Di hari yang mendung ini, aku berada di antara kerumunan dan kami semua menunduk melihat tanah, tanah merah baru yang menggunung. Tepat di bagian depan gunungan tanah ini, berdiri foto Ayahku. Kami semua diam, berdoa dalam hati, kecuali aku yang keadaan hatiku sekarang sedang kosong.
Entah berapa lama kemudian, masing-masing orang mulai melangkah pergi. Aku tidak menyadari kepergian semua orang sampai aku mendengar sebuah suara yang memanggilku pelan. Aku menengadah dan melihatnya berdiri di hadapanku. Ia, dengan wajah yang sangat kecewa, menatapku. Freya.
Setitik air mata mengalir dari pelupuk matanya. “Bagaimana? Apa kamu bahagia sekarang? Ayah ... Ayah meninggal berkatmu, Win!”
Aku tidak bersuara, melainkan hanya tertunduk. Ucapannya betul. Aku tidak pernah menyangka. Begitu aku melarikan diri dari bilik itu, jantung Ayah langsung berhenti saking marah dan kecewanya kepadaku. Meski dokter sudah tiba, beliau juga tetap tidak terselamatkan. Dan semua itu, gara-gara aku.
“Kenapa?” Ia kembali bersuara dengan isakannya yang sudah khas itu. “Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak menjawabku? Kenapa?!”
Percuma. Aku tetap bergeming. Aku bisa mendengar suara tangisannya yang semakin mengeras seiring waktu. Dan tetap saja, aku diam.
“Aku ingin cerai, Win.”
Kali ini ucapannya membuahkan hasil. Aku bereaksi dengan menengadahkan wajahku menatapnya. Meskipun aku masih diam, aku mengekspresikan wajahku membentuk pertanyaan "kenapa."
Ia yang mengerti dengan ekspresiku hanya membuang muka, beralih ke kuburan Ayah. “Karena Ayahlah aku diam. Tapi karena Ayah sudah tiada, tidak ada artinya lagi aku tetap bersamamu. Kamu sudah tidak mencintaiku meskipun aku rela mati demi kamu. Aku mungkin akan mati tanpamu, tapi tanpaku, aku yakin kamu masih tetap bisa hidup seperti tiada masalah.”
Setelah ucapannya yang sangat pelan dan penuh isakan itu, ia mulai melangkah pergi meninggalkanku sendirian. Aku masih saja berdiri diam di tempat sampai-sampai hujan sudah membasahi seluruh seluk tubuhku. Aku diam.
***
Yang benar saja, surat perceraian benar-benar tiba di hadapanku kemudian harinya. Tanpa melihat pun aku tahu, Freya sangat ingin aku membacanya, lalu menghadiri persidangannya. Tapi aku memilih untuk diam, tidak mempedulikannya.
Tak ingin memikirkan soal perceraianku dengan Freya, aku memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan yang tiada henti ini. Setiap suatu pekerjaan selesai, aku mulai lagi mencari project baru, pekerjaan yang baru. Sebisa mungkin aku berusaha untuk tenggelam total ke pekerjaanku, tidak pada masalah pribadiku. Ternyata, metode yang kulakukan ini sangat berguna dan aku mulai terbiasa untuk sibuk 24 jam. Namun sayangnya, keadaan yang begitu sempurna ini tidak bertahan lama.
Di suatu hari, seperti biasanya begitu tiba di kantor, aku akan meminum segelas kopi hangat sekalian membaca koran. Aku mengira hari ini aku akan melewati hari dengan normal seperti biasa, tetapi rencanaku langsung berubah ketika aku melihat Headline koran hari ini. Kedua mataku langsung terbelalak lebar. Aku tidak bisa mempercayai apa yang telah kubaca ini, aku tidak bisa percaya! Secepat kilat aku meraih ponselku di ujung meja itu dan langsung menghubungi seseorang.
Begitu aku menyadari telepon telah diangkat, aku langsung bersuara dengan keras, “Steven, ap—“
“KAMU MASIH BERANI MENELEPONKU? KAU MAU CARI MASALAH LAGI YA?!”
