1. Awal Mula

1.2K 62 1
                                        


Langit masih gelap, namun sudah ada seongok manusia yang berdiri di sebelah Renjun yang masih terlelap, dia menarik napas sebelum mengguncang tubuh temannya itu, dia Haechan.

"RENJONN, BANGUN WOYYY" Haechan.

"Jun elah kok lu jadi susah bangun sih." Gumam Haechan.

"WOY BANGUN ELAH!"

Dia terdiam, lalu matanya melihat kearah meja belajar yang terdapat tumpukan komik, pasti Renjun lagi dan lagi begadang untuk membaca semua komik. Ia kembali melihat kearah Renjun lalu tanpa aba-aba melompat keatas kasur.

"HAECHAN, DIEM GAK LU!" Teriak Renjun kesal dengan mata tertutup, tapi Haechan terus melompat diatas kasurnya.

"INI MASIH JAM 4 HAECHAN, LU NGAPAIN BANGUN JAM SEGINI!" Renjun

"Pantes gelap." Ucap Haechan santai, ia memasang wajah sok polosnya yang jujur, itu buat Renjun jijik sekarang.

"Pintis gilip nyi nyi nyi, bacot! Balek rumah lu sono." Ucap Renjun, ia menendang kaki Haechan yang sekarang sudah ikut goleran di sebelahnya.

Haechan menggeleng malas. "Gamau,  bangun cepetan elah, Jun."

"Emangnya lu mau telat?" Tanya lagi

"Kalo kita dihukum nanti gimana?"

"Gua tau lu pasti males panas panasan, makanya ayo Jun sekolah."

"Enaknya makan apa ya nanti."

"Gua lap—"

"—BACOT" potong Renjun murka, Haechan lantas langsung beranjak sambil ketawa puas dan keluar dari kamar.

"GUA BUAT SARAPAN YA JUN, CEPETAN! GUA TUNGGU DIBAWAH!" Setelahnya pintu kamar tertutup disusul suara langkah kaki yang mulai menjauh.

Renjun menghela nafas sebentar, ia menyikap selimut yang menutupi tubuhnya lalu berjalan pelan kearah kamar mandi, suara air pun mulai terdengar.

Di lantai bawah, lebih tepatnya di dapur, Haechan sibuk bersenandung ria sambil memngambil beberapa roti di lemari penyimpanan, ia mengoleskan selai cokelat  sambi berjoget kecil.


Sekedar info, Renjun dan Haechan itu sudah berteman dari kecil, mereka berdua tetanggan dan jarak rumahnya juga tak jauh. Di rumah, Renjun tinggal seorang diri, kadang ada beberapa pekerja yang datang ke rumah sekedar bersih-bersih atau masak, sedangkan orangtuanya sibuk bekerja membuat Renjun dari kecil tumbuh tanpa peran keduanya.

Sedangkan Haechan itu anak bungsu di keluarganya, Abang pertama (Johnny/Joni)  yang sekarang sudah kuliah, abang kedua (Mark) kelas 12 di SMA yang sama dengannya, Mark sekarang bahkan menjabat jadi ketua osis di SMA nya itu. Bokap Haechan itu bule sedangkan nyokap nya lokal, tapi itu membuat Haechan ngerasa jadi anak pungut karena yang borong gen bokap nya malah kedua abangnya itu, sama nyokap nya juga dia tak terlalu mirip.


Dua roti panggang dihidang kan ke meja makan, Haechan duduk duluan menyantap sarapannya, tak lama Renjun yang sudah rapi dengan seragamnya menyusul ke dapur dan ikut menyantap roti miliknya.
Keduanya saling hening, Renjun memakan rotinya dalam diam begitu pula dengan Haechan.

"Mama sama baba belum pulang?" Tanya Haechan ke Renjun yang hanya dibalas gelengan.

"Belum, baru 2 bulan ga pulang." balas Renjun santai.

"Santai bet lu anjir." Haechan.

"Hahahaha, udah lah, ayok." Renjun.

"Tapi Jun..."

"Kenapa?"

"Ini baru jam 5 hehe." balas Haechan sambil cengengesan.

Renjun menghela nafas, "emang anak Anj—"

"–masih pagi kaga boleh toxic ya dek yaa." Sela Haechan.

"BODO ANYING!"

.

.

.

Renjun sekarang lagi jongkok didepan rumahnya sambil nunggu Haechan ambil motor, lama banget anjir ambil motor doang.

"Si monyet lama banget sat." keluh Renjun, tetangga tetangganya udah ga heran sama Renjun yang jongkok tiap pagi buat nunggu Haechan dan berakhir ngamuk ngamuk gak jelas.

"Nunggu echan, Jun?" Tanya bang Uwu, tetangga sebelah rumah Renjun yang suka banget nyiram bunga pagi pagi.

"Hehe iya bang." balas Renjun.

"Hari ini pertama lu masuk SMA kan?" Tanya bang Uwu lagi.

"Iye bang."

Dan obrolan berakhir begitu saja, Bang Uwu kembali fokus menyiram tanamnya begitu juga dengan Renjun, bedanya kalo dia fokus buat nyusun kata-kata makian buat Haechan.

5 menit..


10 menit..


15 menit..


20 menit..

"ARGHH HAECHAN MANA ANYING, LAMA BANGET!"

Bang Uwu hanya melirik sekilas sambil menggelengkan kepalanya, kalo kata dia mah, "udah biasa."

Bunyi klakson terdengar, akhirnya setelH ribuan purnama, Haechan muncul juga dengan motor kesayanganya itu, ia membunyikan klakson berkali-kali.

"Haloo Jun." sapa Haechan lengkap dengan senyum lebarnya.

"Lu lama banget anying!" Renjun.

"Hehe sorii lahh, gua tadi kebelet boker."

Renjun senyum, ini masih pagi, kalo dia marah-marah sekarang, bakal sayang banget energinya, jadi dia milih buat naik ke jok motor dan pamitan dengan tetangganya itu, dan Haechan dengan perasaan was-was pun menggaskan motornya pergi darisana.









_____________________________

Tes ombak dulu guys

Makasih deh yang udah mau baca

Jangan lupa vote

Daaa~~

MANUSIA SQ || 00LCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang