25. Kecelakaan

12 1 0
                                        

“Ke mana saja kamu, Win? Kenapa kamu tidak menelponku bahwa kamu tidak akan pulang?” tanya Freya begitu melihatku pulang ke rumah pada pagi hari.
           
Aku hanya menatapnya acuh tak acuh sebelum menjawab pertanyaannya, “Bukan urusanmu.”

Dengan cepat aku langsung masuk ke dalam kamar tanpa memedulikan Freya yang mungkin akan menatapku dengan bingung atau sendu, atau apalah, kurasa itu bukan urusanku lagi sekarang. Rasa bosan yang menyergap hatiku semakin meningkat, perasaan cinta yang dulunya selalu membuatku senang, kini telah sirna tiada bekas.
           
Aku sedang mengganti pakaianku ketika Freya masuk ke dalam. Aku hanya meliriknya sekilas melalui cermin yang berada di depanku. Dia duduk di atas kasur dan memandangku.

“Kamu sudah berubah, Win,” gumamnya pelan namun masih bisa ditangkap oleh indera pendengaranku.

Aku berbalik dan menatap tajam dirinya, “Kurasa kamu belum benar-benar mengerti diriku, Frey, aku tidak berubah,” sahutku dengan intonasi yang tinggi sebelum keluar dari kamar, meninggalkannya yang mulai terisak pelan.
           
Dalam perjalanan ke kantor, aku terus memikirkan cara-cara untuk lebih dekat dengan Lydia agar aku bisa dengan mudah mendapatkan perusahaannya dan merobohkan perusahaan  David. Ah, kalau sudah ngomong David, aku jadi teringat pertemuan kita yang terakhir kali, rambutnya yang begitu berantakan, wajahnya yang begitu muram, pakaiannya begitu kusut. Kurasa dia mungkin merasa kehilangan segalanya setelah lebih memilih untuk tinggal bersama Suzan ketimbang perusahaannya. Perusahaannya sekarang pasti sudah ditangani kembali oleh Ayahnya. Aku tersenyum sinis. Ternyata menghancurkan seorang David itu tidak susah.
 
***
 
           
Ini sudah memasuki bulan kelima semenjak Freya mengatakan bahwa dirinya sedang hamil. Hubunganku dengan Freya semakin parah, setiap hari ada-ada saja masalah yang membuat kami bertengkar. Entah itu karena aku yang semakin hari semakin jarang pulang ke rumah, atau aku yang sering menghabiskan waktuku untuk bekerja, ataupun juga menyalahkanku yang sekarang sudah tidak peduli dengannya.
           
Aku semakin merasa benci, semakin muak, dan jijik.
           
Aku sekarang lebih sering bertemu dengan Lydia. Kadang dia mengajakku makan siang, atau mengajakku ke pub, atau apalah yang bisa membuatnya merasa nyaman. Hal-hal yang dilakukannya sekarang semata-mata hanya ingin menghindar dari suaminya –Steven, tapi aku tidak pernah peduli, karena aku sendiri juga hanya menganggapnya sebagai pelampiasan Freya yang tidak bisa--lebih ke tidak ingin--tidur denganku lagi.
           
Seperti saat ini saja, Lydia kembali mengajakku ke hotel. Mungkin dia kembali bertengkar dengan Steven atau Steven yang sedang lembur di kantor, jadi dia lebih memilih menghabiskan waktu malamnya bersamaku ketimbang berada di rumah. Lydia memang mengetahui hubunganku dengan Freya sudah retak, jadi dia tidak peduli dengan perasaan Freya lagi. Tak jarang dia menyuruhku untuk menceraikan Freya, atau menyuruhku meninggalkannya begitu saja, tapi aku tidak pernah mengiyakannya dengan alasan Freya tengah mengandung anakku.
           
Dia pernah sekali bertanya padaku seperti ini, “Kenapa kamu tidak menyuruhnya aborsi saja? Efektif, bukan?”

Waktu itu, aku mengaku aku benar-benar shock. Bagaimana bisa seorang wanita menyuruh kaumnya sendiri aborsi? Mungkin seperti inilah yang dikatakan oleh orang-orang, "Wanita akan terlihat seperti iblis jika sedang terbakar cemburu, meski dia adalah malaikat’.
           
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Win?” Pertanyan dari Lydia membuatku tersadar. Aku menatapnya dengan lembut seperti biasanya.

“Hmm, hanya memikirkan masa depan kita, Ly. Aku memikirkan bagaimana aku bisa membahagiakanmu kelak hari nanti. Apakah aku bisa menjadi suami yang baik untukmu? Memenuhi kebutuhanmu dengan gajiku sekarang.” Sebenarnya ini hanya sekadar kebohongan yang sudah sering sekali kuucapkan dan menjadi kebiasaan.
           
Lydia tersenyum malu. “Gombal, ah.”
           
Aku memeluk tubuhnya dari belakang dengan erat. “Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu? Aku serius.” Tiba-tiba ponsel yang kuletakkan di atas meja berdering, membuatku harus melepaskan pelukan ini dan beralih mengangkat telepon yang ternyata dari ibu mertuaku. Dalam hati, aku sudah mulai menerka-nerka apa yang sudah terjadi hingga Ibu menelponku.
           
