang terhormat, ego Anda terlalu tinggi, sampai Anda lupa sudah menyakiti banyak orang di sekitar Anda. "
"Diam, Anda tidak kenal Saya. "
"Beruntung Saya tidak mengenal Anda, karena hanya membuang waktu Saya untuk ini semua. "
Pukulan itu bersarang pada wajahnya, Nat tidak tinggal diam, Dia tidak peduli siapa Freen, dan apa hubungan wanita itu dengan boss nya, yang harusnya Ia lakukan adalah melawan apa yang harusnya Ia lawan.
"Kau terlalu menyinyiakannya, Nona Becky adalah orang yang baik, kenapa Tuhan memberikannya jodoh sepertimu. "
"Kau tidak tau apa masalahnya jadi diam. "
"Berselingkuh, menyelingkuhi, adalah perilaku sampah yang tidak bisa dimaafkan, bagaimana Kau masih punya muka untuk datang ke sini Ibuk Freenky yang terhormat?"
"Diam. "
"Maaf, Aku bukan Nona Becky yang akan diam saja dengan semua perilaku kotor mu, kalau Kau tidak lagi menginginkannya, jangan injak harga dirinya dengan pengkhianatan, karena tanpa Kau tau, Kau sedang membunuh kepercayaan dirinya secara perlahan. "