"Jun, ini mading mana ya?" Tanya haechan pada Renjun yang hanya dibalas gelengan.
"Ya mana gua tau," Jawaban khas Renjun sekali.
Mereka jalan memutari sekolah guna mencari mading, hingga akhirnya kembali lagi ke koridor utama. Renjun yang emang dasarnya mager, mengusulkan untuk telepon Mark saja.
"Sabar sabar, belum diangkat ama ni orang." Ucap Haechan sambil memperlihatkan ponselnya ke Renjun. Tak lama panggilan tersambung, terdengar suara dari seberang sana.
"Halo, napa?"
"Bang, ini mading mana anjir" Tanya Haechan.
"Ya carilah bego."
"Gada sat, cape gua."
"Lu dimana?"
"Koridor utama."
"Tunggu disitu."
Mark mematikan teleponnya sepihak, Haechan ikut duduk di sebelah Renjun yang daritadi udah lesehan di lantai, bodo amat dah kalo diliatin orang.
"Gimana?" Tanya Renjun.
"Tunggu disini katanya."
10 menit berlalu, tapi orang yang ditunggu-tunggu juga tak kunjung datang. Renjun menghela napas, mencoba untuk sabar, tapi tak bisa, kesabarannya sudah terkikir, hampir saja ia berteriak, untungnya orang yang ditunggu—Mark datang juga dengan senyum lebar dan tampang watados.
"Yok."
"Lama banget sih lu." Ucap Renjun sambil beranjak dari duduknya, ia berjalan di belakang Mark.
Mark menoleh dengan wajah bodo amat, "Itu gak lama, lu aja yang gak sabaran."
Renjun berdecak dan memilih diam, kan dia mau sabar hari ini, yakali masih pagi udah marah-marah, kalo kata Renjun mah, "Not my style." Iyain aja dah.
Mark berhenti lalu menunjuk kearah mading yang sudah dikerumuni orang ramai, "Tuh mading."
"Si anying, di sini rupanya sat." Ucap Haechan kesal, ia sudah berkeliling daritadi dan ternyata mading berada tidak jauh dari koridor utama.
"Udah ah, males gua ama bocah bau ikan asin kek lu bedua." Ucap Mark lalu pergi darisana.
Renjun berdecak, "Tai lu, Bang!"
Ia beralih menatap kearah Haechan lalu mendorong pelan temannya itu, "Sono ah cari nama." Titahnya, Haechan mengangguk malas.
Ia berjalan mendekat kearah kerumunan orang, sebenarnya dia tuh males banget, tapi daripada nanti Renjum ngamuk terus teriak di tempat, kan malu ya dilihatin orang lain, ngalah aja Haechan mah. Saat asik tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia tak sengaja menabrak pemuda yang sepertinya juga menunggu kerumunan itu mereda agar bisa mencari nama.
"Eh—Maaf ya, Bro." Ucap Haechan lalu mengulurkan tangannya kearah anak itu dan diterima baik oleh empunya, ia bangun dari jatuhnya lalu menepuk sedikit celana yang terkena debu, anak itu menatap Haechan sambil tersenyum
"Gapapa, santai aja." Ucapnya ramah.
Mereka berdua saling diam sambil melihat, sama-sama menunggu kumpulan manusia itu berkurang, Haechan berdehem, "Btw, nama lu siapa?"
"Shotaro. lu anak baru juga, ya?" Tanya Shotaro.
"Iya, kenalin gue Haechan."
Merasa kerumunan di mading mulai mereda, Haechan berjalan lebih dulu, lalu berbalik menatap Shotaro, "Nama lu biar sekalian aja gua cari."
Haechan mulai mencari nama dirinya dan kedua temannya itu, setelah ketemu, ia kembali jalan kearah Shotaro yang sedang memperhatikan anak kelas 11 bermain bola di lapangan.
"Ayo, Ro! Lu satu kelas sama gue." Haechan.
"Oke, tapi tunggu ya, gua mau cari nama temen bentar."
"Siapa?" Tanya Haechan.
"Yangyang."
"Owalah, tadi gue ada lihat nama dia juga di kelas yang sama, sekalian aja."
"Temen gue udah nungguin, tuh, si Yangyang Yangyang itu mana?" Tanya Haechan sokab.
Shotaro menunjuk seorang pemuda yang sedang duduk tidak jauh dari Renjun, mereka berdua lantas berjalan mendekat.
Keempat anak itu akhirnya berjalan beriringan setelah berkenalan tadi, ternyata Yangyang dan Shotaro juga baru kenalan saat di parkiran tadi.
Mereka sempat berkeliling lama mencari kelas, akhirnya berkat Haechan yang bertanya ke Abang kelas yang sedang nyantai di gazebo dekat lapangan, mereka jadi menemukan dimana kelas baru itu berada.
___________________________
Makasih yang udah mau baca
Janlup vote yaw
Daaa~~~
KAMU SEDANG MEMBACA
MANUSIA SQ || 00L
FanfictionManusia SQ "TUHANNN, KENAPA TEMEN GUA KAGA ADA YANG WARASS" Jaemin. "Tau ga apa bedanya kamu sama kupu kupu. kupu kupu terbang dilangit, kalo kamu terbang di hati aku" Jeno. "INI MASIH JAM 4 PAGI ANJIR" Renjun. "BU SITI, SAYA UTANG DULU YA, BAYARNYA...