Sebelum telingaku sempat terbakar karena suaranya yang saking keras itu, aku refleks menjauhkan ponsel dari telingaku. Aku mendekatkan kembali untuk berbicara. “Aku tidak mau cari masalah, tapi Lyd—“
“BACA SAJA KORANMU!!”
“Aku sudah membacanya, tapi aku tidak percaya kalau di—“
“DIA BISA BEGITU GARA-GARA KAMU, BERBAHAGIALAH, ELWIN!!”
Setelah teriakannya yang begitu keras lagi, ia langsung menutup teleponku, tidak memberiku kesempatan untuk bersuara lagi. Perlahan-lahan tanganku terasa lemas, sehingga ponselku jatuh mendarat ke lantai. Tatapan mataku berbinar-binar, pikiranku kosong. Dia bilang ... gara-gara aku? Lydia ... dia ... gara-gara aku? Karena aku, dia bunuh diri? Lydia bunuh diri gara-gara aku? Kenapa bisa begini? Kenapa? KENAPA?
“AARRGHHH!!!!!”
***
Aku tidak bisa kerja dengan tenang. Pekerjaan-pekerjaan yang begitu banyak dan menjanjikan kesuksesan itu telah terbengkalai. Aku tidak tahu lagi apa yang harus, yang bisa kulakukan. Tidak ada orang yang berada di pihakku. Tidak ada orang yang berada di sisiku. Ayah … seorang yang sangat ingin kuabdikan itu telah meninggal, gara-gara aku. Steven … ia kehilangan perusahaan, kehilangan istri, kehilangan segalanya, gara-gara aku. Ravil … dia menjadi pengangguran, gara-gara aku. Lydia … dia bunuh diri gara-gara aku. Freya .…
Dengan kuat kugelengkan kepalaku lalu meneguk botol alkohol. Aku tidak ingin memikirkan dia, tidak mau memikirkan mereka, tidak mau memikirkan apa-apa. Aku ingin melupakan semuanya.
“Halo, Elwin Sayang.”
Mendengar sebuah suara, seulas senyum langsung muncul di wajahku. Aku menyeringai kepadanya ketika ia mampir duduk di sampingku lalu memelukku. Aku kembali menyandap minumanku. “Kenapa terlambat?” tanyaku kemudian.
Melalui sudut mataku, aku bisa melihatnya merenggutkan wajahnya yang tidak bermake-up itu. Ia semakin menempelkan tubuhnya dan menggesek kedua payudaranya kepadaku. “Maafkan aku, Sayang. Tadi aku harus melayani pria sebelah sa—“
Belum juga ia sempat beralasan, dengan cekatan aku langsung menutup bibirnya dengan bibirku lalu melumatnya dalam. Ia yang awalnya sempat terkejut itu langsung membalas ciuman dadakanku tanpa ada rasa untuk menolak. Aku diam-diam tersenyum di balik ciuman itu. Wanita memang mudah digoda.
Meski lampu di ruangan ini redup dan berkesan kuning kemerahan, aku bisa melihat wajahnya yang merona merah setelah aku melepaskan ciuman kami. Ia tertunduk malu-malu. Untuk sekejap aku mengamatinya. Hari ini ia mengenakan pakaian yang ketat dan minim. Rambutnya yang lurus panjang dicat kuning kecoklatan itu tergerai lembut di hadapanku, menggodaku untuk mengelusnya lalu mencium aromanya. Ia mengerang pelan ketika aku mulai mencium lehernya.
“Jangan, Elwin ....”
Masih sambil mendekapinya erat, aku berbisik kepadanya, “Aku tidak akan membiarkanmu melayani pria lain lagi. Jadilah milikku.”
Semuanya meninggalkanku? Tidak. Akulah yang memilih. Akulah yang meninggalkan mereka semua. Akulah yang berkuasa atas segalanya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
King's Obsession (Complete)
General Fiction(Belum Revisi) "Bangkrut? Hah, syukurin lo sudah jadi gembel." "Hey, kami sudah gak takut lagi sama lo, jadi jangan harap buat nge-bully kami lagi!" "Ops sorry, orang miskin yang gak selevel gak bisa masuk ke group kami." Pada hari yang tertakdirkan...
