2. Freya

516 26 0
                                        

10 menit yang bagaikan berpuluh-puluh abad lamanya setelah aku membenamkan wajahku, bel akhirnya berbunyi juga. Aku menghentikan lamunan yang tidak berujung dan tidak bertepi itu kemudian duduk bersandar di kursi. Gangguan dari kumpulan orang gila itu sudah berhenti. Mereka sudah kembali duduk di tempat masing-masing, mengingat pelajaran pertama adalah pelajaran Bu Hesti, si guru killer yang kembali berjaya setelah aku turun pangkat.

Ketimbang duduk rapi sambil menunduk takut dipelototin, lantas aku membuka buku geografi, pelajaran yang diajarnya dan mulai membacanya, malas menatap tatapan Bu Hesti yang pastinya paling meremehkanku.

Sekitar 2 menit kemudian, aku mendengar suara hentak hak sepatu yang sangat keras, menandakan Bu Hesti akan tiba. Aku dapat melihat orang-orang yang duduk di sekitarku menegang dan duduk dengan rapi tanpa aba-aba. Aku sih santai-santai saja sambil membaca buku. Aku tidak pernah takut padanya dan tidak akan mungkin takut padanya meskipun aku tidak berkuasa lagi.

Aku mengira ketua kelas akan seperti biasanya memberi instruksi untuk hormat dengan suara yang kaku. Namun bukannya sepi, kelas malah mendadaknya heboh dengan suara hiruk-pikuk. Aku sempat bingung sampai aku menyadari ternyata ada seorang perempuan yang berjalan tepat di belakang Bu Hesti, mengekorinya dan masuk ke dalam kelas ini.

"Harap tenang semuanya!" teriak Bu Hesti sekali dan kelas menjadi hening bagai kuburan. Aku menyeringai kecil ketika menyadari Bu Hesti berdeham dengan raut yang sangat bangga.

"Mulai hari ini kalian akan mendapatkan teman baru. Silakan perkenalkan dirimu, Nak," tegas Bu Hesti kemudian melirik ke arah perempuan itu, memberinya alih untuk berbicara.

Perempuan itu tersenyum kecil sebelum berbicara, "Selamat pagi semuanya. Perkenalkan namaku Frediyana, biasanya dipanggil Freya. Senang berkenalan dengan teman-teman semua."

Aku meneliti perempuan itu dalam sekali tatap. Wajahnya agak persegi dengan mata yang besar nan bulat, pipi bersemu merah juga rambut yang hitam kecoklatan bergelombang sepunggung diikat setengah ekor kuda. Menurut tipeku, aku memberinya nilai 80 ... tidak, bodynya lumayan bagus, dadanya sepertinya sudah mencapai C cup, 90 deh. Memang bukan idamanku, tapi aku tahu ia akan menjadi incaran banyak orang. Aku melirik Brian, matanya terlihat berbinar-binar menatap perempuan itu, tidak berbeda dengan Thomas yang sepertinya sudah mulai meneteskan air liurnya.

Huh, dasar buaya.

Tidak ingin membuang waktu, setelah perempuan itu siap memperkenalkan diri, Bu Hesti langsung saja berkata, "Baiklah, perkenalannya sampai sini dulu, nanti saja kalian lanjutkan sendiri. Sekarang, kamu duduk saja di bangku kosong yang di belakang itu."

Semua orang yang ada di kelas ini menoleh ke arah bangku kosong yang ditunjukkan Bu Hesti dengan tatapan yang jijik. Tentu saja, karena bangku itu tepat berada di sampingku.

"Bu, jangan kasih dia duduk di sana, menjijikkan!" seru seseorang, yang tanpa perlu kutebak sudah pasti adalah Brian.

"Terus dia duduk mana?" sembur Bu Hesti langsung, merasa tersinggung karena perintahnya diabaikan. "Kelas kalian tidak ada bangku kosong lainnya lagi!" sambungnya lagi, serasa ia memang tidak ingin murid baru duduk di sampingku.

Brian tampak kebingungan untuk menjawab. "Dia ... hmm ... dia duduk saja di tempat Beni! Biar Beni yang duduk di samping'nya'," jawabnya mendadak asal-asalan. "Beni, pindah!"

"Hah? Kok gue?" ujar Beni yang tempat duduknya di sebelah Brian dengan keberatan. "Kenapa tidak lo sendiri aja yang pindah? Gue ogah!"

"Lo berani menantang gue? Cepat pindah!" tantang Brian yang sudah terlihat geram dan aku hanya menghela napas.

"Gue gak mau! Gue ji—"

"Sudah, cukup!" bentak Bu Hesti kuat dan kelas kembali hening lagi. "Kalian jangan banyak ngoceh, ibu gak perlu kalian atur!" Hahaha, bagus, bentakan yang mantap.

King's Obsession (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang