Yangyang menenteng sebungkus nasi goreng yang ia beli saat perjalanan pulang kerja tadi dengan perasaan senang. Jam sudah menunjukan pukul 00.35 malam dan ia baru saja pulang, cafe tadi memang sangat ramai, tidak seperti biasanya.
Saat masuk, rumah sudah sepi, berarti Papa dan Mama sudah tidur, pikirnya. Ia berjalan kearah tangga hendak memasuki kamar, tapi suara Papa menghentikan kakinya.
"Kenapa baru pulang?"
Yangyang menatap heran Papa yang baru saja keluar dari kamar, memang kamar orang tuanya berhadapan langsung dengan tangga.
"Cafe lagi rame." Jawab Yangyang singkat.
"Cafe? Kan sudah saya bilang berhenti kerja disana." Ucap Papa kesal.
Yangyang menatap singkat, "Kalo gak kerja, darimana saya bisa hidupin diri sendiri."
Setelahnya Ia langsung berlalu naik keatas dan buru-buru menutup pintu kamar. Kalau dulu, ia masih bisa ikut makan di meja makan walaupun orang tuanya tidak memperdulikan Yangyang, tapi semakin hari, rumah semakin dingin, itu alasan mengapa ia sangat keras bekerja, karena Yangyang sudah tidak pernah menyentuh apapun lagi yang dibeli menggunakan uang Papanya, semua barang yang ia miliki adalah hasil kerja kerasnya sendiri.
Yangyang duduk di lantai kamar, membuka nasi goreng dan mulai memakan makanan pertamanya sejak siang tadi.
Ini masih awal bulan, tapi uang yang tersisa di rekeningnya hanyalah 100k, dan ia harus bertahan sampai bulan depan dengan uang segitu. Kalau ditanya, kemana uang gajinya? Kan masih awal bulan? Bulan ini gaji yang diberikan hanya setengah, dan itu langsung habis karena Yangyang harus membayar buku paket. Kalau ditanya kenapa cuma setengah, jawabanya karena Yangyang sudah meminta jatah gajinya setengah bulan lalu, karena ia sudah tidak makan hampir 2 hari, jadi terpaksa Yangyang minta lebih awal.
Setelah makan, Yangyang memutuskan untuk mandi, beruntungnya di lantai dua ada kamar mandi, jadi ia tidak perlu susah-susah untuk turun kebawah.
20 menit berlalu, Yangyang keluar dari kamar mandi dengan perasaan segar, kaos dan celana pendek memang sangat pas untuk tidur malam ini. Setelah mengunci kamar, ia mengecek ponselnya sejenak sebelum tidur, di grup kelas, ternyata besok para murid harus membawa buah-buah an.
"Buah? Anjirlah, mikirin makan sampe bulan depan aja gue rasanya mau nangis, ini buah lagi?" Ucap Yangyang kesal.
"Ck, terpaksa bangun lebih awal besok." Ia mematikan ponselnya, lalu bergegas memasuki alam mimpi.
.
.
.
Jam masih menunjukan pukul 05.30 pagi, tapi Yangyang sudah siap dengan setelan saragamya, matanya masih menahan kantuk dengan berat, tapi ia paksakan untuk berjalan keluar rumah ketika mengingat seluruh siswa diwajibkan membawa buah hari ini.
Biasanya jam segini Mama sudah menyirami bunga di halaman depan, makanya Yangyang suka pergi mendekati bell masuk karena dengan begitu ia tak perlu bertemu siapa-siapa.
Benar saja, di depan ada Mama yang masih sibuk merawat bunga matahari yang Yangyang dan Ten tanam ketika masih kecil, tapi bedanya, punya Yangyang sudah layu karena tak dirawat, berbeda dengan punya Ten tumbuh dengan sangat cantik karena dirawat dengan baik sama Mama.
Yangyang mengeluarkan motornya, dalam hati ia berpikir, "gua harus ngapain ya kalo ketemu mama sebelum berangkat sekolah gini?"
"Cuekin? Eh tapi..."
"Kalo gak cuekin emangnya mama mau salamin gue? Ck, coba ajalah, daripada dosa durhaka ama orang tua."
Setelah memanaskan motornya, Ia berjalan kearah Mama dan menyalim tangan wanita setengah baya itu walaupun tak ada respon apa-apa darinya. Yangyang menaiki motor dan bergegas pergi meninggalkan komplek.
KAMU SEDANG MEMBACA
MANUSIA SQ || 00L
FanfictionManusia SQ "TUHANNN, KENAPA TEMEN GUA KAGA ADA YANG WARASS" Jaemin. "Tau ga apa bedanya kamu sama kupu kupu. kupu kupu terbang dilangit, kalo kamu terbang di hati aku" Jeno. "INI MASIH JAM 4 PAGI ANJIR" Renjun. "BU SITI, SAYA UTANG DULU YA, BAYARNYA...