Elwin! Freya … Freya ….” Samar-samar aku mendengar suara Ayah yang sedang menenangkan Ibu. Aku sedikit panik ketika mendengar suara Ibu yang terisak sambil menyebutkan nama Freya, sepertinya ada hal buruk yang melanda Freya.
           
“Ada apa dengan Freya, Bu?” tanyaku dengan nada yang sengaja kubuat meninggi.
           
Kamu harus datang ke rumah sakit sekarang juga, Freya kecelakaan,” ujar Ayah kali ini dan kali ini sukses membuatku benaran kaget. Aku segera memutuskan sambungan telepon dan menyambar jasku serta kunci mobil yang kuletakkan di atas meja.
           
“Ada apa?” tanya Lydia begitu melihatku yang tergesa-gesa.
           
“Freya kecelakaan,” jawabku dengan singkat sebelum meninggalkannya.
 
***

 
           
“Bagaimana kondisi Freya sekarang?” tanyaku dengan napas yang masih tersengal-sengal. Ayah menatapku dengan sendu, sedangkan Ibu sudah terisak di samping Ayah. “Bagaimana kondisinya?” desakku kemudian. Ayah menepuk-nepuk bahuku.

“Freya keguguran,” lirihnya kemudian yang langsung membuat tubuhku lemas sebelum akhirnya jatuh terduduk di atas lantai koridor rumah sakit ini. Meski aku memang tidak menginginkan anak ini, aku masih tetap menyayanginya. Berita ini sukses membuat pertahananku runtuh. Ini kali pertama aku mengeluarkan air mata setelah beberapa tahun terakhir. Aku tidak tahu perasaan apa yang sedang menyergapiku, yang jelas itu bukan perasaan bersalah.
           
Aku melangkahkan kedua kakiku pelan masuk ke kamar Freya. Dapat kulihat beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya. Wajahnya begitu pucat, tubuhnya yang terbaring lemas di atas ranjang, kedua matanya terbuka perlahan dan langsung menatapku dengan nanar.

“Maafkan aku yang tidak bisa menjaga anak ini,” lirihnya dengan suara yang sangat pelan. Aku terpaku di tempat, tidak tahu harus membalas apa.
           
Seharusnya aku yang meminta maaf padanya karena sudah mengabaikannya selama ini. Kondisinya yang harus kuperhatikan karena kandungannya tidak kupedulikan. Aku merasa aku adalah suami yang paling jahat di dunia ini. “Maafkan aku,” ujarnya sekali lagi sebelum kedua matanya terpejam perlahan.
 
***
 

           
Keesokan harinya, aku menceritakan semuanya kepada Lydia. Dia begitu antusias. Dia tersenyum lebar begitu aku selesai bercerita. “Jadi kamu akan menceraikannya, bukan?” tanyanya yang langsung membuatku terperangah. Aku tidak pernah serius memikirkan hal ini meski sudah beberapa kali aku mengatakan akan menceraikannya. Sekarang Lydia malah mendesakku untuk melakukan hal ini. Bagaimana bisa? Freya baru saja keguguran, bagaimana bisa aku menceraikannya sekarang?
           
“Bagaimana? Bukannya kamu juga menginginkan perceraian ini? Kini sudah tidak ada bayi yang menjadi halanganmu, Win. Kamu mencintaiku, bukan?”
           
“Aku—“
           
“Kamu akan membahagiakanku, bukan?” Lydia memotong kalimatku.
           
“Aku tidak pantas, kamu tahu itu, bukan? Aku bukan Direktur seperti Steven, aku tidak bisa membahagiakanmu layaknya Steven.”
           
“Jika itu yang kamu khawatirkan, aku akan memberikanmu perusahaan itu, aku akan menceraikannya,” sahut Lydia dengan cepat tanpa berpikir sambil menatapku dengan tatapan memohon seolah dia benar-benar ingin hidup bersamaku. Mendengar kata ‘perusahaan’, aku yang tadinya tidak begitu minat membahas masalah ini, langsung semangat.
            “
Kamu akan memberikan perusahaan itu padaku? Serius? Bagaimana dengan Steven?”
           
“Aku tidak peduli dengannya, aku mencintaimu. Aku akan memberikan segalanya yang kamu inginkan padamu. Jika perlu, aku akan menyiapkan surat perceraianku dengan Steven dan pengalihan kuasa perusahaan sekarang juga.”
           
Aku bersorak dalam hati. Akhirnya usaha yang kulakuan selama ini membuahkan hasil, meski aku harus kehilangan Freya, itu tidak masalah. Seperti yang dikatakan Lydia tadi, kini sudah tidak ada bayi yang akan menjadi halanganku, aku juga sudah tidak mencintai Freya, jadi tidak ada salahnya, bukan, jika aku lebih memilih Lydia demi perusahaan itu?
           
Lydia menggenggam tanganku dengan erat. “Bagaimana, Win? Kamu akan menceraikannya, bukan?”
           
Aku menganggukkan kepalaku pelan. “Tapi bukan sekarang, Ly. Freya baru saja keguguran, aku tidak ingin menambah penderitaannya, Bagaimana jika kamu mengurus surat-surat perusahaan itu dulu?”
           
“Selama kamu akan menceraikan Freya, aku akan melakukan apa saja yang kamu katakan, Win. Aku sungguh mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku, ya?” Lydia kemudian memelukku dengan erat seolah takut aku akan meninggalkannya. Aku tersenyum.
 
***

King's Obsession (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang