Gerbang sekolah ada 3 meteran lebih jauhnya di depan mata. Di bawah sinar mentari yang lumayan terik pagi ini, aku berdiri seorang diri dengan lesu. Ini sudah kesekian kalinya aku mendesah dengan berat.
Setelah kecelakaan itu terjadi, kehidupanku langsung berubah menjadi buruk. Tidak ada satupun hal yang menarik terjadi di kehidupanku. Merasa kurang menyenangkan, aku lagi-lagi bertingkah lalai dan membuat hidupku menjadi lebih hancur kali ini. Ingin rasanya detik ini juga aku membalikkan badanku, pulang ke rumah, dan tak akan datang lagi ke sini. Namun setiap aku melakukan hal ini, sosok Pak Arif terus muncul di benakku, berusaha membuatku untuk terus bertahan di sekolah gila ini.
Maka, aku yang lagi-lagi mendesah, memutuskan untuk menggerakkan kakiku memasuki gedung penuh perangkap mematikan itu. Baru saja aku ingin melewati gerbang sekolah, sebuah suara menghentikanku.
"Selamat pagi!"
Aku menoleh ke arah datangnya suara. Aku melihat Freya yang sekarang sedang berlari menuju ke arahku. "Gue sudah menunggu lo dari tadi," lanjutnya.
Aku mengerutkan keningku, bingung. "Buat apa lo nunggu gue?" tanyaku.
"Soalnya gue takut...lo gak akan datang lagi ke sekolah."
"Kenapa?"
Ia mengangkat kepalanya menatap gedung sekolah. "Setelah mendengar apa yang lo bilang ke gue kemarin tentang hari-hari lo setelah kecelakaan itu, gue bisa mengerti lo sangat berhati-hati dan berusaha untuk menjaga jarak dengan Brian dan Thomas. Tapi setelah apa yang terjadi kemarin, gue tahu hari-hari lo tidak akan menyenangkan, bahkan lebih parahnya semakin memburuk," katanya panjang lebar.
Aku semakin bingung padanya. "Terus?"
Ia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum padaku lalu menarikku masuk ke sekolah. "Makanya, gue ada di sini untuk lo!"
Aku mengerutkan keningku lagi. Apa yang sedang dikatakan bocah ini? Aku tidak mengerti!
Mula-mula semuanya masih tanda tanya bagiku. Namun tidak lama, jawaban yang membuatku begitu penasaran langsung keluar dengan sendirinya.
Saat ini lengan Freya melingkari lenganku. Gara-gara itu, semua pasang mata yang ada di sekitar kami menatap kami dengan tajam bahkan sampai ke sudut-sudut. Aku terganggu oleh situasi seperti ini. "Hei, kenapa lo gandeng gue? Lepaskan a—"
"Justru mulai hari ini gue harus terus menggandeng lo! Ini wajib!"
Kalau saja aku ada di dalam dunia komik, aku pasti digambarkan tanda tanya yang besar di atas kepalaku. "Apa?!" seruku.
Akhirnya, jawabannya muncul juga sekarang. Sekitar 3 menit kami berjalan, kami sudah tiba di depan kelas. Tanpa waswas Freya langsung menarikku masuk ke dalam kelas. "Selamat pagi!" serunya.
Seperti biasa, Brian selalu ingin menjadi orang pertama yang menjawab sapaannya. "Selamat pa—" dan terhenti. Sudah kuduga.
Dengan tatapan mata yang melotot, ia dan tangan kanannya –Thomas, secepat kilat menghampiri kami berdua. "Hei, gembel! Ngapain datang-datang pakai gandeng-gandeng dia? Lo mau menantang gue lagi?!"
Huh, berlagak. Itulah kata yang muncul dalam benakku setelah mendengar ucapannya. Aku bisa melihat banyak tempelan plester di wajahnya yang setengah hancur itu. Dengan wajah seperti itu masih berani menantangku? "Lo minta dihajar lagi?"
Dalam imajinasiku, dapat kulihat gunung meletus di atas kepalanya. "Hei, gue ngaku gue kalah kemarin, tapi itu karena gue kurang persiapan! Hari ini kita tanding ulang!" ancamnya dan seketika itu senyuman menyungging di bibirku.
KAMU SEDANG MEMBACA
King's Obsession (Complete)
General Fiction(Belum Revisi) "Bangkrut? Hah, syukurin lo sudah jadi gembel." "Hey, kami sudah gak takut lagi sama lo, jadi jangan harap buat nge-bully kami lagi!" "Ops sorry, orang miskin yang gak selevel gak bisa masuk ke group kami." Pada hari yang tertakdirkan...
