Tubuh Renjun terlempar cukup jauh dari jalanan, pemuda itu meringis sakit ketika sekujur tubuhnya penuh luka goresan, tapi ia langsung bangun dan berlari ketengah Jalan, disana seluruh orang sudah mengerumuni tempat yang membuat ia panik setengah mati.
Renjun membelah kerumunan dan menemukan pemuda yang sebaya denganya terbaring lemah dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya, itu Jeno.
"JENO!"
Renjun berlari menghampiri dengan raut khawatir, disana juga sudah ada anak manusia yang sibuk menelpon ambulance.
"Renjun! Lu oke?!" Jaemin bertanya dengan wajah panik.
Renjun menggeleng cepat, ia menatap Jeno nanar, terbesit rasa bersalah yang cukup besar dalam hatinya.
Sementara itu, mobil yang menabrak Jeno tadi sudah kabur melarikan diri, tidak ada yang sadar kecuali Haechan, anak itu dengan cepat memfoto plat mobil yang kabur.
Keadaan mulai tidak terkendali, banyak orang yang berkerumun entah untuk memvideokan atau melihat korban.
Tak lama, bunyi sirene mulai bergema disepanjang jalan, dua petugas turun dari mobil dan mengangkat tubuh Jeno, Jaemin dan Renjun naik kedalam ambulance, sebelum masuk, Jaemin menatap Haechan untuk dipercayai menyetir mobil, karena untuk saat ini hanya anak itu yang cukup stabil untuk menyetir.
Haechan mengangguk, "Ayo ke mobil!"
Haechan, Shotaro, dan Yangyang berlari kearah mobil putih yang terparkir diseberang jalan, Haechan mengemudikan mobilnya dan mengikuti ambulance dari belakang.
Tak perlu waktu lama untuk sampai di rumah sakit, Jeno langsung diturunkan dari ambulance dengan terburu-buru, anak manusia ikut menyusul dibelakang hingga akhirnya Jeno masuk kedalam ruangan.
Mereka terduduk lemas diluar, salah satu perawat memberikan masing-masing minuman agar lebih tenang.
"Semuanya salah gua," lirih Renjun, ia menundukan kepalanya.
"Gak. Gak ada yang salah disini," Shotaro.
Haechan tiba-tiba berdiri dari duduknya dan menatap yang lain, "gua mau buat laporan, orang yang tabrak Jeno lari gitu aja."
Yang lain langsung tersadar, benar juga, mereka tidak melihat orang yang menabrak Jeno tadi.
"Tapi—"
"Tenang aja, gua punya foto plat mobil, rekaman cctv juga ada."
Yang lain langsung saling menatap, "rekaman cctv? Kok bisa lu langsung dapat?"
Ia mengangkat bahunya, "tadi ada anak-anak nyamperin gua, dia bilang kalo butuh rekaman datang aja ke toko yang ada didepan jalan, disana gua bisa langsung dapat."
Setelahnya, Haechan langsung pergi darisana tanpa menunggu respon yang lain.
Sudah sekitar satu jam anak manusia menunggu diluar sana, Haechan masih belum kembali setelah pamit pergi tadi.
Anak manusia dilanda keheningan, mereka saling menyender satu sama lain guna menenangkan diri.
Sedangkan dari arah lain ada Haechan yang datang sambil berlari kecil.
Jaemin menatap penuh harap, "gimana?!"
"Aman, gua kasih tunjuk plat mobilnya dan polisi mau cek setiap cctv ditempat kejadian, nanti kalo ada hasil bakal diinfokan," jelas Haechan sambil meminum habis air yang diberikan Yangyang.
Pintu terbuka mengambil alih perhatian anak manusia, dari dalam muncul pria dengan snelli putihnya.
"Gimana, Dok?" Tanya Renjun cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
MANUSIA SQ || 00L
FanfictionManusia SQ "TUHANNN, KENAPA TEMEN GUA KAGA ADA YANG WARASS" Jaemin. "Tau ga apa bedanya kamu sama kupu kupu. kupu kupu terbang dilangit, kalo kamu terbang di hati aku" Jeno. "INI MASIH JAM 4 PAGI ANJIR" Renjun. "BU SITI, SAYA UTANG DULU YA, BAYARNYA...
