9. Malam Pertama

471 15 0
                                        

Sejak hari itu berlalu, hampir semua orang mengetahui kalau aku dan Julina resmi pacaran. Awalnya aku memang tidak menyukai gagasan tersebut dan selalu menyangkalnya dengan berkata kami hanya berteman atau yang lainnya. Tapi lama-lama bersama dirinya, ternyata lumayan menyenangkan juga. Dia tidak matre, apalagi setelah mengetahui latar belakangku ia tidak minta putus, malah sebisa mungkin hemat dan tidak mengeluarkan terlalu banyak biaya untuk berkencan. Selain itu sifatnya juga dewasa dan punya bawaan tenang, walau kadang centil mirip anak kecil waktu di dekatku. Oh ya, dia cepat cemburuan dan selalu membuat wajah yang menggemaskan bagiku waktu sedang ngambek karena cemburu. Dari segala sisi yang kulihat, aku menyukainya, tapi aku tidak mencintainya. Jadi secara pelan-pelan, aku kini mulai berusaha untuk mencintainya seperti saat aku mencintai Freya.

Dan seperti biasanya, hari ini ia menungguku lagi di depan kelasku begitu selesai.

"Elwin," panggilnya saat melihatku keluar dari kelas. Aku langsung tersenyum ketika melihatnya, tanpa ada niat untuk tebar pesona ataupun sebagai sampul saja. "Hei, Jul," balasku sambil mendekatinya, "sudah lama menunggu?"

Ia menyengir dengan lebar kepadaku, "Tidak kok, aku juga baru saja selesai," ucapnya lalu seperti biasa juga, memeluk lenganku, "aku lapar nih, kita pergi makan yuk."

"Kamu tidak ada kelas lagi?" tanyaku dan ia menggeleng. Aku kembali tersenyum. "Ok deh, aku juga tidak ada lagi. Kita makan di luar saja yuk," ajakku dan kami pun beranjak pergi.

Seperti pasangan lainnya, kami makan bersama dengan mesra. Hmm.. tidak juga, lebih banyak humor sepertinya, dengan saling mengerjai dan balas dengan makanan. Sesudah makan, kami memutuskan untuk berjalan-jalan karena kebetulan tempat makan yang kupilih dekat dengan taman. Ia yang sebagai murid jurusan kedokteran, yang umumnya banyak meramun obat dan sejenisnya, di sana ia menjelaskan banyak arti-arti dan kegunaan tumbuhan tertentu. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa tertarik seperti itu, sampai-sampai aku bolos kerja hari ini dan menemani ia seharian penuh hanya untuk berduaan dan berbincang-bincang banyak hal.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Tadinya yang masih terang benderang karena terik matahari kini sudah gelap. Karena sudah malam, aku memutuskan untuk mengantarnya pulang dengan motor pribadiku hasil jerih payahku sendiri.

Sekitar 30 menit kemudian, kami sampai juga di tempat tujuan, rumahnya. Ia tinggal di sebuah apartemen karena rumah orang tuanya jauh dari sini dan akan merepotkan kalau harus bolak-balik melulu. "Sudah sampai," ucapku memperingatinya, sebab ia tetap memelukku erat walau aku sudah menghentikan motorku.

"Kok cepat betul sih?" sahutnya seraya cemberutan, "aku masih ingin bersamamu," lanjutnya ngotot tidak mau turun dari motor.

"Julina sayang, ini sudah malam lho, pulang ya?" tanyaku padanya dengan nada yang sangat dibuat-buat seperti kepada anak kecil, tapi percuma saja karena ia tetap memelukku erat sambil cemberutan. Tak bisa pakai halus, sekarang aku pakai kasar. Dengan tajam aku menatap kedua matanya dan tak lupa berkacak pinggang biar kelihatan tambah garang. "Julina," panggilku dengan nada yang sengaja dibuat rendah.

"Iya, iya, aku turun," ucapnya dengan setengah hati lalu turun dari motorku. Setelah melambai tangannya padaku, ia berjalan dengan lesu kembali ke apartemennya. Setelah melihatnya pergi, sebenarnya aku sudah ingin menghidupkan kembali motorku, tapi sebuah suara juga pelukan menghentikanku. "Tunggu!!"

Aku menghentikan aksiku untuk menghidupkan motor lalu kembali menatapnya lagi dengan kesal. "Apa lagi?"

"Aku tidak boleh keluar malam tapi kamu boleh kan? Kalau begitu kamu mampir saja ke rumahku, ya? Ya?" Julina tampak sangat antusias mengajakku ke rumahnya, bahkan sebelum aku menjawabnya ia sudah keburu menarikku masuk. Ya deh, pasrah saja, tidak bakalan dimarah juga sih kalau aku pulang telat.

King's Obsession (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang