"Kenapa bisa tiba-tiba sakit gini, Nak?" Tanya pak Eko. Ia baru saja pulang dari kebun tapi dapat kabar bahwa anak manusia demam secara tiba-tiba.
"Kayanya gara-gara mandi sungai tadi malem deh pak. Udah, bapak istirahat aja, kami cuman demam biasa kok" ucap Jeno. Mereka ber-6 dikumpulkan disatu kamar yaitu kamar utama. Dua kasur berukuran king size itu disatukan agar mereka tak merasa sempit.
"Mau demam biasa pun, kalian tetep butuh satu orang minimal untuk merawat" ujar Pak Eko.
"Sudah minum obat?" Tanya pak Eko.
"Belum pak."
"Sebentar ya? Bapak ambilkan dulu obatnya sekalian makan siang kalian" ucap pak Eko lalu berjalan keluar kamar.
Setelah pintu tertutup, Yangyang merebahkan tubuhnya, "kok pak Eko baik banget, ya? Padahal kita bukan anaknya."
Jeno mengangguk setuju, "bener tuh."
"Pak Eko punya anak ga sih?"
"Pak Eko dulu punya anak juga, tapi udah meninggal gara-gara sakit" ucap Renjun, Ia ikut merebahkan tubuhnya.
"Sakit apa?" Tanya Shotaro.
"Denger-denger sih DBD" jawab Renjun.
Shotaro mengangguk, Ia memejamkan matanya hendak masuk ke alam mimpi menyusul Haechan dan Jaemin yang sudah lebih dulu.
Keadaan kembali hening. Semuanya sudah masuk kealam mimpi meninggalkan Haechan yang hanya memejamkan matanya. Ia bangun dari posisi tidurnya. Matanya menelisik seisi kamar dan terhenti diatas lemari kayu yang Renjun bilang antik.
Ia menatap kaget, "L-lagi?" Gumam Haechan.
Bertepatan dengan itu, pintu kamar terbuka menampilkan Pak Eko yang membawa nampan isi nasi, ikan goreng, kuah sayur.
"Loh, pada tidur, ya? Kalo gitu Haechan aja dulu yang makan, oke?" Tanya Pak Eko dibalas anggukan oleh Haechan.
"Makasih pak Eko" lirih Haechan.
"Iya, sama-sama. Bapak mandi dulu, ya? Nanti balik lagi kok" ucap pak eko.
"Hati-hati pak" ucapan Haechan dibalas anggukan oleh pak Eko. Setelah pintu kamar tertutup, Haechan turun dari kasur dan mengambil satu piring lalu duduk lesehan dikarpet. Ia makan dengan tenang tanpa membangunkan yang lain.
Sampai nasi habis pun belum ada satu pun yang bangun dari mereka ber-5. Haechan turun kebawah untuk mengantar piring kotor miliknya. Ia berjalan santai tanpa mengindahkan atensi 'mereka' sedikit pun.
"Gimana cara bilang ke momi?" Gumam Haechan sambil mencuci piring kotor miliknya.
Ia terkekeh kecil, "kira-kira masih ada yang mau temenan gak ya?"
Saat sedang asik sendiri, tiba-tiba ada tangan putih pucat yang meraih piring Haechan dan meletakanya diatas meja makan.
"Fucek lah" batin Haechan. Ia menoleh dengan ragu, tepat dibelakangnya ada seorang wanita dengan rambut panjang yang sedang tersenyum.
Tangan wanita itu terulur lagi untuk menyentuh wajah Haechan yang sudah berdiri kaku. Ia menelan ludahnya gugup.
"Chan?" Suara itu berasal dari arah tangga, disana ada anak manusia yang sepertinya baru selesai makan juga.
"Kenapa?" Tanya Jaemin.
Haechan menggeleng ribut, Ia kembali menoleh kearah wanita tadi dan tak menemukan siapapun, hanya ada anak kecil yang terduduk dipojokan namun tak terlalu dihiraukan olehnya.
"Pak Eko kemana, Chan?" Tanya Jeno lalu mengambil sabun cuci piring.
Haechan mendudukan tubuhnya di kursi meja makan, "balik rumah, mau mandi dulu katanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
MANUSIA SQ || 00L
FanfictionManusia SQ "TUHANNN, KENAPA TEMEN GUA KAGA ADA YANG WARASS" Jaemin. "Tau ga apa bedanya kamu sama kupu kupu. kupu kupu terbang dilangit, kalo kamu terbang di hati aku" Jeno. "INI MASIH JAM 4 PAGI ANJIR" Renjun. "BU SITI, SAYA UTANG DULU YA, BAYARNYA...
